Who Am I ?

Who Am I ?
Rencana ke Jepang



Chapter 43


~ Rencana ke Jepang~


Liburan musim semi memang paling cocok untuk menikmati keindahan alam. Kecantikan ku ini tidak seharusnya ku diamkan di dalam rumah saja. Setidaknya aku harus mengajak Shin jalan-jalan.


Aku lelah harus membantu keluargaku mengerjakan pekerjaan admin di travel Papa. Aku juga sedang berlibur dari kerja part time ku. Akhirnya aku benar-benar berlibur.


Kring... Kring.. Kring..


Wah, belum juga ku telfon dia sudah menelfon duluan.


"Halo Sayang.. "


Suara dari telepon. Itu jelas kekasihku Shin.


"Hay, Aku baru saja akan menghubungimu. Setelah liburan bersama teman-temanmu, mungkin sekarang saat yang tepat untuk kita berdua Shin"


"Oh tentu sayang. Aku memang merencanakan liburan panjang ke luar negeri. Tapi bukan untuk liburan saja, kita kerumah nenekku. Oke"


Shin bersuara riang dari telepon.


"APA! Shin.. Kau yakin memperkenalkanku kepada Nenek dan keluarga mu yang lain disana? "


Aku tampak ragu, aku gadis miskin begini... Sebenarnya aku bukan gadis miskin sih. Hanya saja, jika di bandingkan dengan kekayaan teman-temanku..


Dulu...


Aku gadis kaya yang supel saat SMP. Disana seperti hanya aku yang kaya karena aku anak pengusaha travel. Teman-temanku adalah anak dari seorang guru, petani, dan ada juga yang ibunya hanya seorang pembantu. Ayahnya menjadi karyawan. Aku sangat bersyukur saat itu. Dan kali ini, pacarku benar-benar seorang ahli waris. Bahkan sahabatku Keysha juga ahli waris tunggal. Perusahaan besar yang sangat sulit untuk di bangkrutkan. Sedangkan usaha keluargaku yang kecil-kecilan begini. Cukup untuk makan mewah saja sudah banyak bersyukur.


"HAAALOOOOO....! Hey..."


"Aduh, maaf Shin aku melamun..."


"Aku sudah meneriaki mu sepanjang detik. Sampai tenggorokanku kering. Aku yakin kau melamun tentang keluargamu kan. Sudahlah sayang, Nenek tidak akan mempermasalahkan siapa kamu"


Shin mencoba menenangkanku dengan suara lembutnya.


"Tapi orangtua mu Shin"


Jawabku lesu.


Aku benar kan. Mungkin Neneknya tidak mempermasalah kan asal muasal keluargaku. Tapi Orangtua nya lah yang mempunyai kewajiban itu.


"Kau ingin segera menikah denganku! "


"Hey apa maksudmu?! "


"Lantas kenapa mempermasalahkan orangtua ku sekarang? Itu akan ku pikirkan nanti. Jadi berhentilah memikiran masa depan itu. Pasti akan ada jalan untuk hubungan kita"


Shin benar. Aku selalu memikirkan hal yang belum sepantasnya ku pikirkan. Bahkan hubunganku belum tentu bisa sampai ke jenjang pernikahan kan. Ini masih awal, hanya cinta monyet. Kenapa aku memikirkan bahwa Shin adalah calon suamiku?!


"Baiklah.. Kita hanya berkunjung kerumah Nenek kan. Asik.... Aku jalan-jalan. Kapan kita berangkat Shin?"


Sekarang jantungku mulai berdebar. Jepang! I'm coming.....


"Kau terdengar riang sekarang"


Shin juga bersuara tak kalah riang dariku.


"Tentu sajaaa, aku akan segera berkemas. Besok kan kita berangkat"


Jawabku antusias.


"Tidak sayang, nanti malam kita berangkat. Aku sudah pesan tiketnya"


Shiinn.... Ku kira besok terlalu cepat. Ternyata dia mau nya nanti malam. Ya ampun... Senangnya..


"Ku tutup telfonnya. Berkemaslah yang rapi. Daa sayang"


Beep. Telepon dari Shin sudah selesai. Saatnya berkemas... Ahh, setelah sejak pagi membantu Mama membereskan dokumen travel. Sekarang aku akan ke kamar untuk memilih beberapa baju yang akan aku kenakan nanti.


Jika di pikir-pikir, beberapa hari yang lalu sudah usai berkemah dengan Shin dan teman-teman nya. kemarin juga aku sudah membantu travel Papa non stop sampai malam. Sekarang aku bersantai dan nanti malam akan berangkat ke Jepang. Negara yang sangat ingin aku kunjungi. Setelah berkemas aku akan meng istirahat kan tubuh ku sejenak sebelum naik pesawat.


......................


Beep


Pesan masuk pukul 17:50


Keysha :


Shin :


Sayang, ku tunggu pukul 19:00 di depan rumahmu nanti. Jangan ceritakan pada Key atau Ken tentang liburan kita. Karena kita hanya akan pergi berdua.


Aku terbangun saat pesan-pesan penting itu masuk ke dalam ponselku.


Yaaah yah, aku tahu. Aku akan menjaga rahasia ku dengan Shin terlebih dulu. Tapi pasti akan ku ceritakan juga kalau aku pergi liburan dengan Shin ke rumah neneknya.


Lagian Key juga lagi sibuk, bagaimana mungkin ak menceritakan kebahagiaanku di saat dia sedang mencari Papanya.


Aku harus bersiap. Karena sebentar lagi Shin akan menjemputku. Dia kan selalu on time. Dan gila nya mendahului jam yang di tentukan sendiri. Aku jadi terburu-buru saat berdandan. Itu akan mengacaukan make up natural ku nanti.


......................


"Kau sudah siap sayang, aku sudah mengijinkan ke orangtuamu. Dan mereka benar-benar mengijinkan ku membawamu"


Wajah Shin tampam begitu riang karena dia takut tidak akan di ijinkan mengajakku pergi.


Bagaimana bisa orangtuaku membiarkanku pergi dengan anak konglomerat seperti Shin? Tentu saja mereka sangat menantikan menantu yang bisa mengangkat derajat mereka dari bawah.


Menurutku hidupku sudah cukup sederhana dan bahagia. Mungkin Mama dan Papa lelah harus bekerja banting tulang siang sampai malam setiap hari.


"Orangtuaku menyukai mu Shin. Tentu saja mereka mengijinkan kau membawaku"


Jawabku menyenangkan hatinya.


"Benarkah? Apa mereka tidak takut aku berbohong dan berani macam-macam padamu?"


Yaaaa... Sekalipun kau macam-macam dan ternyata aku hamil anakmu. Orangtuaku pasti jauh lebih bahagia mendengar ini. Karena aku akan di nikahkan denganmu dan menjadi Nyonya di keluarga Shin yang kaya raya itu.


"Kenapa kau diam sayang?"


Shin mengagetkan ku.


"Hehe.. Tidak, hanya saja aku berfikir mungkin orangtua ku sudah sangat mempercayai mu"


"Terimakasih sayang"


Shin tersenyum lebar sambil mengusap-usap dahiku dengan tangannya yang lembut.


Perjalanan kami tidak begitu lama, beberapa menit sudah sampai di bandara.


Aku dan Shin di antarkan sopir pribadi nya Shin. Dan dia membawa pulang mobil mewah Shin setelah menrunukan ku dengan Shin di sini.


"Shin, Apa sopirmu itu tidak akan comber? "


Aku takut sopirnya akan mengadu pada Mama dan Papa nya.


"Comber? Bahasa apa itu sayang? "


Shin membuatku geli. Wajahnya yang begitu manis dengan tatapan polosnya sedang bertanya.


"Hahahaha.. Wajahmu lucu sekali sayang"


Aku tertawa geli.


"Hey aku serius!! "


Shin menunjukkan wajah serius nya. Persis seperti anak berusia 5 tahun yang sedang bertanya benda apa itu pada ibu nya. Hahaha.. Menggemaskan sekalii.


"Maksud ku, Apa kau tidak takut sopirmu akan mengadu pada orangtua mu Shin? "


"Oh, jadi comber itu mengadu. Kenapa tidak bialng dari tadi. Apa itu bahasa gaul anak perempuan ha?! "


Shin melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.


"Shin lepaskan ih.. Malu di lihat orang. Kita masih anak sekolah"


Aku geli karena ini tempat umum.


"Bagaimana mereka bisa tahu kita anak sekolah? Anggap saja aku seorang CEO sekarang. CEO muda. Hahahah" Dia tertawa begitu riang seperti tanpa beban. Aku bersyukur untuk itu Shin. Aku juga ikut bahagia.


"Shinnnn..... Jawab pertanyaanku tadi! "


"Tentu saja tidak sayang. Dia sopir pribadiku. Mama dan Papa juga punya masing-masing. Mereka tidak akan mencampur aduk urusan pribadi mereka. Karena yaaah, kehidupan bergelimang uang kadang tidak se bahagia kehidupan orang-orang sederhana. Sepertimu! Aku bahagia bersamamu. Ayo kita lekas berangkat"


Shin... Aku juga bahagia bersamamu. Mungkin ini masih awal hubungan kita. Tapi aku sangat bersyukur meskipun ini hanya bertahan menjadi kisah kasih masa mudaku. Aku tersipu malu dengan kata-kata yang barusan dia lontarkan. Betapa bahagia nya aku karena dia merasakan hal yang sama. Terimakasih... Terimakasih Shin sayang.