
Papa San keluar dari ruang rawat cucu nya itu lalu pergi menuju tempat di mana putra pertamanya itu berada.
Raut wajahnya sudah menunjukkan bahwa dia tidak akan pernah mengampuni putra nya itu, dia heran pada putranya itu yang begitu di butakan oleh seorang yang sejak dulu menjadi musuh keluarga mereka.
Jadi bukan tanpa alasan kenapa dia menentang keras keinginan putranya itu itu menikah dengan salah satu keluarga Leneva.
Kini papa San sudah berada di lobby salah satu apartemen mewah milik nya, di naik ke lantai atas presiden suite, lantai yang di khususkan hanya untuk anggota keluarga Keith.
Sampai di sana dia langsung meminta Peter untuk membuka pintu itu, deretan angka kini berbaris rapi membongkar kode password yang di pasang oleh pemiliknya.
Bukan hal yang sulit bagi Peter untuk membobol password yang sebenarnya bisa di tebak berapa angka nya, bukan tanpa alasan Peter melakukan itu, dia hanya tidak ingin Tuan besar nya bertambah murka.
Pintu sudah terbuka lebar tanpa menghiraukan Peter yang masih menutup pintu, Papa San langsung masuk ke dalam menuju salah satu kamar yang ada di sana.
Ceklek.
Amarah Papa San langsung tidak lagi bisa di bendung saat melihat dengan mata kepala sendiri, apa yang selama ini hanya dia tahu dari orang-orangnya.
Kini di depan matanya, putra nya itu tengah tertidur dengan nyenyak sambil memeluk tubuh wanita yang bukan istrinya, dia sangat yakin apa yang terjadi sebelum nya.
Dia langsung menghampiri Henry dan memberikan satu Bogeman mentah tepat di wajah putra nya.
Sontak saja dua orang yang tengah terlelap itu langsung terkejut, dan langsung menutup tubuh mereka dengan selimut yang ada.
"Aku menyesal dulu telah memiliki anak seperti mu, kelakuan mu ini sungguh tidak mencerminkan kepribadian seseorang yang berpendidikan tinggi!"
"Harus dengan cara apa lagi aku membuat mu membuka mata Henry!"
"Sudah aku katakan pada Papa kalau aku tidak mencintai Naomi, tapi papa terus saja memaksa ku untuk menikahi nya!"
"Hanya dia yang pantas menjadi Nyonya selanjutnya di keluarga Keith"
"Pantas menurut Papa belum tentu pantas menurut ku"
"Lalu siapa yang pantas menggantikan posisi Mama mu sebagai Nyonya besar Keith!"
"Aku punya pilihan sendiri Pa, Papa tidak bisa memaksa ku untuk mencintai wanita yang sama sekali tidak aku inginkan!"
"Siapa pilihan mu, wanita yang ada di samping mu ini, wanita yang sudah punya suami tapi masih saja mengejar suami orang, iya!"
"Aku tidak peduli pa, ini hidup ku dan aku berhak menentukan pilihan dengan siapa aku menghabiskan umur ku!"
"Baik lakukan apa yang ingin kau lakukan tapi ingat saat dia meninggal mu nanti jangan pernah mengemis pada ku, atau meminta kembali pada Naomi"
"Dia tidak akan meninggalkan aku, kami saling mencintai dan karena kalian lah para orang tua yang memisahkan cinta kami,"
"Kalian hanya mementingkan dendam yang di masa lalu yang sama sekali tidak akan pernah terjadi sekarang!"
"Berani kau mengeraskan suara pada papa mu sendiri, Henry" teriak papa San yang sudah di kuasai oleh amarah nya.
" ingat satu hal ini, jangan sampai kamu menyesal karena sikap mu yang arogan dan menyakiti Naomi"
"Suatu saat kamu pasti akan mendapatkan karma atas apa yang kamu lakukan padanya!"
"Me Amore kenapa papa mu itu mengatakan bahwa aku batu kali padahal bukan aku yang meninggalkan mu,!"
Hiks
hiks
hiks
"Ini tidak adik untuk ku, mungkin ada apa yang di katakan papa mertua ada benar nya, aku hanya batu kali yang tidak pantas bersanding dengan mu" ucap Erika yang kini mendramatisir keadaan.
"Tidak me Amore kamu batu berlian ku tidak ada yang bisa menggantikan posisi mu di hatiku, percaya lah pada ku!" ucap Henry yang kini memeluk tubuh telanjang Erika yang hanya ditutupi menggunakan selimut.
"Menjijikkan, aku berharap pada yang kuasa agar semua keturunan ku tidak ada yang menuruni sifat mu!"
"Ayo Peter kita pergi dari sini, lama-lama berada di sini nanti aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak melenyapkan mereka berdua!"
Papa San berbalik menuju pintu dan keluar dari sana tanpa menoleh kembali di ikuti oleh Peter yang kini sudah berada di samping nya.
Mereka kini pergi ke kantor, banyak pekerjaan yang harus mereka lakukan, belum lagi masalah yang di buat oleh Henry tadi.
...****************...
Sementara di rumah sakit Mama Melly berulang kali menghubungi Henry yang sejak tadi tidak menjawab panggilan dari nya.
"Kemana suami mu itu, tidak kah dia ingin melihat putra nya!"
Naomi hanya diam tanpa menjawab ucapan mertua nya itu, dia mungkin saja tahu di mana suaminya itu berada tapi dia tidak mau mengatakan nya, dia takut kalau apa yang di ucapkan nya itu nanti malah menambah memperburuk keadaan.
Jadi dia lebih memilih diam, apa lagi suaminya itu kini meragukan siapa anak dari putra keduanya, meski dia yakin seratus persen kalau kedua putranya itu berasal dari benih suaminya.
Dia hanya bisa terdiam saja tadi saat dokter mengatakan bahwa tes DNA akan di lakukan setelah Nicholas sadar, harapan satu-satunya tidak ada manipulasi data yang di lakukan oleh rubah betina itu.
Mama Melly pun menyadari perubahan wajah dari menantu nya itu, dia tahu apa yang saat ini di cemas kan oleh Naomi, Mama Melly pun menghampiri nya lalu memeluk wanita yang selalu saja di sakit oleh putranya itu.
"Tidak perlu khawatir menantu ku, Mama dan Papa akan selalu berada di pihak mu!"
"Aku tahu apa yang kamu rasakan!"
Naomi yang tadi nya menahan dirinya untuk tidak menangis pun kini tidak lagi bisa menahan nya, dia menangis di pelukan Mama mertuanya itu.
Dia sangat bersyukur meski pun suaminya itu tidak memperlakukan nya dengan baik tapi seluruh anggota keluarga nya begitu baik dan dengan tulus menyayangi nya.
Andai saja kedua mertuanya serta saudara suaminya juga memperlakukan nya seperti suaminya mungkin dia sudah memilih untuk berpisah meski harus berpisah dengan kedua putra nya.
"Maafkan anak Mama yang selalu menyakiti hati mu Naomi!"
"Bersabarlah, suatu saat suami mu itu pasti akan berubah dan menjadi suami serta ayah yang baik untuk keluarga kalian!"
Naomi hanya mengangguk dia tidak sanggup untuk menjawabnya, dia ingin menyerah tapi dia masih memikirkan nasib kedua putranya yang begitu dekat dengan Papa nya.
"Maaaa"