
Mereka pun kembali ke rumah sakit saat operasi sudah selesai dan semua berjalan lancar, dan Naomi yang sudah di pindah kan ke ruang ICU.
Hampir dua puluh empat jam mereka meninggalkan Naomi di sana meski di jaga ketat oleh pasukan milik Daniel atau pun pengawal the Alesandro group.
Mereka meningkat keamanan untuk keselamatan Nyonya muda Keith yang sedang terbaring lemah di dalam ruang tersebut.
Henry duduk di bangku depan kamar istri nya di rawat, sambil memangku Nick yang sedang tertidur di pelukan nya.
"Pulang lah kak, kasih kedua anak mu, mereka pasti lelah"
"Tidak biarkan aku di sini, Mama saja yang pulang bawa mereka"
"Kalau mereka memang mau sama aku, tidak perlu kau suruh"
"Apa kamu lupa kalau mereka hanya akan tidur dengan mu saat malam hari, jadi pulang lah jangan membantah, bersihkan diri mu setelah itu kembali ke sini dan aku akan pulang"
"Tapi Ma"
"Tidak ada tapi, Niel bawa kakak mu itu pulang sampai benar-benar masuk ke dalam rumah, jangan sampai di mengulangi kesalahan yang sama" ucap Papa San pada putra bungsu nya.
"Ayo kak, kakak ipar tidak akan bangun secepat itu, dia pasti akan menunggu suaminya itu ke sini lagi"
Henry menghela nafas, lalu berdiri dari tempat duduk nya, berjalan keluar dengan menggendong kedua putranya itu, Daniel yang melihat itu pun berinisiatif membantu kakak nya.
Tapi ternyata kedua keponakan nya itu, sama sekali tidak mau lepas dari papa nya dan terus menempel pada kakak nya itu.
Henry masuk ke dalam mobil dengan susah payah, di mana dia harus tetap menjaga keseimbangan agar ke dua anak nya itu tidak sampai jatuh.
Henry mendudukkan Nathan di samping dirinya yang sedang memangku Nick sambil merengkuh tubuh putra nya itu.
Di ikuti oleh Daniel yang duduk di samping kiri nya, dia menatap kakak laki-laki nya sedangkan kerepotan mengurus kedua anak nya.
"Apa mereka selalu seperti itu pada mu kak,?" tanya Daniel pada kakak nya, Henry pun menoleh pada adik nya.
"Iya, mereka tidak akan tidur jika aku belum pulang" jawab Henry.
"Kamu mempunyai anak yang langka kak, tapi kamu malah menyia-nyiakan mereka"
"Kamu benar, aku bahkan tega menyakiti hati Mama nya yang begitu tulus pada ku hanya demi wanita yang tidak punya hati itu"
"Apa sedalam itu cinta mu pada Erika hingga membutakan mata mu"
"Dia selalu bersikap anggun dan penyabar serta penyayang saat bersama ku, tapi ternyata itu semua hanya lah topeng yang dia pakai untuk menghancurkan keluarga kita"
"Sudah lah, jangan terlalu di pikirkan, sekarang tugas mu adalah menjaga keutuhan rumah tangga mu, yang hampir saja bercerai"
"Aku mendengar nya dari salah satu anak buah ku"
"Ya, dia memang mengatakan akan mengajukan gugatan itu tapi sampai saat ini aku belum menerima nya, dan berharap dia tidak melakukan nya"
"Semoga saja"
Percakapan mereka terhenti saat mereka sampai di rumah besar keluarga Alessandro, mereka turun dari sana, dan langsung menuju kamar nya.
'Ternyata, aku sudah lama tidak kembali ke rumah ini'
Daniel naik ke lantai dua, namun dia menghentikan langkah nya saat melihat seseorang yang dulu merawat nya saat masih kecil, dia mengurung kan niatnya untuk naik ke lantai dua, dia kembali turun menghampiri wanita yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya.
"Bik, aku merindukan mu"
"Tuan Niel, anda kah ini" ucap wanita yang di pelukan dari belakang oleh Daniel itu sambil meneteskan air mata nya, dia rindu pada putra bungsu keluarga majikan itu yang telah lama tidak kembali ke rumah ini, karena tugas nya tengah dia emban.
"Iya bik, ini Niel aku sudah pulang"
"Bibik, merindukan Tuan Niel kenapa lama sekali meninggalkan bibik" ucap wanita yang dulu adalah baby sitter nya itu yang masih setia bekerja dengan keluarga hingga puluhan tahun.
"Mulai saat ini aku akan sering pulang ke rumah, aku tidak lagi pergi berperang" ucap Daniel yang kini melepaskan pelukannya.
"Bik, aku lapar bisa buat kan aku masakan kesukaan ku"
"Aku akan memasak untuk Tuan Daniel yang sudah kembali, tapi sebelum itu mandi lah dulu, bau mu sangat menyengat"
Daniel langsung menciumi tubuh nya sendiri, dia pun merasakan hal yang sama seperti apa yang di katakan oleh pengasuh nya itu.
"Ayo, aku siapkan dulu baju dan air nya, setelah itu aku akan memasuk untuk mu, sekarang tidak perlu aku mandikan bukan?"
Daniel mencebik mendengar candaan dari pengasuh nya itu, dia mencium pipi wanita yang sudah dia anggap sebagai ibu nya sendiri itu lalu dia pergi setelah mengatakan kalau dia bisa melakukan semua itu sendiri.
Dia pun masuk kedalam kamar nya yang berada di lantai atas.
Sementara Henry dia membasuh tubuh putra yang sedang tertidur pulas setelah mengalami hal yang menakutkan itu, mereka tidak merasa takut sama sekali saat melihat papa nya ada di sana.
Setelah membasuh kedua putranya, menggantikan pakaian nya, dia bergegas mandi, karena dia tidak ingin membuang waktu di rumah, dia ingin segera menemani istrinya yang sedang koma di rumah sakit.
Henry turun dari sana sengen tergesa-gesa, dia tidak memperdulikan apa pun lagi di sana, sampai indera penciuman mencium harum masakan yang menggugah selera lapar nya.
Dia pun menoleh ke arah meja makan yang ternyata ada semangkuk ramen beserta isinya di sana, tanpa bertanya dia langsung memakan nya, sampai dia mendengar suara teriakan di sana.
"Kenapa kakak makan makanan milik ku?" tanya Daniel dengan sewot nya.
"Jangan ngaku-ngaku ini punya ku"
"Itu aku yang minta di buat kan oleh bibik Area, tapi kamu malah memakan nya"
"Kenapa kalian ribut-ribut, baru pulang sudah bertengkar saja"
"Dia makan makanan ku, padahal aku sudah lapar sekali" keluh Daniel pada kakak perempuan nya
"Tuan Niel, ini saya buatkan yang baru, biarkan saja itu di makan oleh Tuan Henry"
Ucap bik Arra memenangkan mereka semua, sambil membawa dua mangkuk berisi ramen yang sama dengan apa yang di makan oleh kakak pertama nya.
Daniel masih menatap tajam pada kakak nya itu, dia marah karena masakan pertama bibik Arra di makan oleh kakak nya.
Mereka pun makan dalam diam tanpa ada yang membuka percakapan, sampai semua nya selesai Jessica menanyakan sesuatu yang membuat Henry melotot kan mata nya.