
Chapter 46
~Berdua~
ghhoorrghh.....
ggooorhhkk....
Uhhh... Suara apa ini? Berisik sekali...
Saat ku lihat jam di pergelangan tanganku. Sudah menunjukkan pukul 16:00.
Perjalanan yang lumayan panjang dan melelahkan. Tidurku juga lumayan nyenyak. Sebentar lagi akan mendarat. Sebaiknya ku bangunkan gadis lugu ini. Suara aungannya benar-benar merusak harga dirinya. Hahahaha.. Dasar bodoh.
"Banguunn... Heiii.. Babi kecil... "
Aku pencet hidungnya sehingga dia kesulitan bernafas.
Siapa suruh dia mendengkur. Uh, sampai orang-orang pada melihat ke arahku dan dia. Dasar, mungil tapi mendengkurnya keras sekali.
Ghrookk.. horgk.. grok..
Arrgh....
Suara jeritan dari si gadis kecil di sampingku.
"Akhirnya kau bangun jugaa.. "
Aku menatap ke arahnya.
Wajahnya yang berantakan tetap saja terlihat natural. Cantik.
Ugh...
"Kauuuu, memencet hidung kecilkuuu"
Dia memprotes. Hahahaha.. Dasar babi kecil. Lucu sekali...
"Kau mendengkur bodoh. Aungan mu seperti babi kecil yang baru bisa bicara"
Aku menggoda nya sambil tanganku bersendeku.
"Aku tidak mendengkur. Enak sajaaa! "
Dia memalingkan muka nya. Seperti nya dia malu.
"Hahahaha... Ku panggil babi kecil ya sekarang"
Aku mencubit hidung kecil nya.
"Enak sajaaaa! Tidak. Aku kan bukan babi. Lihat body ku kurus begini. Bagaimana bisa kau panggil aku babi"
Dia memberontak saat aku memencet hidung nya.
"Hahaha. Berhenti memberontak. Kita sebentar lagi sampai. Kita harus bersiap, cuci muka mu ke toilet sana. Perbaiki wajahmu"
Godaku pada Key.
Sebenarnya dia sudah cantik, dia juga berwajah natural seperti gadis asia pada umunya. Kulitnya begitu lembut dan halus. Disini biasa nya ada bintik-bintik coklat di kulit. Tapi gadis Asia seperti dia sangat cantik dan mulus sekali. Ugh, kenapa aku malah melamunkan dia?!
"Selamat sore para penumpang... Harap bersiap karena pesawat segera mendaratkan ke bandara kota Tateyama. Di mohon untuk duduk di tempat masing-masing karena pesawat akan landas. Terimakasih! "
Pramugari itu berbicara bahasa international dan di sambung di sampingnya dengan bahasa jepang. Yah, karena pesawat ini penumpang nya juga banyak yang berwarga jepang. Terlihat jelas dari wajah-wajah mereka. Mirip dengan Key. Hahahaha...
......................
"Aaaaahhhhh, legahnyaaaaa.. Pinggangku sakit sekakii"
Key mengeluh sepanjang jalan setelah turun dari pesawat.
"Rambut yang tadi menggeluntung sekarang berantakan yah"
Godaku sambil memainkan rambutnya.
"Berhenti memegang i rambutku Ken. Uugh... "
Key menepis tanganku.
"Hahaha... Dasar gadis culun"
Aku menggandeng pundaknya dan mengajaknya berjalan sedikit cepat. Perutku sangat lapar.
"Kenapa kau merangkulku?"
"Berhenti memberontak. Kau jalannya lambat sekali. Aku kelaparan"
Key seperti nya punya alasan kenapa dia berjalan begitu lama. Dia masih pusing karena baru turun dari pesawat. Hahaha.. Norak sekali... Persis gadis desa yang belum pernah naik pesawat.
Aku mencarikan soup pereda pushing dan pengar. Ku harap soup ini enak. Karena aku sama sekali tidak pernah makan makanan Asia begini.
"Aku tidak tahu selera makanmu. Jadi ku harap kau suka"
Karena aku suka seafood, jadi aku carikan saja soup seafood. Dan entahlah, aku belikan beberapa untuknya agar dia bisa memilih Soup apa yang dia suka.
"Kau beli banyak sekali. Waaaaah... Ada soup kerang... Emmmm, enak sekaliiiiii seperti nya. Aku cicipi ya"
Key lucu sekali. Haha.. Matanya berbinar-binar seperti bayi kecil yang sedang di suapi makan.
"Makanlah yang banyak. Redahkan pengarmu itu. Tujuan kita masih panjang"
Ucapku seraya menyemangati nya.
Nanti, aku akan ke hotel. Aku sekamar atau tidak ya. Hehehe... Apa aku bisa melakukannya sekarang? Apa dia mau? Heheheeee..
"Heeeii. Ayo makan! kenapa kau malah senyam senyum seperti orang bodoh begitu? "
Key menggebrak meja dengan sendoknya.
"Tentu saja, aku hanya kaget dengan cara makanmu itu"
Aku melihatnya makan begitu lahap dan menghabiskan dua mangkok. DUA MANGKOK!
......................
Setela kami kenyang, aku sudah merencanakan untuk membawa nya ke sauna. Yah, aku tahu dia pasti tidak suka ke hotel. Padahal lebih baik tidur di hotel berdua. Hehe
"Kita ke sauna. Aku sudah punya rencana. Sebelum kesini aku menyelidiki tentang siapa ayahmu itu"
Aku membisikkan ideku padanya.
Sebelum berangkat ke Jepang, tentu saja aku tidak akan gegabah langsung berangkat kesini tanpa adanya persiapan apapun.
Aku tidak boleh mengecewakan Key.
Setelah ku selidiki di ruang kerja kak Roy, ternyata ada nama pebisnis dengan marga Hasashi. Aku yakin sekali pasti itu dia. Tapi dia tidak mencantumkan nama keluarga nya seperti Amenda Yoi ibunda Key. Atau Keysha anaknya sendiri. Aku jadi kurang yakin tentang hal ini.
Sesampai di sauna, sedikit ramai yah. Tempat begini memanglah ramai. Tidak di ragukan seperti nya cemilannya enak. Beli beberapa ah.
"Key, aku akan pergi membeli cemilan. Tunggu disini dan coba kau baca beberapa lembar yang sudah ku persiapkan kemarin"
Aku meninggalkannya dan dia hanya terdiam dengan memandangi lembaran-lembaran yang ku berikan padanya.
Tidak ku sangka, antrian yang panjang. Aku sudah tidak sabar mencicipi cemilan dari khas negara ini. Seperti nya nikmat sekali.
Aku sampai rela mengantri beberapa menit demi mendapatkan cemilan-cemilan enak itu. Hemmmm... Tanpa cemilan aku tidak akan bisa menggunakan otak dungu ku ini. Hahaha...
"Hey nak. Kau pesan apa? "
Nenek itu berbicara menggunakan bahasanya, sudah ku pastikan dia pasti bertanya aku pesan apa?! Jadi aku langsung menunjuk beberapa gambar disitu tanpa berbicara.
Karena disini tidak ada sistem bayar langsung, jadi aku tidak perlu ribut-ribut untuk mengartikan berapa uang yang harus ku bayar. Nanti itu urusan Key saat keluar dari sauna ini. Hehee..
"Keeeeey.. cemilan datang.. "
Key...
Eh! kemana dia? tadi dia di sebelah sini.
Aduhhh! Apa dia sudah pergi untuk mencari Papa nya tanpa mengajakku. Atau aku harus mencari ke seluruh sauna.
Bagaimana bisa dia pergi tanpa berpamitan? Dasar Keyshaaa... Dia membuatku khawatir. Aku bahkan tidak bisa berbicara bahasa Jepaaaaang.... Sungguh aku ingin teriak hari ini.
Aku tanya petugas yang berada di loket pembayaran saja. Nomer Key sudah keluar apa belum dari sauna ini? Semoga membantu...
Aku bergegas berlari ke loket pembayaran.
"Eh... Anu.. 27.. Out.. "
Aku menunjuk pintu keluar.
Dia berbicara bahasanya, aduh ngomong apa dia yah. Aku menyilangkan tanganku dengan artian aku tidak mengerti bahasamu.
Lalu dia menggunakan bahasa isyarat sepertiku. Menggunakan tangan yang sama. Yaitu menyilang. Eh?! Sebenarnya dia mengartikan Key tidak keluar atau dia juga bingung lantas meniruku.
Aku merasa, dia dan aku sekarang seperti orang bodoh yang mengangkat-angkat tangan tanpa bicara. Menunjuk kesana kemari seperti orang gila. Aaaargh,.... Sia-sia aku bertanya. Mungkin benar, maksud dia no 27 belum keluar dari sauna ini. Lebihbaik aku mencari nya di dalam sini. Tidak terlalu banyak jika di bandingkan mencari nya hilang di tempat konser.