
Naomi kini sudah berada di depan seolah milik putra sulungnya dia turun dari sana untuk mengantarkan nya masuk ke dalam kelas, sementara pengasuh nya itu akan menunggu nya di salah satu mobil yang terparkir tidak jauh dari sekolah tersebut.
Setelah memastikan putra nya itu masuk ke dalam kelas, dia pergi dari sana setelah berbincang-bincang sebentar dengan wali kelas nya.
Saat di masuk ke dalam mobil dia sudah di sambut oleh uluran tangan dari Nick yang ingin di peluk oleh nya, dengan senang hati Naomi memeluk putra keduanya itu, mereka akan saat dekat dan manja pada nya saat papa nya itu tidak ada di sana.
Jika ada papa nya mereka berdua seakan tidak melihat Mama nya ada di sana, semuanya tertutup oleh sosok pria yang sangat mereka banggakan itu.
Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di rumah sakit yang di tuju, di sana Naomi langsung turun bersama dengan pengasuh Nicholas, mereka langsung menuju tempat dokter yang menangani Nick.
Namun saat mereka sampai di sana ternyata dokter yang menangani Nick sedang ada halangan jadi dia tidak bisa hadir di sana, tapi dia tidak meninggalkan tugas nya begitu saja, di sana ada seorang dokter muda yang menggantikan nya sementara dia cuti.
Dengan sedikit ragu Naomi mengikuti saran yang di berikan oleh dokter tersebut, dan di sini lah dia sekarang berada masih di tempat yang biasa di kunjungi namun dengan dokter yang berbeda.
Seperti yang di katakan oleh dokter sebelum nya bahwa dokter yang akan menangani Nick bisa di bilang masih sangat muda tapi pengalaman yang di miliki tidak jauh dari dokter senior nya
Entah kenapa Naomi mereka gugup saat melihat dokter yang sedang mengecek riwayat pengobatan yang tengah Nicholas jalani.
"Selamat pagi dokter" sapa Naomi pada dokter itu.
Perhatian dokter yang sedang serius membaca laporan itu pun teralih kan saat mendengar suara seseorang yang sepertinya di kenal.
Dia pun langsung mengangkat kepalanya menatap pada Naomi yang berdiri di depan nya dengan Nicholas yang ada di gendongan nya.
"Bella"
"Kak Rayden" panggil mereka bersamaan.
Cukup lama mereka saling diam, sampai dokter yang bernama Rayden itu menyadari semuanya dan mempersilahkan Naomi untuk duduk di sana.
"Maaf, silakan duduk"
"Terimakasih ka eh dokter"
"Panggil aku seperti dulu saja, Bella"
"Tidak dok itu terdengar sangat tidak sopan!"
"Baiklah senyaman anda saja mau memanggil saya seperti apa Nyonya Keith"
"Panggil saja Naomi"
"Lupakan saja, sekarang kita langsung melakukan terapi nya saja, bagaimana?"
"Itu lebih baik dok"
"Mari silakan"
Kini mereka ada di salah satu ruang yang biasa di gunakan untuk menterapi para penderita hemofilia, meski kemungkinan besar untuk sembuh total sangat sulit tapi apa pun akan Naomi lakukan untuk kesembuhan Nick.
Dua jam waktu yang cukup lama bagi Nick untuk melakukan serangkaian terapi yang harus dia lakukan.
Kini Nick yang merasa kelelahan itu tertidur dalam dekapan Mama nya, di tidur sangat nyenyak sekali sampai Naomi tidak ingin bergerak sedikit agar tidak menggangu tidur putra nya itu.
Kini di ruangan itu hanya tinggal mereka bertiga, pengasuh Nick diminta oleh Rayden untuk mengambil obat yang di resepkan di apotik rumah sakit.
Dia meninggal Naomi yang biasa dia panggil dengan sebuah Bella itu tanpa pesan, saat dia sudah kembali dia bagai di tampar oleh keadaan saat tahu wanita yang di ingin kan selama ini sudah menikah bahkan anak nya salah pasien yang harus dia tangani.
Entah bagaimana rasa hancur nya hati saat semesta tak berpihak lagi pada nya, di sana dia belajar siang malam dengan harapan bisa segera lulus dan melamar wanita yang kini ada di hadapannya.
Dengan segenap keberanian nya dia meraih tangan Naomi yang tengah mengelus putra nya itu.
"Bella, maafkan aku"
Deg
Hati Naomi bergemuruh saat mendengar ucapan dari Rayden, apa saat ini dia ingin membahas sesuatu yang harus nya di bahas di masa lalu, di masa saat di belum jatuh terlalu dalam di jurang pernikahan nya dengan suami yang kini tengah bermain api dengan nya.
Naomi tersentak saat merasa tangan besar Rayden menyentuh pipinya, sentuhan yang dulu selalu di rasakan saat di lelah dengan hidupnya, dia lelah saat orang tuanya itu memaksa nya bekerja untuk memenuhi kebutuhan mewah mereka.
Bahkan pernikahan nya itu juga sebagai jaminan utang ayah, beruntung saat ini hutang itu sudah terbayar semua setelah meninggal nya mama tiri nya.
"Kak jangan seperti ini" ucap Naomi sambil menepis tangan Rayden yang ada di pipinya.
"Aku tahu kamu tidak bahagia dengan pernikahan mu"
Rayden tahu semua itu saat di berniat untuk mengajak Naomi untuk pergi makan malam bersama nya saat kemarin dia baru saja kembali, bahkan dia berniat untuk melamar nya di saat makan malam itu.
Tapi di di buat terkejut oleh perkataan papa nya yang mengatakan bahwa Naomi sudah menikah dengan Henry Jonathan Keith yang merupakan putra dari pria yang menjadi legenda di dunia bisnis.
Lagi-lagi di merasa hati nya di remas oleh tangan gaib saat tahu bahwa suami dari wanita yang dia cintai itu berselingkuh dengan wanita yang juga dia kenal saat masih kuliah dulu.
Mereka bertiga berteman kerena sering di libatkan dalam organisasi yang sama, di cukup mengenal Henry meski tidak terlalu dekat.
Saat itu juga Naomi masih mengenakan seragam putih abu-abu milik nya dan dia udah kuliah waktu itu.
Mereka cukup dekat lebih dari sekadar pemilik dan pekerja di sana, bahkan tidak jarang mereka menjodoh- jodohkan mereka berdua saat tidak sengaja memasak bersama di dapur.
Rayden dulu nya dia punya kafe yang bisa di bilang cukup besar dan Naomi bekerja di sana sebagai salah satu asisten koki di sana.
Kini mereka kembali di pertemukan dengan kenyataan yang berbeda, akan sulit bagi Rayden untuk memiliki Naomi yang sudah punya suami dan dua orang anak.
Bukan perkara gampang untuk menyatukan cinta mereka yang nyaris tidak ada jalan karena Naomi yang sudah menikah.
"Bella, aku mencintai mu"
Deg.
Rayden mungkin sudah gila dia bisa sesantai itu mengatakan hal tabu untuk semua orang, dia menatap Naomi yang kini juga menatap ke arah nya.
Dia menyelami apa yang ada di hati wanita pujaannya itu, dia tahu dan sangat yakin kalau Naomi masih memiliki rasa yang sama dengan apa yang dia rasakan.
"Tapi kak...."
Shuuuttt
"Aku tidak butuh penolakan mu"