Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Selamat



Dor.


Senjata api yang berada di tangan Antonio langsung terpental begitu saja, saat peluru yang di lepaskan mengarah tepat pada senjata yang di acungkan pada Henry.


Mereka menoleh ke arah pintu di mana para anggota itu langsung berdiri tepat di belakang pengawal keluarga Leneva, termasuk Antonio.


Sedangkan Aron dengan sigap di menodongkan senjata nya pada Henry yang masih terikat di kursi.


"Buang semua senjata kalian, atau kepala nya akan meledak"


Daniel mengkode para anak buahnya untuk mengikuti apa yang di perintahkan oleh paman nya itu, dia melempar senjata ke lantai lalu mengangkat kedua tangannya.


mereka yang melihat bahwa pasukan yang di kirim Alessandro itu tidak pantas untuk melawan mereka, baru di gertak sedikit saja mereka langsung tunduk begitu saja tanpa ada perlawanan.


"Bagus, tetap seperti itu jika kalian tidak ingin tuan muda kalian ini mati di tangan ku"


"Ternyata hanya seperti ini pasukan yang di andalkan oleh Alessandro, yang hanya bermental bayi, sedikit di gertak langsung lembek seperti tahu" ejek Aron lagi.


"Kalau saja aku tahu sejak dulu, pasti sudah aku hancurkan sejak dulu, hahahahahah"


"Kamu benar, aku tidak perlu menunggu waktu selama ini jika mereka ternyata hanya pasukan ingusan yang baru lepas popok"


Hahahaha......


Daniel mengangguk saat salah satu di antara pasukan milik nya itu menatap ke arah nya, dengan cepat tapi penuh pertimbangan, salah satu dari mereka melepaskan bom asap yang membuat pandangan menjadi buram di sana.


Mereka langsung menangkap lawan mereka yang tidak bisa melihat apapun karena jarak pandang yang terbatas.


Daniel mendekat ke arah kakak nya lalu melepaskan ikatan yang ada di kedua kakinya kakak nya itu.


"Kamu baik-baik saja kak?"


"Daniel, kamu kah itu"


"Heem, ayo kita pergi dari sini, biarkan mereka di urus oleh pasukan ku dan pengawal Papa"


"Ayo"


Henry bangkit dari duduknya dia berjalan mengikuti kemana adik nya itu membawa nya, dia tidak bisa berjalan sendiri, karena tidak ada penerangan di tambah asap tipis yang berasal dari Bom yang mereka ledak kan.


"Lapor komandan, salah satu tersangka berhasil kabur dan masih dalam pengejaran"


"Kejar dia sampai dapat, bawah ke markas besar saat sudah tertangkap, jangan biarkan dia lolos, karena dia kunci utama dari kasus ini"


"Siap komandan"


Daniel langsung membawa kakak nya itu pergi dari sana dengan menggunakan helikopter yang sudah mereka siapkan.


Mereka pergi dari sana setelah berhasil menangkap sebagian besar dari pengacau itu, kini tinggal satu saja yang kabur dan dia yakin sebentar lagi pasti akan tertangkap.


Mereka turun di landasan yang ada di markas besar yang mana seluruh anggota keluarga ada di sana, Henry turun dari sama mengikuti adik nya itu yang tahu tentang seluk beluk tempat tersebut.


Kini mereka sudah ada di salah satu ruangan di mana mereka semua terlihat cemas dengan semua yang terjadi, terlebih papa San yang tidak bisa tinggal diam saat kedua putranya itu dalam bahaya.


"Papaaaa" teriak Nathan dan juga Nicholas saat melihat papa nya itu datang bersama seseorang yang tidak dia kenali


Henry pun mendekat lalu berjongkok di hadapan kedua putranya yang langsung memeluk nya, Namun tatapan nya tetep mengarah pada sosok yang kini berdiri di samping Oma nya.


Mama Melly yang juga baru saja terselamatkan dari penculikan itu pun menatap pria yang menatap penuh kerinduan pada nya.


"Ma, aku pulang"


Tangis mama Melly tidak terbendung lagi saat tahu siapa yang kini berada di depan nya, putra nya telah kembali setelah sekian tahun tidak pernah terlihat oleh mata nya.


"Niel, juga merindukan mama" jawab Daniel membalas pelukan Mama nya.


Lama mereka saling berpelukan, bahkan mama Melly terus saja menciumi putra nya itu.


"Kita lihat saja kak, jika anak bontot nya itu sudah pulang pasti kita tidak akan di peduli kan lagi"


"Kamu benar, semuanya hanya Niel, Niel dan Neil" tambah Henry yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari mama nya.


"Ya sudah aku pergi lagi saja, aku pulang juga tidak ada yang merindukan ku"


"Kalian ini saudaranya pulang bukan nya bahagia malah mengatakan yang tidak-tidak"


"Dan kamu lagi Henry bukan nya berterima kasih sudah di selamat kan malah mencaci adik mu"


Marah mama Melly pad Henry yang sama sekali tidak mendengar apa yang di katakan mama nya itu, dia malah bermain bersama kedua putra nya itu.


Papa San yang melihat itu menggeram kesal pada putranya itu, bisa-bisanya dia begitu santai menghadapi semua nya, sedangkan dia sudah sekali melenyapkan mereka semua.


"Kak, tidak kah kamu merindukan adik mu yang tampan ini"


"Siapa bilang aku tidak merindukan mu, asalkan jangan memonopoli mama saja"


"Kemari my husband boy" ucap Jessica yang merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan adi nya itu.


Tapi belum sempat mereka saling memeluk, tangan Morgan tepat berada di wajah mencegah Daniel yang ingin memeluk istrinya.


"My king lepas, dia adik ku yang sering aku ceritakan"


"Siapa pun dia, yang pasti aku tidak suka kemu di peluk oleh laki-laki lain, apa lagi di depan mata ku" protes Morgan pada istrinya


"Siapa dia kak"


"Dia suamiku"


"kenapa kakak mau dengan laki-laki seperti dia"


"Hey, apa maksudmu, memang salah kalau aku menikah dengan nya"


"Kalau aku tahu kamu yang menikahi kakak ku, aku orang pertama yang akan menggagalkan nya"


"Brengsek" Morgan pun langsung mencengkeram seragam yang di gunakan oleh Daniel.


"Katakan sekali lagi, aku pasti kan kamu akan ku buat tidak bisa berjalan lagi, aku tidak takut meski pun kamu seorang anggota"


"Ayo lakukan saja" tantang Daniel yang kini melepaskan helm berserta penutup wajah nya.


Morgan langsung melepaskan tangannya saat melihat siapa lawan nya, dia langsung mundur kebelakang, mengambil langkah tegap dan memberikan hormat pada komandan nya yang tak lain adalah adik ipar nya sendiri.


"Siap salah, komandan" ucap nya lantang


"Kalian saling mengenal?" tanya Jessica pada kedua pria di depan nya itu.


Sedangkan kedua nya masih sama-sama diam tanpa ada yang mengatakan apapun, bahkan Morgan tetap pada posisi hormat nya pada Daniel yang menatap kearah kakak perempuan nya.


Bahkan ke tiga keponakan nya itu juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Morgan, yang mengundang perhatian semua orang yang ada di sana.


🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Jagan lupa mampir ke karya teman ku juga ya 👇👇👇👇👇👇