Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Bantuan



Mereka terus mengikuti kemana orang suruhan keluarga Leneva itu membawa Henry, sampai dia merasa bahwa mereka tengah berada di sebuah pinggir pantai di arah barat.


Tempat yang bisa di bilang adalah tempat yang tidak pernah terjamah pemerintah itu, rupa nya menjadi sarang mereka.


Tanda navigasi yang tadi berhenti kini bergerak lagi di atas air, papa San semakin tidak bisa lagi menahan diri nya, dia menghubungi tim khusus yang memang sudah terlatih untuk melakukan operasi seperti ini.


Dia mengerutkan keningnya saat Pedro tiba-tiba menghubungi nya, tidak biasa nya asisten anak nya itu mau menghubungi nya jika tidak ada sesuatu yang penting.


"Ada apa Pedro"


"Nyonya besar di culik dan Zayn dan beberapa pengawal terluka"


"Bengsek"


"Saat ini saya sedang mengikuti mereka Tuan"


"Kirimkan posisi mu pada Ferry, supaya dia bisa mengirim kan tim khusus untuk membantu mu"


"Saya sudah bersama mereka Tuan"


"Baiklah tetap hati-hati"


"Ingat pesan ku, jangan gegabah, bekuk semua orang yang terlibat, kali ini aku tidak akan pernah memaafkan kalian lagi"


"Satu lagi Tuan, Nyonya muda saat ini sedang kritis dan kemungkinan besar nya adalah--"


"Cukup jangan lanjutkan lagi"


Teriak papa San yang kini marah besar dengan semua keadaan yang tidak lagi berpihak pada nya.


Papa San juga memerintahkan kepada semua pengawal nya untuk meningkatkan keamanan dan melarang anak dan juga menantunya untuk keluar dari rumah nya.


Brak.


Papa San memejamkan mata nya menahan emosi yang berkecamuk di dalam hati nya, saat mobil milik nya di tabrak dari arah belakang.


Mobil langsung terhenti saat akan sampai di dermaga yang menjadi tujuan nya, dia pun turun dari sana bersama pengawal nya.


Begitu juga dengan orang yang menabraknya, di turun dari sana, menghampiri papa San yang menatap nya tajam, Papa San sama sekali tidak mengenali siapa orang yang ada di balik topeng yang membungkus wajah nya.


"Siap Komandan" ucap pelayan wanita memberikan hormat pada Daniel tanpa pada yang tahu kalau yang selama ini menjadi mata-mata Daniel untuk memantau pergerakan dari selingkuhan kakak nya itu.


"Kembalilah Pa, saat ini target nya bukan kakak dan istrinya lagi tapi Papa"


"Daniel"


"Kembalilah, ke markas besar jangan kerumah, kak Jesi dan semua orang sudah aku pindahkan kesana, dan masalah mama jangan terlalu di pikirkan, itu hanya pengalihan saja"


"Tapi bagaimana dengan"


"Untuk kali ini saja Jangan membantahku"


Papa San mengangguk dia tidak lagi ingin berdebat dengan putra bungsu nya di saat seperti ini, dia mempercayakan semua pada nya yang memang sudah pekerjaannya sebagai anggota militer.


Dia masuk kedalam mobil nya dan meninggalkan tempat tersebut, menuju ke tempat yang tadi sudah di sebut kan oleh putranya.


Sementara Daniel, dia bersama rekan-rekannya langsung menuju tempat di mana kakak sulung nya itu di tahan, tidak butuh waktu yang lama mereka pun sampai di sana saat Henry mulai mendapatkan kesadaran nya.


Dia menggelengkan kepalanya yang terasa sakit akibat hantaman benda tumpul di tengkuk nya, kedua tangan dan kaki nya terikat di kursi nya.


"Siapa, kalian?" tanya Henry saat melihat ke sekeliling nya.


"Sudah sadar kamu rupa nya"


Prok


prok


Henry menoleh ke arah sumber suara yang tak jauh dari tempat nya berteriak"


"Kenapa kamu kaget?"


"Apa maksudnya semua ini Om"


"Apa maksudnya, kamu pasti sudah tahu" jawab Antonio Leneva, ayah dari wanita yang paling dia cintai dulu.


"Cepat tanda tangani jika kamu ingin istri dan Mama tercinta mu itu selamat"


"Jangan macam-macam Om"


"Aku tidak macam-macam, hanya cukup satu macam saja, cepat tanda tangani surat itu maka kedua orang itu akan selamat"


"Baik, bawa kemari surat itu, aku akan menandatangani nya"


"Bawakan surat nya kemari" teriak Antonio yang tak lama kemudian seseorang yang di kenal sebagai adik dari Papa nya itu ada di sana sambil membawa berkas yang entah apa isi nya, dia tidak peduli lagi dengan apa pun, yang dia harus lakukan adalah menolong kedua wanita yang kini ada di hati nya.


"Uncle Aron"


Panggil Henry yang kini melotot kan mata nya tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh paman nya.


Sedangkan laki-laki itu menarik sudut bibirnya yang saat melihat wajah terkejut dari keponakan nya.


"Kenapa, kamu terkejut aku ada di sini?"


Aron pun membanting berkas di hadapan Henry, berkas yang Henry tidak tahu untuk apa itu.


"Cepat tanda tangani itu, jika kamu masih ingin Melihat Mama mu esok hari"


"Kenapa Om melakukan ini semua, apa salah Mama ku"


"Jangan banyak tanya lakukan saja, perintah ku"


"Jangan terlalu keras pada keponakan mu sendiri Aron, biar bagaimanapun dia adalah anak dari wanita yang kamu cintai"


Aron menoleh pada Antonio yang mengatakan itu dengan senyum mengejek kearah nya, Aron mendengus kesal karena karena dia kembali mengingat semua yang terjadi di masa lalu, di mana wanita yang kini menjadi kakak ipar nya itu adalah wanita yang di cintai nya.


Tapi justru dia memilih bersama kakak nya yang selama ini menjadi saingan nya.


"Tutup mulutmu, aku muak melihat nya, jadi cepat lakukan sebelum aku melenyapkan mu"


Henry menatap tidak percaya dengan apa yang dia dengar, terlebih lagi saat dia tahu kalau paman nya yang selama ini tidak pernah membantu keluarga untuk mengurus perusahaan dan hanya meminta uang saja itu ternyata menyimpan rasa pada Mama nya.


Dan kini malah bekerja sama dengan keluarga musuh nya yang sangat ingin melihat kehancuran keluarganya, dendam masa lalu bersatu dengan cinta yang tak terbalaskan itu membuat tekad mereka selain besar untuk satu tujuan yang sama.


Sebenarnya target mereka bukan Henry untuk menandatangani surat tersebut tapi papa San yang tidak kunjung terlihat pun membuat mereka beralih pada Henry yang sejak awal mereka jadikan tawanan.


Untuk di jadikan alat tukar dengan perusahaan milik papa nya itu, mereka beranggapan bahwa papa dan lebih memilih menyelamatkan istrinya saat mendengar istri nya mereka culik, membuat papa San berbalik arah menuju tempat istrinya di sekap.


Saat ini Henry sama sekali tidak punya pilihan lain selain menuruti apa yang di perintahkan oleh ayah dari Erika dan juga adik papa nya itu, mereka dua orang yang tidak pernah dia bayangkan bisa melakukan semua itu.


Antonio selama ini terlihat begitu baik pada nya seakan sudah melupakan dendam nya pada keluarga Keith yang sejak dulu selalu bersitegang.


Terlebih Paman nya itu yang tidak pernah mengusik ketenangan keluarga nya, selama uang yang dia minta tidak kurang dan selalu tepat waktu.


Tapi kini semua orang yang dia percaya nyatanya menusuk nya dari belakang, saat ini di depan matanya terlihat jelas bahwa pa yang di katakan oleh papa nya itu adalah nyata.


Kini semua sudah terlambat untuk dia sesali, semua hancur akibat ulah nya sendiri.


Mereka pun melepaskan ikatan tangan nya tapi di dahi nya tertempel senjata api yang bisa menembus kepalanya jika dia tidak menuruti apa yang mereka ingin kan.


Kini bukan hanya diri nya saja yang ada di ujung tanduk kehidupan, tapi juga seluruh anggota keluarga nya.


🥰🥰🥰🥰🥰


jangan lupa mampir ke karya teman ku juga ya 👇👇👇👇👇