Wounds In Marriage

Wounds In Marriage
Bimbang



Dengan langkah gontai Henry turun dari lantai atas menuju lantai dasar rumah nya, di sana semua orang sudah berkumpul kecuali papa San yang belum terlihat.


"Papa kemana ma?"


"Papa mu sudah berangkat ke kantor"


"Sepagi ini?"


"Iya papa mu ada meeting dengan investor asing, jadi papa mu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini"


"Mama, ma maaaaaa"


Semua perhatian langsung tertuju pada Nicholas yang tiba-tiba mencari mama nya, tapi apa yang mereka boleh buat Naomi pergi juga karena ulah dari suaminya sendiri.


"Nanti Mama akan pulang kita jemput mama ya"


"Horeeeee"


Mereka berdua, dua balita itu tidak kegirangan mendengar apa yang di katakan papa nya, sedangkan mereka para orang dewasa hanya bisa melihatnya saja tanpa bereaksi berlebihan.


Mereka tahu kalau apa yang di katakan Henry itu hanya untuk menenangkan kedua putranya yang merindukan ibunya.


Kini di meja makan itu hanya terdengar bentakan sendok dan garpu yang menemani acara sarapan mereka, Henry yang lebih dulu menyelesaikan sarapan nya pun langsung berangkat ke kantor, setelah mengantar putra pertamanya itu ke sekolah nya.


Sampai di sekolah Henry turun dari mobilnya, dia sendiri yang kini mengantarkan putranya itu masuk kedalam kelas nya, jangan tanyakan bagaimana setiap mata yang ada di sana menatap penuh kagum pada nya.


Bagaimana tidak Henry yang menggendong Nathan di tangan kiri dan sebelah tangan nya menenteng tas sekolah milik putra nya itu membuat nya, terlihat gagah dan menjadi ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.


dia yang seperti itu sudah seperti good Daddy incaran para wanita-wanita muda yang haus akan kasih sayang.


Henry menurunkan nathan di depan pintu kelas nya, membuat wali kelas Nathan yang melihat itu sampai melongo di buat nya.


"Belajar yang rajin Boy, kamu kebanggaan papa"


Ucap Henry saat menurunkan putra nya dari gendongan nya bahkan dia jug mensejajarkan diri nya dengan Nathan, Nathan mengangguk dan mencium pipi Henry di sana.


"Aku menyayangimu Daddy"


Kata Nathan yang kini masuk ke dalam kelas nya sambil melambaikan tangan nya, Henry pun melakukannya seperti yang di lakukan oleh putranya itu.


Melihat Nathan yang sudah duduk di tempat nya pun, Henry langsung pergi dari sana menuju kantor.


Tapi saat di perjalanan ponsel yang berdering dengan id 'Me Amore' di sana, dengan malas Henry mengangkat panggilan tersebut, dia langsung panik saat mendengar suara kesakitan Erika di sana.


Dia pun meminta supir nya untuk pergi ke rumah Erika terlebih dahulu, apa lagi kini dia sedang mengandung anak nya.


"Kamu bisa mengemudi atau tidak kenapa lambat sekali"


"Kalau terjadi sesuatu pada anak ku, kamu akan merasakan akibatnya" ancam Henry.


Mobil belum terparkir dengan sempurna, tapi Henry langsung turun begitu saja, dia langsung masuk menuju kamar pribadi Erika di lantai dua rumah tersebut.


"Apa yang terjadi"


"Perut ku terasa kram, sampai aku tidak bisa duduk di buat nya"


"Kita ke rumah sakit sekarang ya, aku takut kalian berdua kenapa-kenapa"


"Tidak perlu, aku merasa lebih baik saat kamu mengelus perut ku, mungkin dia merindukan Daddy nya"


Henry mencoba menenangkan diri agar tidak berprasangka buruk pada wanita yang masih sedikit meninggalkan rasa di sisi hati nya, meski tidak sebanyak dulu, tapi dia tidak yakin jika rasa itu tidak akan tumbuh kembali saat mereka terus bertemu dengan keadaan yang berbeda.


Dimana mereka akan menjadi orang tua untuk anak yang masih berada di kandungan Erika.


"Apa kamu tidak lagi mencintai ku?" tanya Erika saat Henry tidak menjawab pertanyaan nya, dia hanya terfokus pada usapan di atas perut nya.


"Jadi benar apa yang aku takutkan selama ini, bahwa kamu sekarang mencintai nya saat aku sudah bercerai dengan mantan suami"


"Kalian berdua tega membuang ku secara bersamaan, padahal dulu kalian juga tahu semua ini"


"Pergi kamu, aku tidak membutuhkan mu juga, aku bisa merawat semua anak-anak ku sendirian"


"Jangan begini, aku mohon, maafkan aku,"


"Pergi aku tidak butuh maafmu, aku tidak butuh" teriak Erika sambil terus memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Aaaahhh, aduuuhh"


"Me Amore, jangan begini, kasian dia yang ada di dalam sana" ucap Henry sambil memeluk Erika yang masih terus memberontak.


"Lepaskan aku, memang apa peduli mu"


"Kamu memang ayah biologis nya tapi sedikit pun kamu tidak pernah menginginkan nya kan, kamu hanya menjanjikan sesuatu yang manis tapi tidak pernah sekalipun terwujud"


"Sekarang saat kamu sudah bosan dengan ku dengan mudahnya kamu kembali pada wanita yang kamu sendiri bilang tidak akan pernah mencintai nya"


"Maafkan aku, maafkan aku me Amore"


"Kamu jahat Henry, kamu jahat"


"Ayo maki aku lagi ayo, lakukan itu sepuasnya tapi setelah itu tolong jangan sakit diri mu kasihan anak kita di sana, biar bagaimanapun dia adalah buah cinta kita"


"Cinta, cinta apa kamu bicarakan, bukan kah mau sudah tidak mencintaiku lagi"


"No me Amore, aku masih mencintaimu meski tak sebesar dulu, maafkan aku yang tidak bisa menjaga hati ini hanya untukmu saja"


"Lepas, kembali saja pada istri mu itu, aku tidak akan menuntut apapun dari mu"


"Tidak me Amore kamu kehidupan ku"


"Istri ku menuntut cerai pada ku, tapi....."


"Tapi apa, kamu tidak mau bercerai dengan nya san kita akan selamanya seperti ini,"


"Aku lelah Henry aku lelah menjadi selingkuhan mu selama ini, aku lelah mendengar cemoohan orang tentang aku yang merebut mu dari istri mu"


"Lalu sekarang saat kita ada jalan untuk bersama tapi kamu sendiri yang bimbang, bahkan aku sudah mengorbankan rumah tangga ku agar kita bisa bersama, tapi apa yang aku dapatkan"


Henry terdiam saat Erika mengatakan semua nya, dia diam menyesali semua yang pernah dia lakukan, permainan api yang dia mainkan seakan membakar nya saat ini.


Dimana kini dia berdiri di persimpangan jalan antara mempertahankan salah satu dan melepaskan salah satu nya.


Henry dia menyadari bahkan dia tidak bisa memilih satu di antara dua wanita yang bertahta di hati nya, tapi dia juga tidak bisa egois untuk mempertahankan keduanya.


Terlebih Naomi yang berada di dalam lindungan Papa nya, tidak akan membiarkan wanita itu kejatuhan dalam kesakitan yang sama yang dia ciptakan.


Sedangkan Erika dia wanita yang sangat dia inginkan dulu sebelum dia menyadari bahwa cinta yang di milik Naomi untuk nya jauh lebih indah dari apa yang dia dapat kan dari Erika.


Jalan mana yang akan dia pilih nanti nya akan menjadi penentu kehidupan nya di masa yang akan datang.


Dua persimpangan hati yang sulit dia pilih, atau mungkin dia harus mengambil jalan tengah dengan tidak memilih kedua jalan itu.


Dan memilih hidup bersama ketiga anak-anak nya saja.


Ya tiga, termasuk dengan anak yang maiha berada dalam kandungan wanita yang kini tengah menangis dalam pelukan nya.


"Maaf aku tidak bisa"