Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Pingsan



Naomi tidak sanggup untuk menolak apa yang di inginkan oleh kedua laki-laki yang berusaha membuka baju nya itu, entah kenapa Naomi seperti mendapatkan bisikan untuk membantu mereka.


Bahkan kini dia mengajak kedua putranya itu untuk masuk ke dalam kamar mandi, dia menyiapkan air mandi dan tak lupa Naomi juga mengambil handuk yang dia taruh di tempat yang biasa nya, dia juga tidak menanyakan pada Henry di mana letak handuk dsn juga baju nya.


Semua dia lakukan seperti biasa bahkan tidak ada rasa canggung sama sekali, Naomi tampak tidak seperti orang yang kehilangan ingatan nya, dia mengingatkan betul bagaimana cara memandikan mereka persis seperti apa yang dulu dia lakukan.


Henry terus menatap kearah istrinya yang sedang asyik bermain bisa bersama kedua putranya, dalam hati nya merasa lega sekali, melihat tawa bahagia ketiga orang yang perjuangan kan kini.


Setidak nya meski Naomi tidak mengingat siapa mereka, dia tetap bersikap penyayang pada anak-anak, andai saja istrinya itu mengingat siapa mereka pasti lah ini akan sangat membahagiakan.


Kadang Henry berpikir mungkinkah ini adalah karma nya yang dulu menyia-nyiakan istrinya, tapi saat dia mulai menyadari isi hati nya, dia di hadapkan dengan suatu keadaan di mana di harus berjuang untuk mendapatkan hati istri yang dulu secara suka rela mencintai tapi tidak dia hiraukan.


Saat ini dia harus berjuang mendapatkan hati dan juga ingatan istrinya itu, meski dia harus menerima apa yang akan menjadi keputusan Naomi nanti nya jika dia mengingatkan semua perlakuan nya dulu.


Tapi apa pun itu, dia akan merebut kembali hati dan juga waktu dari wanita yang menjadi ibu dari anak nya, Henry yang larut dalam lamunan pun tidak menyadari kalau sejak tadi, putra pertamanya itu memanggil-manggil nama nya.


"Pa, papa tolong Mama"


"Papa"


Nathan terus memanggil Papa nya itu saat mama nya tiba-tiba pingsan saat mandikan Nicholas, sampai akhir nya Nathan keluar dari kamar mandi sambil membelitkan handuk yang ada di atas meja wastafel, dia menghampiri papa nya yang ternyata duduk di sofa ruang ganti.


"Pa, mama pa" ucap nya sambil menepuk lengan papa nya yang langsung tersadar dari lamunannya.


"Kenapa Boy?" tanya Henry saat melihat putranya itu belum selesai mandi, rambut putra nya masih penuh dengan busa yang belum di bilas.


"Mama Pa, dia jatuh di kamar mandi" ucap nya setengah ketakutan apa lagi saat dia melihat wajah Henry yang begitu panik itu meninggalkan nya di sana.


"Sayang"


Henry langsung membawa istri nya itu dalam gendongan nya keluar dari kamar mandi, dia merebahkan tubuh Naomi dia atas ranjang, sementara itu Nick, dia menangis karena Mama nya tiba-tiba tidak sadarkan diri.


"MAAAAAAAA"


"MAMAAAAAA, kemari lah Naomi pingsan"


Henry yang merasa tidak sabar pun keluar satu kamar, menuju kamar Mama nya yg aneh tidak tertutup rapat, dia masuk begitu saja dan mendapati Mama nya yang sedang duduk di depan meja rias nya.


Perhatian Mama Melly pun teralihkan saat melihat putranya itu ada di dalam kamar nya, tidak biasa nya putra pertamanya itu mau masuk ke dalam kamar nya dan itu menimbulkan tanda tanya untuk nya.


"Ada apa Henry?" tanya Mama Melly saat melihat wajah panik Henry.


"Naomi pingsan Ma"


Mereka berdua keluar dari kamar itu, menuju kamar Nathan, di sana Nathan yang masih belum selesai mandi duduk di samping ibu nya sambil memijat tangan nya, anak laki-laki berusia empat tahun itu mungkin mengerti apa yang tengah terjadi tapi dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun.


"Apa yang terjadi kenapa dia bisa pingsan Henry" bentak nya sambil berjalan menuju lemari yang di sana ada bau-bau an yang bisa membantu nya menyadarkan menantunya, tak lupa dia juga menekan tombol yang terhubung dengan lantai bawah, yang biasa di gunakan saat mereka butuh bantuan.


Sedangkan Henry dia menepuk pelan pipi Naomi yang sama sekali tidak kunjung mendapat kesadaran nya, dia pun memberikan nafas buatan yang membuat Mama Melly melotot kan mata sambil menutupi mata cucu nya yang kelewat pintar itu.


Satu kali dia kali, Naomi belum juga tersadar membuat Henry pun menyerahkan, dia kembali menepuk pipi istri, namun tiba-tiba telinga nya terasa panas akibat tarikan dari Mama nya.


"Sakit Ma"


"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, apa lagi di depan putra mu, sungguh tidak tahu ini" hardik nya pada Henry yang menatap kesal Mama nya itu, tujuan nya baik tapi kenapa Mama nya itu malah menuduhnya yang tidak-tidak.


"Aku hanya memberikan nya nafas buatan Ma, di mana salah nya"


"Aku tidak percaya itu, aku melihat kamu ******* bibir istri mu, aku tahu akal bulus mu itu yang tidak jauh beda dengan pemilik benih mu" sungut Mama Melly.


Sedangkan Papa San yang tidak tahu apa-apa itu hanya berdecak kesal saat anak-anaknya melakukan apa yang tidak di sukai istrinya itu pasti akan di samakan dengan dua, tapi saat anaknya itu berhasil dalam hal apa pun, istrinya itu akan mengaku mereka sebagai anak kebanggaan nya.


"Bawa istri mu ke rumah sakit, dia tidak akan bangun hanya karena nafas buatan mu, yang ada dia tidak akan kunjung bangun"


"Dan kamu Mama nya Daniel, bawa cucu mu itu mandi, dan susul kita ke rumah sakit nanti"


"Eeeeemmmm"


"Sayang kamu sudah sadar" ucap Naomi yang kini sudah membuka matanya secara perlahan.


"Kenapa aku ada di sini?" tanya Naomi pada Henry yang ada di dekat nya.


Kepala nya terasa nyeri yang teramat, yang dia ingat tadi dia sedang memandikan kedua anak laki-laki dan tiba-tiba dia merasa pernah melakukan itu semua, ada banyak bayangan yang melintas di kepalanya yang membuat nya tidak tahan dengan rasa sakit nya.


Bayangan itu seperti saat dirinya menikah, tak lama kemudian pengkhianatan suaminya, serta semua yang dia lupakan sejak hampir dua bulan itu terniang di kepala nya yang membuatnya tidak bisa menahan rasa sakit di kepala dan membuat dia akhirnya pingsan saat melihat Nathan yang bagai pinang di belah dua dengan papa nya itu.


Dan kini dia melihat kembali wajah laki-laki yang membuat nya merasakan kesakitan yang amat sangat, di tambah lagi saat terakhir pertengkaran mereka yang membuat nya tidak sadarkan diri itu, membuat rasa sakit itu semakin menyayat hati nya.


"Mama"


🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰


Mampir ke karya teman ku yang satu ini ya, jangan lupa di tunggu pokok nya