Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Tidak cukup kah hanya aku



Henry mendadak panik saat air mata istrinya itu jatuh mengenai tangan nya yang sedang menyuapkan makanan ku mulut nya.


Ya dia melakukan apa yang di inginkan oleh istri nya itu, tapi kenapa dia masih menangis apa dia melakukan kesalahan lagi Ingga membuat istri nya itu kembali menjatuhkan air mata nya.


"Kenapa menangis, katakan apa salah ku?" tanya Henry sambil mengusap air matanya.


"Tidak cukupkah hanya aku saja" ucap Naomi yang menatap dalam suaminya itu.


"Ha, apa maksud nya?"


"Tidak cukup kah aku saja yang menjadi tempat mu melepaskan benih mu, apa tubuh ini tidak cukup memuaskan mu, hingga kamu masih mau mencari Erika- Erika yang lain"


Henry menggelengkan saat mendengar apa yang di katakan oleh istri nya, jadi Naomi mengira kalau dia tidak pulang malam ini karena ingin mencari kepuasan yang lain begitu.


Sedalam itu kah dia menyakiti istri nya itu hingga dia tidak memiliki kepercayaan pada nya, tapi jika ingat kembali tidak ada yang bisa membuat nya mendapatkan kepercayaan dari istri nya dengan segala kelakuannya selama hampir enam tahun pernikahan mereka.


"Dengar kan aku, aku mengakui semua kesalahanku jadi bisa sedikit saja percaya pada ku, percaya jika mulai saat ini kita adalah satu tidak akan ada lagi orang lain di antara kita"


Naomi mengangguk dia akan membangun kembali kepercayaan yang telah habis terkikis oleh perselingkuhan suaminya itu.


"Lalu bagaimana kalau aku ingin....."


Naomi terdiam, wajah nya memerah saat menyadari apa yang akan dia katakan, sedangkan Henry merasa ini lah sifat yang selama ini tidak dia ketahui atau mungkin tidak dia sadar bahwa istri nya itu adalah wanita manja yang selalu merindukan kasih sayang.


"Maksud ku, bagaimana kalau anak-anak mencari dan tidak mau tidur jika tidak bersama papa nya" ucap Naomi meralat ucapan nya sendiri.


"Anak-anak atau Mama nya anak-anak?" tanya Henry dengan senyum mengejek.


"Ayo katakan saja, jangan malu" goda nya lagi, entah lah dia merasa ada kesenangan tersendiri saat melihat wajah istri nya itu bersemu merah karena malu saat dia menggoda nya seperti ini.


"Tentu saja kedua putra mu itu, aku yang mengandung dan melahirkan mereka, tapi jika ada papa nya di samping aku sama sekali tidak terlihat" ucap nya mengeluarkan kekesalannya.


"Ya sudah aku tidak akan pulang malam ini jadi kamu bisa sepuasnya bersama mereka"


"Jangan pulang seterusnya kalau begitu" ucap Naomi yang kesal karena suaminya itu terus saja menggoda nya.


"Katakan saja jika memang sudah ada janji" ucap nya sambil menolak suapan nasi dari tangan Henry.


"Maafkan aku aku benar-benar ada janji makan ini, kalau tidak dia pasti akan marah padaku, dan aku tidak mau menerima kemarahan nya" ucap Henry lagi.


"Terserah, lakukan saja apa yang membuat mu bahagia, karena pada kenyataannya aku tidak akan pernah cukup untuk mu" ucap Naomi dengan jengkel nya dia berdiri dari sana, dia ingin pulang saja dan tidak lagi ingin melihat suaminya itu.


Henry yang melihat itu malah tersenyum saat Melihat istri nya itu marah pada nya, mungkin mulai saat ini dia akan memiliki kebiasaan baru, ya apa lagi jika bukan ma jahil istrinya itu.


Baru tiga langkah Naomi berjalan menjauh, tangannya sudah di raih oleh Henry dan membawa wanita nya itu kedalam pelukannya, dia tetap memeluk Naomi meski ibu dia orang anak itu terus berontak dalam dekapan nya.


"Lepas"


"Kenapa marah hhem" Tanya Henry yang masih memeluk erat istri nya.


"Aku tidak marah, aku mau pulang supaya kamu bisa segera pergi menemui nya"


"Menemui siapa?" tanya Henry yang sangat bahagia saat apa yang di katakan mama nya itu benar ada nya, benar jika Naomi mencintai nya.


"Kamu lihat itu?" kata Henry sambil menunjuk ke arah meja kerja nya yang penuh dengan dokumen yang harus dia tanda tangani.


"Aku harus menyelesaikan nya malam ini juga, kalau tidak papa mertua mu yang suka mengancam itu akan melakukan apa yang di ucapkan nya tadi"


"Jadi jangan berpikiran macam-macam, kalau aku membawa nya pulang mertua mu itu akan kembali dokumen yang harus teliti dan tidak akan ada habisnya"


"Bisa percaya padaku" ucap nya lagi sambil menangkup kedua pipi Naomi dan mencium bibir nya.


"Boleh aku bantu"


"Memangnya kenapa kamu meragukan ku!"


"Bukan seperti itu hanya saja, kamu akan kelelahan saat sampai di rumah"


"Aku tidak lelah dan aku mau membantu suamiku"


"Anak-anak bagaimana"


"Ada Mama, apa lagi yang ingin kamu buat alasan untuk menolak ku"


"Baik lah kita kerjakan bersama setelah itu kita pulang bersama"


"Let's go"


"Habiskan dulu makanannya"


"Aku kenyang kamu saja yang makan , aku ingin mandi badan ku terasa lengket"


"Mandi lah aku menunggu mu" ucap Henry yang kini sedang menghabiskan makanan itu.


"Aku membelikan mu beberapa baju, coba lah"


Naomi masuk kedalam kamar mandi dengan cepat dia membasuh tubuh, lalu keluar dari sana, dia mendekati paperbag yang berisi Kam sebuah gaun santai cantik keluar merk terkenal.


ceklek.


Naomi menghentikan kegiatan tangan nya yang ingin membuka handuk yang menutupi tubuh mulus nya, saat melihat pintu di buka dari luar, yang ternyata suaminya itu yang masuk.


"Kenapa tidak jadi membuka nya"


"Ada serigala yang masuk aku takutkan tubuh ku yang seperti macan tutul ini di serang lagi oleh nya"


"Hey berani sekali menyamakan aku dengan hewan"


"kenyataan begitu lihat ini semua ini, ini ,dan ini" ucap Naomi sambil menunjuk ruam-ruam merah yang ada di sekitar dadanya yang tidak tertutup oleh handuk.


Kalau handuk itu di buka pasti akan terlihat berapa banyak nya stempel cinta dari suaminya itu, sementara Henry dia menyunggingkan senyum dia merasa bangga bisa melakukan nya pada istri.


Sesuatu yang sejak dulu ingin dia lakukan tapi tidak bisa,


Kenapa tidak bisa itu karena dia ingin melakukan nya pada Erika bukan pada Naomi.


Henry mendekat ke arah Naomi yang kini berjalan mundur, di tatap tubuh istrinya itu kembali penuh dengan minat, minat untuk memuaskan dahaganya yang tidak pernah ada kata puas nya.


Sedangkan Naomi dia merasa panik saat kembali di tetap seperti itu oleh suaminya, bahkan dia menyilangkan kedua tangan nya tepat di area pabrik susu nya.


"Kamu mau apa" tanya Naomi saat dia tidak lagi bisa menghindar di belakang nya ada tembok yang menghalangi pergerakan nya.


"Kenapa panik sayang"


Eeehhh.


Apa tadi suami itu memanggil nya sayang bukan, tidak menyebut nama lagi kan, ini benar atau hanya mimpi saja.


Naomi mengerjap lucu sambil menatap ke wajah suaminya itu yang kini semakin mendekat ke arah nya, bahkan dia sampai memejamkan matanya, dia kembali memasrahkan diri nya pada suami nya itu.


Namun yang terjadi tidak seperti angan nya saat mendengar ucapan suaminya itu.


"HENRY JONATHAN"