
Chapter 32
~Asmara Masa Sekolah~
Sandaran tubuh bidang Ken memang pilihan yang tepat saat ini. Pelukan ini begitu mapan dan nyaman. Sampai-sampai aku lupa kalau aku sedang di lihatin teman-temannya Ken.
"Eh terusin aja terusin gak papa"
Ucap Gon malu-malu saat aku meliriknya. Bukannya aku yang harus malu disini.
"Ih, gausa memasang wajah memelas begitu kali. Aku juga gak cemburu kok"
Kata Luis dengan sedikit malu saat aku juga mengalihkan pandanganku padanya.
"Okey, aku juga gak akan liat kalian. Lanjut, mungkin next mau ngapain gitu. Hahaha"
Sentilan usil kata-kata Harith membuatku malu, benar-benar malu. Emangnya aku sedang ngapain sama Ken.
Aku langsung berdiri dang menjaga jarak dengan Kenborg. Malu kan dari tadi di pandangi 3 orang secara terus menerus tanpa sadar pula.
"Maaf, aku gak sadar. Aku kembali ke kelas"
Aku berdiri dan mulai berjalan meninggalkan mereka yang sedang bengong melihatku pergi.
"Eh tunggu Key, kau bisa bolos kelas kan"
Ken sedikit berlari untuk menyusulku dan menahanku.
Aku sedikit kasar dan melepaskan genggaman tangan Ken yang tidak terlalu erat. Sehingga dia kaget dan membiarkan ku yang pergi dengan sedikit berlari.
"Terimakasih untuk sandaran nya"
Ucapku dengan sedikit berlari meninggalkan ruangan basecamp itu.
Karena aku sudah mendengar adanya bel peringatan bahwa istirahat telah usai, aku sedikit mempercepat jalanku untuk kembali ke kelas.
......................
Saat berada di depan kelas.
Aku melihat Shin yang sedang merangkul Eiry berjalan membelakangiku. Mereka tidak tahu kalau aku berada di belakang mereka dan sedang memandang ke arah mereka. Tak lama kemudian Shevy menghampiri mereka yang juga sedang menuju ke kelas.
"He, kalian ini apaan sih? gak punya tata krama ya"
Itu suara Eiry sedikit lantang.
"Maksudnya"
Eiry menjawab dengan bingung.
"Coba kamu tengok ke belakang, sahabatmu sedang memandang rendah dirimu. Jalang!"
Shevy menunjuk ke arahku, dan mereka berdua langsung menoleh ke belakang menghadap ke arahku juga. Aku yang sedari tadi memandang mereka dengan tegang langsung semakin tegang.
"Ah.. Eh"
Kok jadi aku yang gagap disini. Seakan-akan aku yang sedang ketahuan melakukan sesuatu deh. Yaelaah...
"Aku bisa jelasin semuanya Key"
Eiry menghampiriku dan sedikit menggenggam tanganku. Tapi juga sedikit canggung untuk menatapku. Sedangkan Shin hanya memandangku dari jauh dan tidak menghampiriku.
Aku bukannya enggan berbicara dengan sahabatku, cuma aku terlalu malu untuk menghadapi Eiry dan perasaanku sendiri. Aku seperti orang yang plin plan sekarang. Setelah aku menyukai Shin, dengan tiba-tiba berpelukan dengan Ken. Dan di lihat oleh sahabatku dan juga Shin. Memalukan. Sepertinya justru aku yang jalang disini.
Aku meninggalkan Eiry tanpa berbicara sepatah kata pun. Tempat dudukku juga sedikit menjauh dari Eiry. Aku enggan di ganggu saat fokus pelajaran di mulai. Maaf Eiry, bukannya aku marah denganmu. Tapi aku juga butuh waktu untuk mencerna tentang siapa kamu, dan seperti apa perasaanku saat ini.
"He, mereka bertengkar?"
"Iyaaa, emang yah si Eiry gak tau di untung. Padahal dirinya selama ini kan parasit"
"Kok bisa gitu? "
"Kau gak tahu ya, selama ini yang bayarin jajan kan selalu Keysha. Mana pernah kamu lihat Eiry membayat di kasir saat selesai makan"
"Wah, kau sampai melihatny dengan detail begitu"
Aku mendengar beberapa bisik-bisik yang menjelek-jelekkan tentang persahabatanku. Aku tidak pernah memusingkan apakah aku hanya dia jadikan parasit atau tidak? Aku hanya berfikir ada hubungan apa antara Shin dan Eiry. Dan kenapa mereka tidak pernah memberiku penjelasan sama sekali. Aku ini apa bagi mereka? Apa mereka tidak mengganggapku sebagai teman mereka?
Percuma duduk menjauh dari Eiry, aku semakin tidak bisa konsentrasi saja.
"Pengumuman, besok kalian akan belajar di luar ruangan. Karena sekarang sudah memasuki musim semi. Jadi kita di perintahkan untuk belajar sambil menikmati keindahan musim semi sebagai penyemangat kalian belajar".
Bu guru memberikan pengumuman untuk besok. Setidaknya hanya itu yang bisa aku dengar saat pelajaran ini.
"Asiikkkkkk, besok kita study tour yah"
"Udah lama banget mendekam dalam ruangan selama musim dingin"
Hem, kalau di ingat lagi saat musim dingin. Sepertinya aku menikmati salju pertamaku dengan Ken, bukan Shin. Apa itu kebetulan? jelas-jelas aku punya janji dengan Shin saat itu. Tapi malah Ken yang muncul di depanku.
Apa memang Ken di takdirkan bersamaku?
Ah, pria pembully itu memang sudah baik sekarang padaku. Tapi bukan berarti aku bisa menjalin hubungan begitu saja dengannya. Terlalu berlebihan!
"Untuk seperangkat seragam, mulai besok kalian di anjurkan memakai seragam musim semi ya"
"Baik bu, musim dinginnya memang sudah lewat beberapa hari yang lalu. Suhu tubuh kami sudah mulai menghangat"
"Iya bu, lama-lama nanti gerah pakai seragam musim dingin ini"
Suara para pemotres itu. Suka sekali menghujat, sekalipun itu guru mereka. Yang membuat peraturan kan keluarganya Ken. Kenapa gak protes kesana aja. Dasar netijen!
"Hey Key, besok duduklah berdekatan dengan kami"
Shevy menawari tempat duduk bersama genk nya. Mungkin mereka tahu kalau aku duduk dengan Eiry akan membuatku terganggu.
"Entahlah, aku juga tidak tahu harus bersama siapa besok? "
"Oke, kita memang bertiga. Jadi nambah kamu satu kan jadi genap nih. Cocok donk yah, duduknya berdua-dua"
"He'eh. Betul banget tuh"
Sejujurnya aku tidak nyaman juga sih dengan mereka. Tapi aku mana ada teman selama ini. Kan memang selama ini aku selalu bareng Eiry. Seperti tidak membutuhkan oranglain saja. Yah, karena aku dan dia sudah terlalu nyaman berdua kemana-mana. Sekarang rasanya seperti ada yang hilang.
"Key, kau sudah tidak mau bersamaku"
Eiry datang menghampiriku.
"Sebelum kamu menjelaskan segalanya"
Jawabku segan.
"Besok akan ku jelaskan semuanya Key. Dan tidak sekarang di depan para pemfitnah ini"
"Cukup Ry, tanpa mereka kamu juga tidak akan pernah jujur padaku. Sekalipun berita yang mereka berikan padaku tidak semuanya benar. Pasti beberapa ada yang benar dan itu membuatmu sekarang mulai berfikir keras kan!"
Jawabku ketus. Aku mulai kesal saat dia menyinggung kata besok. Kenapa dengan sekarang? Haruskah dia tunda sampai besok dan membuatku berfikir sepanjang hari untuk menanti esok.
Keterlaluan!
Eiry tidak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya. Ia meninggalkan mejaku dan duduk kembali di tempatnya. Dia memasang wajah sedih dan kecewa. Apalagi aku? Kenapa pula aku harus memikirkan dia? Aku juga sedih dan kecewa. Aku bukannya memilih Shevy daripada kamu. Tapi aku sedang memberimu ruang dan waktu untuk berfikir tentang persahabatan kita yang tega kamu hianati ini.