Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Ikatan batin ini dan anak



Naomi menampilkan senyum yang tidak pernah dia tunjukkan pada semua orang dan kini orang pertama yang melihat senyum itu adalah Erika, teman baik nya dulu.


"Sayang nya tidak akan semudah itu kamu menggeser posisi ku!"


"Apa kau tidak sadar jika posisi mu sudah aku tempati sejak lama!"


"Jangan terlalu banyak mengkhayal Erika karena saat kamu sadar nanti kamu akan merasakan sakit nya!"


"Apa kamu lupa siapa aku bagi suamimu!"


"Aku tidak peduli, yang pasti aku istri sah dan menantu kesayangan keluarga Keith, jadi selama gelar itu masih melekat pada ku jangan pernah bermimpi terlalu jauh!"


"Satu lagi, jangan bangga jika hanya di gunakan untuk rest area saja, karena pada akhirnya dia akan tetap pulang ke rumah utama nya!"


Setelah mengatakan itu Naomi berjalan meninggalkan Erika yang menatap nya seakan ingin mencabik-cabik nya.


Dia merasa terhina di katai seperti itu, meski pada kenyataan tuduhan itu benar ada nya, Erika lalu pergi dari sana dengan membawa dendam yang tidak akan pernah ada habisnya pada sosok wanita yang kini menjadi istri dari kekasihnya itu.


Sementara Naomi yang melihat nya dari dalam mobil pun tersenyum geli dengan ulah teman nya itu, dia tidak habis pikir kenapa ada manusia yang berjenis seperti itu.


Bisa-bisanya dia mengatakan kalau dia menginginkan suaminya, bukan kah itu sebuah penghargaan yang patut di banggakan atau mungkin sebalik nya.


Di sepanjang jalan menuju rumah entah kenapa perasaan nya sangat tidak tenang, pikiran nya tertuju pada putra kedua nya yang dia tinggalkan sejak pagi tadi.


"Bisakah lebih cepat lagi!" ucap Naomi pada supir nya itu.


"Ada apa Nyonya?" tanya Andra pengawal pribadi nya.


"Entah aku merasakan putraku tidak baik-baik saja?"


"Tenang lah Nyonya, Tuan muda kecil lagi sudah tidur!"


Dia mengangguk sambil memejamkan matanya, dia menenangkan dirinya supaya tidak terserang panic attack yang berlebihan.


Sampai di rumah dia langsung masuk dsn berlari menuju kamar putra keduanya, dia bahkan mengabaikan kedua mertua nya yang sedang duduk di sofa sambil menikmati teh nya.


Naomi tidak berfikir kalau mereka masih ada di sana mengingat ini sudah hampir tengah malam, jadi mana mungkin mertua nya itu masih berada di lantai bawah.


Naomi membuka pintu kamar putra keduanya itu dengan kasar, dia tidak lagi bisa menahan kekhawatiran nya pada putra nya itu.


Di dekat oleh nya putra nya yang sedang tertidur itu, tidak ada yang mencurigakan dari putra keduanya itu, mungkin yang dia rasakan tadi hanya rasa rindu yang berlebihan pada anak-anak nya.


Namun saat di hendak pergi dari sana, dia melihat siku putra nya itu memar, dengan seksama dia melihat siku putranya itu, apa mungkin tadi dia terjatuh saat bermain atau terbentur sesuatu.


Di lihat nya satu kanan putra nya itu, dan lihat lah di sana juga terdapat luka memar yang sama, dengan sedikit kasar Naomi langsung membuka selimut yang menutupi tubuh Nick yang sedang tertidur.


Di bagian lutut dan pergelangan kaki nya juga ada memar yang sama, ini tidak mungkin kalau terjatuh atau terbentur sesuatu, di raih nya Nick dalam gendongan nya lalu keluar dari kamar itu menuju kamar pribadi nya.


Di sana dia melihat suaminya itu tengah duduk memangku laptop pun mengalihkan perhatian pada nya yang membuka pintu secara kasar.


Henry langsung menaruh laptop nya saat melihat wajah panik istrinya itu, apa lagi dalam gendongan ada putra kedua mereka yang sedang tertidur.


"Apa yang terjadi?" tanya nya saat Naomi kini berada di hadapan nya.


"Coba lihat putra kita kenapa di setiap persendian nya terdapat luka memar, tadi aku sempat berpikir kalau dia jatuh, tapi pergelangan kakinya juga ada memar!"


"Lihatlah!"


"kita ke rumah sakit sekarang!"


Henry mengambil alih Nick dalam gendongan nya, mereka lalu keluar dari kamar menuju lantai bawah dengan menggunakan lift.


Sampai di sana ternyata Papa San dan juga Mama Meli, masih di lantai bawah sambil berbincang ringan di tengah malam seperti ini.


Mereka yang melihat anak serta menantunya turun dengan menggendong cucu ke tiga nya itu pun langsung menghampiri mereka yang berjalan menuju pintu.


"Kalian mau kemana malam-malam seperti ini!"


"Kita tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan nya!"


"Kalau mau ikut papa yang mengendarai mobil nya!"


"Ayo!"


Tanpa membuang waktu lagi mereka langsung pergi ke rumah sakit yang terlengkap di sana.


Dalam perjalanan Papa San dia sudah menghubungi pihak rumah sakit beserta dokter pribadi keluarga mereka, untuk stand by karena cucu nya mendadak sakit harus di rawat di rumah sakit.


Bahkan jalanan di buat lenggang oleh Papa San agar cucu nya itu tiba di rumah sakit dan mendapatkan penanganan khusus.


Saat mobil yang mereka tumpangi sampai di sana dokter yang sedang jaga pun langsung menyambut mereka semua, dan langsung membawa Nick ke ruang gawat darurat.


Naomi yang mengkhawatirkan keadaan Nick pun ingin ikut masuk ke dalam namun di halangi oleh salah satu suster yang ada di sana.


"Maaf Nyonya anda tidak bisa masuk kedalam, silahkan menunggu di sini!"


"Tapi saya mau-----!"


" Tenangkan diri, Nick pasti baik-baik saja"


"Putra kita suami ku, kenapa dia seperti itu!"


"Jangan menangis dia anak yang kuat dia pasti akan segera pulih!"


Naomi menangis dalam pelukan suami nya itu, suami yang tidak pernah mencintai nya, Naomi semakin menangis saat mengingat begitu rumit kehidupan nya.


Dia mencoba untuk tidak terpuruk dalam keadaan apa pun, sungguh dia kini berada dalam posisi terendah dalam hidupnya.


Di mana putranya yang kini sedang berjuang untuk bisa bertahan hidup, di sisi lain memikirkan tentang Erika yang secara terang-terangan mengibarkan bendera perang di antara mereka.


Diam masih menangis dalam pelukan suami itu, sampai pintu ruangan tempat putranya itu di buka oleh seorang dokter yang ada di sana.


"Keluarga pasien?". (pertanyaan klasik)


"Apa yang terjadi pada putra kami dok!"


"Maaf sebelumnya apa pasien pernah mengalami memar seperti sekarang ini?"


"Tidak pernah, dan baru satu kali ini" jawab Naomi yang kini sudah melepas pelukannya.


"Dari gejala yang terlihat pasien di diagnosa mengidap hemofilia, itu yang menyebabkan memar yang timbul di persendian nya!"


"Apa bisa di sembuhkan?" tanya mama Melly


"Bisa nyonya tapi membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit!"


"Lakukan apa saja yang terbaik, jangan khawatir masalah biaya nya!"


"Baik Tuan kami tenaga medis akan berusaha memberikan yang terbaik!"


"Dan sekarang kamu juga membutuhkan donor darah yang cocok dengan pasien sekarang!"


"Anda bisa mengambil darah saya dok!"


"Baik mati ikut saya!"


"Biar aku saja!"


Mau tidak mau Naomi harus menuruti perintah suami nya kini dia duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


Namun kening nya mengkerut saat melihat suaminya itu sudah keluar dari ruangan yang tadi dia masuki.


"Siapa ayah kandung Nick?"