
Henry membelokkan mobilnya kearah rumah Erika, dia akan menemaninya sampai di tertidur lalu dia akan pulang kerumahnya, tidak peduli apa kata papa nya nanti, mereka berdua sama-sama darah daging nya, itu lah yang kini memenuhi pikiran Henry.
Sampai di sana, Henry langsung turun begitu saja, dia meminta satpam yang berjaga di sana membukakan pintu untuk nya, lalu melesat masuk setelah meminta bantuan satpam itu untuk memarkir mobil nya.
"Tuan"
"Dimana Erika?" tanya Henry pada pelayan yang menjadi kaki tangan nya itu.
"Nyonya di kamar nya Tuan"
"Apa dia sudah makan?" tanya Henry yang kini Menaik tangga menuju lantai dua di mana kamar Erika berada.
"Belum Tuan, Nyonya memuntahkan kembali makanan yang masuk kedalam mulutnya"
Henry yang tadi nya kini sudah ada di tengah-tengah pun berbalik arah dan turun kembali menuju dapur.
"Apa yang bisa aku masak"
"Lebih baik bubur saja Tuan, karena perut nya juga kosong sejak pagi"
"Aku akan memasak bubur nya, kamu tolong bantu aku menyiapkan semuanya"
"Baik Tuan"
Tiga puluh menit sudah Henry berada di dapur di bergulat dengan peralatan yang cukup lama dia tinggalkan, terhitung sejak dia kembali ke sini dia tidak pernah melakukan nya lagi.
Hanya sesekali jika istri nya itu tidak mau makan masakan orang lain seperti yang kini terjadi pada Erika, dia berfikir kemungkinan jika anak yang kini sedang berkembang di dalam rahim Erika itu ingin makan masakan yang di buat oleh tangan ayah nya sendiri.
Henry tersenyum tipis saat menyadari semua itu, makanan sudah siap dan dia hanya perlu membuat segelas susu hangat untuk Erika.
Semua sudah siap dan tinggal membawa nya ke kamar di mana Erika berada, dia di bantu oleh pelayan nya itu membukakan pintu kamar.
Ceklek
"Me Amore kamu di sini?"
"Kenapa tidak menghubungi ku"
"Aku tidak ingin menyusahkan mu"
"Apa kamu tidak lagi menganggap ku?" tanya Henry yang kini menaruh makanan yang di bawah nya di atas nakas.
"Apa yang kamu bawa itu?" tanya Erika mengalihkan perhatiannya.
"Hanya bubur ijan dengan rumput laut, apa kamu mau makan, aku sendiri yang memasaknya"
Erika menatap tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh kekasih nya itu, benarkan dia bisa memasak atau hanya karena ingin membujuknya saja.
"Kamu tidak percaya kalau aku bisa memasak, heem"
"Bukan begitu hanya saja aku tidak yakin"
"Maka dari itu cepat sembuh, nanti kamu bisa temani aku masak makanan yang lezat untuk Kelian berdua"
"Sekarang ayo makan"
Henry pun dengan telaten menyuapi Erika sampai tinggal setengah nya saja, dia tidak sanggup untuk menghabiskan nya, belum lagi segelas susu yang juga harus masuk ke dalam perut nya.
Yang membuat Erika heran adalah dia tidak merasa mual sama sekali, bahkan dia menikmati makanan yang masuk kedalam mulutnya.
Anak yang ada di dalam kandungan nya itu bisa merasakan bahwa yang di makan Mama nya itu adalah olahan penuh cinta dari papa nya, jadi dia tidak akan menyia-nyiakan nya.
Kini Erika yang sudah selesai makan pun menyandarkan tubuhnya pada Henry di sana, saat dia akan tertidur, dia merasa ada getaran dari celana bahan milik kekasih nya itu.
"Me Amore, ponsel mu bergetar"
"Biarkan saja, tidur lah"
"Dari siapa angkat saja siapa tahu penting"
"Tidak perlu"
"Ya sudah aku juga tidak mau memelukmu"
"Papa"
"Angkat saja"
"Tapi janji kamu tidak akan sakit hati mendengar ucapan Papa"
"Heem"
Henry pun mengangkat panggilan nya yang langsung terdengar suara tangisan kedua putranya.
"Aku meminta mu untuk pulang ke rumah bukan menemui wanita itu bajingan, aku tuli atau tidak punya otak, anak mu mencari mua sedangkan kau malah asyik dengan wanita itu"
"Erika juga sedang mengandung anak ku pa"
"Baik, baik jika itu pilihan mu, maka mulai saat ini jangan pernah lagi datang menemui siapapun yang berhubungan dengan keluarga Keith, aku menghapus mu dari kartu keluarga dan hak waris ku"
Henry membeku mendengar apa yang di katakan oleh papa nya itu, sebegitu tidak mengerti kah papa nya itu hingga di melakukan ini semua pada nya.
Dia tidak tahu lagi harus apa saat ini, dia tidak bisa berfikir apa pun, isi kepalanya kosong sekarang.
"Maafkan aku, karena aku kamu jadi kehilangan semua nya"
Henry yang mendengar itu tersadar dari lamunannya, dia merengkuh raga lemas wanita yang selama ini selalu ada di hati nya.
"Ini bukan salah mu, semua ini karena dendam masa lalu yang bahkan kita tidak tahu asal-usul nya, tapi kita yang menjadi korban nya"
"Pulanglah temui kedua putra mu, mereka pasti tidak akan bisa tidur jika kamu tidak ada di sana bukan?"
"Tapi Papa sudah mengusir ku"
"Tidak, pasti dia hanya emosi saja karena kamu belum pulang dan ternyata ada di sini, di tambah lagi kedua cucunya menangis"
"Tapi kamu bagaimana?"
"Aku baik-baik saja, jangan khawatir kami Daddy" ucap Erika menenangkan kekasih nya itu.
"Kalau papa benar-benar mengusir ku bagaimana?"
"Jika kamu di usir, kemari lah pintu rumah ini selalu terbuka untuk mu"
Henry sedikit lega mendengar apa yang di katakan Erika, dia mencium kening nya lalu bergegas keluar dari kamar tersebut.
Tapi saat akan turun ke lantai bawa dia kembali masuk kedalam kamar yang baru beberapa menit yang lalu dia tinggalkan.
"Apa ada yang ter-----"
Eeemmmmpphh......
"Ingatlah, aku mencintai mu.
"Baik-baik bersama Mommy mu, Jagan menyusahkan nya, besok Daddy akan kembali "
Cup.
Erika tersenyum saat Henry melakukan itu pada nya, dia merasa bahwa hubungan nya dengan putra keluarga musuh keluarga itu belum cukup sampai di sini.
Perjuangannya cinta mereka masih sangat panjang, dan masih butuh banyak pengorbanan di dalam nya, dia hanya bisa berharap jika nanti nya cinta nya bersama kekasih nya itu bisa bersatu tanpa ada yang menentang keputusan dan cinta mereka.
Erika tidak peduli jika Henry kehilangan segala nya, cinta mereka tidak bisa di gadai dengan apa pun yang ada di dunia ini dan tidak bisa di beli dengan apa pun.
Mereka hanya ingin hidup bersama, menjalani setiap detik nya dengan penuh cinta, dan kalian Sayang, begitu juga dengan Henry yang akan rela melepaskan semua asal bisa bersatu dengan wanita cinta pertama nya.
Mereka ingin merubah takdir yang dulu nya kelam agar berubah menjadi cerita baru yang indah untuk keturunan mereka nanti.
...****************...
Sementara kini Henry sudah berada di depan rumah yang menjadi tempat nya berlindung dari panas nya matahari, tapi saat ingin masuk ke dalam dia di tahan oleh dua pengawal yang ada di depan gerbang rumah nya.
"Maaf Tuan anda tidak di izinkan masuk"