Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Menjadi hangat



Sejak pengakuan yang di berikan oleh Henry hubungan mereka bukan nya merenggang tapi malah semakin dekat satu sama lain, di mana Henry yang tidak lagi bersikap dingin pada istrinya itu.


Begitu juga Naomi dia tidak segan-segan untuk mencari perhatian Henry, seperti saat ini dia datang tanpa pemberitahuan pada suami nya jika dia akan datang ke kantor suami nya itu.


Ceklek.


"Bisa kah kamu lebih sopan sedikit?'" tanya Henry tanpa melihat siapa yang datang karena fokus nya pada lembaran kertas yang ada di depan nya.


"Maaf" ucap Naomi dengan perasaan bersalah karena masuk tanpa meminta izin kepada si pemilik ruangan, tadi nya dia pikir itu ruang kerja milik suaminya jadi dia tidak perlu mengetuk pintu.


"Naomi kamu ada di sini?" kata Henry yang cukup terkejut karena tidak biasa nya istri nya itu datang menemuinya di kantor.


"Masuk lah kenapa masih berdiri di sana!" kata Henry mempersilahkan istrinya itu masuk ke dalam ruang kerja nya.


Naomi berjalan mendekati suami yang kini sedang menatap ke arah nya, di berhentikan tepat di belakang meja kerja suaminya , dia datang ke kantor karena ingin makan siang bersama.


Kebetulan tadi dia baru saja menyelesaikan pekerjaan nya, lalu dia memutuskan untuk sesekali berkunjung ke kantor suami nya.


"Apa suami ku sibuk?" tanya Naomi


"Ada apa?" tanya Henry sambil mengecek laporan yang ada di tangan nya.


"Apa suami ku ada waktu untuk menemani ku makan siang, selama ini kita tidak Lee ab makan siang bersama" ucap Naomi tanpa berani menatap mata elang suami nya.


Tak.


Pena yang di pegang oleh nya heny di letak kan dengan cukup kasar hingga membuat Naomi terjingkat karena nya.


Keringat dingin mulai bermunculan di kening Naomi dia takut jika apa yang dia lakukan itu bisa memancing amarah suami yang sedang sibuk mencari uang untuk mereka semua.


"Aaakkuuu akan pergi makan siang sendiri, suami ku lanjutkan saja pekerjaan mu, aku akan kembali saja" ucap Naomi yang langsung memutar tubuh nya dan bersiap untuk keluar dari ruangan.


Namun langkah nya terhenti saat henry meraih tangan nya, Naomi kembali menatap sekilas lalu memalingkan wajahnya, melihat istrinya yang ketakutan pada nya.


Apa selama ini dia sejahat itu sampai istri nya merasa takut pada nya, apa selama ini dia sekejam itu sampai istri nya itu hingga dia ketakutan seperti ini.


"Apa selama ini aku membuat mu ketakutan seperti ini"


Naomi menggeleng dia tidak ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat hubungan mereka kembali dingin seperti sebelumnya.


"Kenapa diam?" tanya Henry sekali lagi dengan suara yang sangat lembut, bahkan dia berdiri dari duduknya lalu menghampiri istrinya.


Henry membalikkan tubuhnya istri nya agar bisa berhadapan langsung dengan nya, dia membelai wajah Naomi dengan lembut di sana.


Mereka saling menatap satu sama lain, sampai pandangan mereka sama-sama terkunci pada satu titik di mana mereka saling menginginkan nya.


Ceklek


Bunyi pintu yang terkunci mengalihkan perhatian Naomi yang tadi terfokus pada suami nya dia takut kalau apa yang mereka lakukan di ketahui banyak orang dan itu sangat memalukan sekali.


"Jangan khawatir aku yang mengunci pintu nya" ucap Henry dengan suara lembut penuh maksud di telinga Naomi.


Sontak saja apa yang di lakukan Henry membangkitkan sesuatu yang sudah lama tidak mereka lakukan, terhitung sejak mereka memutuskan untuk pisah ranjang.


Bukan mereka tapi Henry lah yang memutuskan itu semua, tubuhnya meremang saat bibir panas suaminya itu menyentuh kulit di bawah telinga nya.


"Aku akan mengabulkan keinginan mu, tapi itu tidak gratis"


"Aku juga ingin makan siang bersama tapi dengan menu yang lain"


"Katakan kamu mau makan apa?" tanya Naomi yang berusaha mewaraskan isi kepalanya yang saat ini sudah terpecah, akibat ulah nakal lidah suami nya.


"Aku mau makan kamu"


Grep


"Aaahh suami ku apa yang kamu lakukan"


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Henry dia terlalu sibuk dengan bermain pada leher istrinya itu, yang kini di baringkan di atas sofa ruang kerja nya.


Tangan terampil nya membuka semua yang menutupi apa yang di balik penutup itu dengan tergesa-gesa seakan dia tengah di kejar deadline harus segera di selesaikan.


Begitu pula dengan penutup yang menjadi penghalang di tubuh nya sendiri, mereka sama-sama sudah seperti seorang bayi yang baru saja keluar dari rahim ibu nya.


Tanpa membuang waktu lagi Henry langsung memulai semuanya tanpa memikirkan apa pun selain merengkuh kenikmatan bersama kekasih halalnya yang selama ini dia sia-siakan.


Sementara di luar ruangan itu Asisten pribadi Henry berjalan mondar mandir dia bingung apa yang harus dilakukan nya, rapat dengan seluruh jajaran direksi akan segera di mulai sepuluh menit lagi.


Namun bos nya itu malah melakukan sesuatu yang tidak mungkin dia ganggu, jika dia masih ingin bergantung hidup pada perusahaan ini.


Dia tadi ingin masuk kedalam ruang kerja Tuan nya itu, tapi di merasa aneh karena tidak biasa nya Tuan nya itu mengunci pintu ruang kerja nya.


Saat dia ingin mengetuk pintu di melihat ada pengawal pribadi Nyonya muda nya yang artinya sepasang suami istri itu ada di dalam ruang kerja tersebut.


Secara otomatis dia langsung menyimpulkan bahwa sedang terjadi gempa lokal di ruang kerja Tuan nya, ya bagaimana dia tidak berfikir ke arah sana, apa lagi dia tadi sempat mendengar suara mendayu dari dalam sana, meski kini sudah tidak lagi terdengar.


Mungkin saja Tuan nya itu menyadari kalau dia belum mengaktifkan kedap suara dan baru di hidup kan saat kondisi sudah panas.


Dia menyandarkan nya pada dinding, bingung apa yang harus dia lakukan, jika saja bukan rapat dengan jajaran penting dia bisa saja langsung mengganti kan nya, tapi ini tidak bisa dia wakil kan karena butuh tanda tangan langsung dari sang pemilik.


Mungkin nasib baik sedang berpihak pada nya, Tuan besar nya itu menghampiri dia yang sedang di buat frustasi oleh atasannya tersebut.


"Apa yang kamu lakukan di sini, bukankah ada jadwal meeting dengan jajaran, lalu kenapa masih di sini dan mana Tuan mu itu"


"Tuan Henry ada di dalam bersama....."


"Apa"


"Kenapa wanita itu bisa masuk ke dalam perusahaan milik ku"


Amarah Papa San langsung mencuat begitu saja, saat dia tahu wanita yang paling ingin dia singkirkan itu ada di daerah kekuasaan nya.


Dia yang berniat untuk mendobrak pintu pun terhenti saat mendengar apa yang di ucapkan oleh sekretaris putra nya itu.


"Nyonya muda Naomi yang ada di dalam Tuan Besar"


Haaa