
Chapter 9
~Mama Panik 🏃♀️
"Sayaaang, kamu kenapa? kamu demam... " ucapan Mamaku begitu khawatir. Ia memegangi tanganku, mengusap dahiku dengan was-was.
"Nek, tolong ambilkan kompres di dapur. Aku telfon dokter sebentar". Nenek yang datang menghampiri ku bergegas ke dapur mengambil alat kompres untukku.
Setelah dokter tiba...
"Iya ibu, anak ibu sepertinya demam. Wajahnya juga memerah, badannya sangat panas. Untuk masalah jantungnya, kita tes dengan alat pendeteksi dulu ya bu" ucapan dokter sangat lembut, untuk menenangkan seorang Mama ku yang suka panik dan tergesa-gesa.
"Baik, kita tunggu hasilnya besok yah bu. Saya akan memeriksanya lagi mengenai jantungnya. Apakah nona pernah berkeringat dingin dengan jantung berdegup seperti ini? " Dokter menanyaiku.
"Tidak pernah dokter, selama ini aku normal saja". Aku meyakini ucapanku.
"Baik nona, bu.. sepertinya ini bukan permaslahan serius. Jadi saya harap anda dan nona jangan berfikir terlalu jauh". Dokter memberikan resep dan beberapa catatan untuk Mama. Lalu ia pun meninggalkan kami.
"Istirahatlah sebentar, nanti Mama kesini memberikan sup hangat"
Aku mengangguk saat Mama mulai melangkah meninggalkanku. Nenek mengompresku dan menjaga ku, memijat tangan dan kaki ku. Nenek benar-benar orang yang penuh kasih sayang.
......................
Sinar mentari menembus tirai yang menutupi jendelaku. Kamarku memang di desain khusus untuk bisa membangunkanku di pagi hari. Menghadap ke arah terbitnya matahari memang hal yang baik untuk remaja sepertiku.
"Maaa, aku sudah siap nih" aku menuruni anak tangga yang menuju ruang tengah dengan sedikit buru-buru. Mandi dengan air hangat memang pilihan yang tepat untuk menghilangkan pegal-pegal di badan.
"Kenapa sekolah sayang. Kamu sudah sehat? " Mama menghampiriku dengan wajah sedikit khawatir.
"Jangan di paksa, sekolah tidak menjadi segalanya Key. Kembali lah ke kamarmu". Aku menggeleng, aku harus bersekolah dan bertemu Shin. Aku penasaran, apa sebenarnya yang ingin ia katakan.
"Lihat lah ma, aku sudah sehat loh! aku tidak mau bebraring seharian" Aku mencoba untuk membujuk Mamaku yang akhirnya menyetujui kemauanku untuk pergi bersekolah, yesss!
Di gedung sekolah 🏫
Sudah menjadi hal biasa melihat Eiry menungguku dengan senyum riangnya. Dia benar-benar gadis yang riang dan ceria sekali. Dia seperti menjadi penyemangat dan menumbuhkan kesenangan dalam hatiku setiap hari.
"Pagi Key, kau sepertinya baik-baik saja. Mama mu menelfonku tadi pagi. Takutnya kamu pingsan saat bersekolah" Eiry sudah mendapat kabar dari Mama. Hemmmph, sejujurnya aku ingin tidak mengakui sakit demam yang tiba-tiba kemarin malam.
"Baiklah Key, aku harus ke ruang guru sebentar. Kau pergilah ke kelas dan bersantailah sambil menungguku" Eiry sering mendapat tugas untuk membantu persiapan dalam pelajaran yang akan dilaksanakan. Karena memang dia anaknya rajin dan pintar, guru-guru sangat menyukai nya. Aku pun pergi dan tidak menolak perintah Eiry.
Sretttt. Aaarghh...
"HEEEYYY!! " aku meneriaki siapapun itu yang berani menyeret lenganku dengan kasar. "Aku ingin bicara denganmu" Suara itu berasal dari mulut Ken. Dan dia sendirian?
"Apa yang kau lakukan, lepaskan tangankuuu!! "
"Kita harus bicara tanpa ada orang"
"Yah, bicaralah sekarang" Kami bersembunyi di balik pohon paling rimbun di sekolah ini. Tertutupi semak-semak yang tidak terlalu tinggi namun lebat. Tidak ada kursi taman ataupun tempat untuk duduk sebentar. Jadi kami berdiri seperti orang yang sedang mesum.
"Apa yang kau mau dariku, pemberontak" bentak Ken kepadaku.
"Hey, jaga mulutmu arogan. Untuk apa aku memberontak tanpa adanya perbuatan gila mu yang setiap hari mengganggu aktivitasku"
"Kau bisa katakan tanpa harus memberiku hal gila kemarin"
"Itu bukan aku" aku memalingkan muka.
"Aku tidak bodoh ya, gadis Asia siapa lagi yang gila dan berani berbuat seperti ini". Oouch, jadi Ken belum tahu inisial Kī yang ku perjelas bahwa itu aku. Kenapa harus susah-susah memikirkan clue tentang gadis Asia.
"Hey jawab, itu kau kan! "
"Yah. Lagian kalau aku berbicara denganmu itu tidak akan membuahkan hasil sama sekali" Kenborg terdiam. Hah, dia terdiam. Seperti sedang mencerna kata-kataku dan mempersiapkan untuk menjawab dengan jawabannya yang terbaik.
Ting tong ting tong...
"Pelajaran pertama akan di mulai 5 menit lagi. Di mohon para siswa untuk memasuki ruangan nya masing-masing"
Ting tong ting tong...
"Kau lolos kali ini yah, gadis pemberontak".
"Seharusnya aku yang bilang begitu, karena kau berhutang jawaban terhadapku" Mataku dan Mata nya saling menatap dengan garang dan kesal. Aaargh, awas kau yah.