Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Bertemu dengan nya



Papa San merasa lega beberapa waktu ini karena dia melihat putra nya itu sudah tidak lagi berhubungan dengan wanita ular itu, dan putra nya itu benar-benar membuktikan perkataan nya bahwa tidak akan lagi ada wanita lain di tengah-tengah mereka.


Lega sekaligus jengkel pada putra nya itu, yang mana sekarang lebih banyak waktu nya untuk di habiskan bersama keluarga kecil nya.


Seperti saat ini pekerjaan nya menumpuk akibat ulah putranya itu yang memilih menemani istrinya berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan milik nya.


"Tuan proposal yang akan di ajukan untuk besok belum saya terima, mungkin masih berada di ruang Tuan Henry"


Mendengar itu Papa San memijat pangkal hidung nya dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan pekerjaan nya banyak, sedangkan anak nya itu sama sekali tidak peduli.


"Bawa semua berkas yang ada di meja kerja nya bawa ke sini, aku yang akan menandatangani nya"


"Baik Tuan saya permisi"


Papa San membuang nafas nya saat Asisten pribadi nya itu keluar dari sana, dia merasa bebas nya bukan malah berkurang malah semakin bertambah saja.


"Aku pikir saat aku sudah tua aku bisa duduk manis di rumah, bermanja dengan istri ku, bukan malah seperti di manjakan oleh tumbukan berkas yang tidak ada habis nya" ucap nya bermonolog


"My big boy"


"Mama kenapa kemari?" tanya papa San saat melihat istrinya masuk ke dalam ruang kerja nya.


"Apa aku tidak boleh datang ke kantor suami ku sendiri?"


"Bukan seperti itu, hanya saja tidak biasa nya kamu datang, hheeemmmm"


"Ada apa?"


" Tidak ada aku hanya ingin menemani bekerja saja"


"Tapi dengan siapa ketiga cucu mu"


"Dengan baby sitter masing-masing, aku merasa beberapa hari ini, aku melupakan mu" ucap Mama Melly sambil memeluk suaminya.


"Katakan saja jika kamu rindu"


"Memang"


"Lepaskan dulu, ada orang yang akan masuk ke sini"


Dengan cepat Mama Melly melepaskan pelukannya dan duduk di sofa yang ada di sana, dan benar saja tidak lama kemudian Asisten pribadi nya itu masuk membawa tumpukan dokumen yang ada di tangan nya.


"Pelajari sebagian, jika sudah bawa ke sini aku Kana langsung menandatangani nya"


"Baik Tuan"


"Selamat siang Nyonya" sapa nya pada Nyonya besar nya itu.


"Siang Ferry, bagaimana semua berjalan lancar bukan?"


"Iya Nyonya" jawab nya sambil meletakkan tumpukan dokumen itu.


"Kenapa kamu memberikan suami ku banyak sekali pekerjaan?"


"Itu ulah anak mu yang sedang bucin pada istri nya itu, kenapa juga baru sekarang dia menyadarinya, saat sudah berbuntut dua"


"Biarkan saja jangan mengusik mereka"


"Saya permisi Tuan Nyonya" pamit Ferry yang tidak ingin terlibat dalam urusan rumah tangga atasannya.


"Tutup pintu Fer" perintah Papa San pada asisten nya itu.


"Bantu aku mengerjakan semua nya"


Haaah


"Jangan bercanda atau tidak mengerti apa pun tentang perusahaan"


Papa San menyeringai penuh maksud saat mendengar jawaban dari istri nya, sedangkan Mama Melly yang melihat itu memutar bola mata malas nya saat tahu apa yang ada di isi kepala suami nya itu.


"Menyesal aku datang kemari"


"Menyenangkan suami itu tidak ada salah nya"


"Aku tidak peduli dua belas sekali pun" ucap nya yang langsung mengangkat istri nya itu masuk ke dalam kamar pribadi nya.


......................


Sementara di pusat perbelanjaan Henry tengah mengandeng tangan istrinya itu bahkan sesekali dia mencium tangan Naomi, banyak diantara pengunjung yang melirik pada mereka dan itu membuat Naomi merasa tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian.


"Suami ku mereka memperhatikan kita, jangan seperti ini" ucap Naomi yang sama sekali tidak di hiraukan oleh Henry.


"Biarkan saja mereka mungkin itu pada kita"


Naomi dia tidak menjawab apa yang di katakan oleh suaminya, dia masih sangat waras untuk mendebat nya di keramaian seperti ini.


"Aku ingin ke toilet sebentar"


"Ayo aku antar"


Naomi mengangguk setuju akan sangat percuma jika dia menolak dan pastinya akan menjadi panjang urusan nya, jadi biarkan saja suami itu melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Naomi masuk ke dalam toilet yang ada di sana, dan Henry menunggu nya di depan pintu masuk itu, dari menyandarkan tubuhnya di tembok dengan tangan yang sesekali mengusap panjangnya


Sungguh pesona suami orang tidak bisa di anggap remeh meski kaos putih polos di padu dengan celana jeans sebatas lutut senada dengan sport shoes yang dia pakai menambah pesona bapak dua anak ini.



"Me Amore"


Henry yang mendengar suara itu pun langsung menoleh pada wanita yang berdiri tidak jauh dari nya itu, wanita yang ingin dia lupakan tapi malah bertemu di sini di saat yang tidak tepat.


Bagaimana ini bisa terjadi, apa jadi nya kalau istrinya itu melihat nya bersama dengan wanita yang membuat istri cantik nya itu merasakan sakit hati karena perselingkuhannya.


"Erika apa yang kamu lakukan di sini"


"Kenapa, kenapa kamu tidak senang aku sudah kembali"


"Tapi kita sudah sepakat untuk tidak lagi menjalin hubungan"


"Tapi aku tidak bisa, aku masih sangat mencintai mu"


"Jangan bilang kalau kamu juga akan meninggalkan aku juga, aku sudah tidak punya siapa pun lagi saat ini"


"Apa maksudmu?" tanya Henry dengan alis yang terangkat.


"Aku sudah bercerai dengan Benny"


"Apa kenapa kamu bisa bercerai dengan nya?"


"Karena aku lebih memilih hidup dengan mu dari pada dengannya"


"Apa kamu sudah gila, saat ini aku sedang membangun kembali rumah tangga ku yang dulu hancur"


"Aku tidak peduli, yang pasti aku ingin kamu segera bercerai lalu menikah dengan ku"


"Itu tidak mungkin karena aku sangat mencintai istri ku"


Erika tersenyum sinis saat mendengar kalimat yang menurutnya menggelikan untuk nya, tidak ingat kah Henry jika dia juga mengatakan hal yang sama pada nya.


Saat dia sudah mengorbankan semua, Henry dengan enteng nya mengatakan kalau mencintai istri nya.


Enak saja, Erika tidak akan membiarkan itu semua terjadi Henry harus kembali jatuh dalam pelukan nya, apa pun itu cara nya dia harus bisa membuat Henry bertekuk lutut di bawah kaki nya.


Apa yang sebenarnya di lakukan wanita itu hingga dengan mudah nya membuat Henry melepaskan nya, dia yang selama ini menemani nya kenapa dia yang terbuang.


Tes,


"Baik lah jika itu yang kamu inginkan aku akan pergi dari kehidupan mu aku tidak akan mencari mu lagi"


"Biarkan anak yang tengah aku kandung ini tidak pernah tahu siapa papa nya"


Klutak