
Henry naik ke atas tempat tidur nya dan masuk ke dalam selimut yang di gunakan istrinya itu untuk membungkus tubuh nya.
Dia memeluk wanita yang terhebat yang pernah ada dalam hidup nya bukan hati nya, karena bagaimanapun hatinya tetap milik kekasih nya, wanita yang dia cintai sejak masih duduk di bangku sekolah.
Henry menyusupkan tangannya di atas bantal yang digunakan oleh Naomi lali menarik nya hingga kepala istrinya itu berada di atas dada bidang nya, berulang kali dia mencium kening nya.
Entah karena nyaman atau kelelahan Naomi sama sekali tidak terganggu dengan apa yang dia lakukan, bahkan istrinya itu kini memeluknya, dia mencari kehangatan dari tubuh kekar nya.
Henry membiarkan saja apa yang di lakukan oleh istrinya itu, yang mungkin suatu saat nanti dia akan merindukan pelukan dari wanita yang telah memberikan nya dua orang anak itu.
"Tidurlah, maafkan aku yang tidak bisa memberikan pernikahan indah seperti keinginan mu" ucap Henry yang semakin erat memeluk istrinya itu, dia tetap memeluknya sampai rasa kantuknya menguasai dan dia terjatuh dalam buaian mimpi nya bersama istri nya.
Mereka sama-sama saling memeluk satu sama lain sampai pintu kamarnya di ketuk dari luar tapi mereka masih belum juga membuka mata nya.
Sedangkan orang yang ada di depan pintu itu terdengar menggerutu saat dua orang itu tidak kunjung membuka pintu kamarnya, sementara kedua cucunya itu sedang menangis mencari papa nya yang hilang.
"Apa mereka sedang kuda-kudaan sampai tidak mendengar suara tangisan kedua putranya" ucap papa San yang sejak tadi menunggu jawaban di balik pintu.
"Mana mungkin seperti itu, bukan kan Naomi baru saja tahu kalau---"
Ceklek.
"Pa kamu ini tidak punya sopan santun sekali bagaimana kalau apa yang kamu katakan itu benar ada, pasti mereka akan sangat malu pa"
"Aku bahkan pernah menggerebek putramu itu sedang menunggang kuda liar nya, jadi apa yang perlu di sopan kan!" kata papa San lagi sambil mendorong pintu agar mereka bisa masuk ke dalam.
Pintu pun sudah di buka mereka membelalakkan matanya saat melihat posisi tidur mereka yang bisa di bilang sangat intim itu, di mana Henry yang bertelanjang dada dengan Naomi yang tidur di dada nya dengan pelukan posesif nya.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain, mereka mengerti akan kode yang tak terucap itu, kini papa San menjajarkan tubuh nya dengan Nathan dan Nick di sana.
Dia membisikkan sesuatu pada mereka berdua, lalu meninggalkan kedua di kamar itu bersama kedua orang tua nya.
Dengan hati-hati mereka menutup pintu kamar itu, berjalan menjauh dari sana.
"Aku harap mereka akan terus seperti itu"
"Ya semoga saja" jawab Papa San sambil menarik pinggang istrinya, dengan sesekali mengelus-elus nya sampai tangan nakal itu secara sengaja menyentuh pangkal buah yang ada di sana.
"Kondisi kan tangan mu, apa kamu lupa kalau sudah punya tiga cucu"
"Lalu apa salah nya dengan aku yang sudah punya cucu dengan aku yang ingin menikmati makanan ku"
Ucap papa San yang semaki berani menyentuh sesuatu yang menjadi sumber kehidupan bagi ketiga anak nya.
Dan apa yang mereka lakukan itu di saksikan oleh Jessica yang langsung berteriak pada papa nya.
"Papa ingat umur, jangan melakukan itu di sembarang tempat seperti saat kita masih kecil dulu"
Plak
"Dasar tidak tahu malu" kata Mama Melly yang langsung masuk kedalam kamar nya dia sangat malu pada putri dan menantunya itu.
Sedangkan Papa San yang merasa kesenangan terganggu pun melirik tajam pada anak dan menantunya itu, dia pun masuk kedalam kamar menyusul istrinya yang lebih dulu meninggalkan dirinya.
"Mengganggu kesenangan orang tua saja, kalau mau sana lakukan sendiri"
brak.
"Astaga, papa kasar sekali"
"Itu bukan jahil sayang tapi sudah jelas kalau papa sedang aaahhhh"
"Seperti benar apa kata papa, bahwa kamu menginginkan nya"
"aaahhh turun kan aku My king,"
Plak
"Ini hukuman mua akibat suka menjahili mertua ku"
Brak.
Pintu di tutup dengan kasar persis seperti apa yang di lakukan papa San tadi, dengan tidak sabar Morgan membaringkan tubuhnya istri nya itu di atas ranjang nya dan
Sreeekkk
"Aaahhh, kamu merusak baju ku"
Tapi apa Morgan peduli dengan semua itu jelas tidak bukan, dia terus melakukan apa pun yang menjadi hobi nya setelah dia menikah itu.
Sementara di salah satu kamar yang kedua penghuni nya belum juga bangun itu, terdapat dua pasang kaki mungil yang berjalan menuju tempat tidur di mana kedua orang tua nya masih tertidur dengan posisi saling memeluk dengan posesif nya.
Sang kakak yang memiliki tubuh lebih tinggi dari adiknya pun membantu nya untuk naik ke atas ranjang yang lumayan tinggi untuk Nick, setelah adik nya itu berada di atas ranjang dia pun menyusul adik nya itu naik ke atas ranjang itu.
Pelan-pelan mereka merayap di atas kedua orang tua nya, bahkan dengan jail nya Nathan mengikuti apa yang di lakukan adik nya itu, apa lagi kalau bukan menjilati pipi Mama nya.
Nathan yang tak mau kalah pun juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh adik nya itu, dia pun melakukan nya pada Papa yang tidur telentang sedangkan Mama nya tidur dengan memeluk erat tubuh suaminya.
Cukup lama mereka berdua melakukan itu sampai mereka merasa ada gerakan kecil dari kedua orang tua nya, netra sepasang suami istri itu beradu, mereka menyadari bahwa mereka tidur dengan posisi yang salah, tapi seakan keduanya enggan untuk melepaskan nya, mereka saling menatap sesuatu yang menggairahkan di sana membuat aliran darah nya mengalir dengan deras nya.
Saat bibir mereka akan bertemu mereka di kejutkan oleh gerakan dari kedua makhluk kecil di sana, mereka pun menoleh ke arah di mana di mana Nathan dengan lucu nya menutupi mata milik nya dan juga milik adik nya, tapi bukan dengan jari yang tertutup rapat.
Melainkan jari itu di renggangkan, lalu apa gunanya menutup mata kalau masih bisa melihatnya.
Keduanya sempat terkejut saat mendapati mereka ada di kamar pribadi mereka, apa dia lupa mengunci pintu hingga kedua putranya itu bisa masuk ke dalam, lalu di mana para baby sitter nya, kenapa membiarkan mereka berjalan sendirian di lantai atas, itu sangat berbahaya dan tidak bisa di maklumi.
"Boy, little boy kenapa kalian di sini, dimana baby sitter kalian"
"Aku tidak mau mereka aku mau papa"
"Tadi kamu kesini dengan siapa Boy"
"Opa dan Oma"
Henry yang mendengar itu langsung ingin marah namun di tahan oleh Naomi, dan Henry mendengarkan apa yang di katakan oleh istrinya itu, bahwa mereka lah yang salah karena terlambat bangun.
"Bantu aku memandikan mereka, ini sudah waktunya sarapan" ucap Naomi meminta bantuan pada suami nya itu.
"Tidak perlu aku masih ingin tidur lagi, jadi kunci saja pintunya, aku ingin tidur di temani kalian bertiga"
"Tapi---"
"Tidak ada tapi sekarang berbaringlah lalu pejamkan matamu!"
Naomi menuruti apa yang di katakan suaminya itu, dan tak butuh waktu lama dia pun kembali tertidur dengan memeluk putra nya.