Who Am I ?

Who Am I ?
Sebuah Harapan



Chapter 64


~Sebuah Harapan~


Setelah menunggu beberapa jam saat Mama pulang, aku sudah siap mengatakan segalanya kepada Mama ku. Tapi, melihat wajah Mama yang lesu begitu aku tidak tega. Dia terlihat lelah sekali. Setiap pulang memang begitulah wajah Mama. Aku tidak berani membuat Mama semakin terpuruk karena aku telah berbohong padanya. Apa aku tunggu Mama liburan saja yah.


"Maaa.. Selamat datang. Sini Ma ku bawakan dokumen-dokumen nya"


Aku menyahut beberapa tas dan dokumen yang di pegang Mama. Sungguh, aku sangat tidak tega melihat Mama ku yang seperti ini. Dia juga sedang merindukan Papa. Tapi Papa membuangnya karena kesalahan Mama sendiri.


"Eh, tumben sekali nih si Keysha... "


Mama terlihat bingung saat aku membantu nya. Karena aku jarang sekali membantu Mama. Bahkan hanya untuk sekedar menyambut Mama pulang pun aku hampir tidak pernah. Aku memilih berdiam diri di kamar tidur ku dan menunggu jam makan malam saat bibi memanggilku turun.


"Tidak apa-apa Ma, aku hanya merasa Mama terlihat begitu lesu "


Aku berpura-pura.. Dan Mama mempercayai nya.


"Baiklaah. Mama akan pergi mandi, lalu kita makan malam. Oke"


Mama pergi meninggalkan ku.


Aku pergi menuju ruang kerja Mama untuk membereskan barang-barang Mama yang ku bawa.


Setelah semua berkumpul di ruang meja makan, aku ikut duduk disana dan bingung akan mengatakan nya atau tidak kepada Mama.


"Bi, menu nya hari ini apa? "


Tanya Mama pada bibi yang mengantar beberapa makanan.


"Saus seafood pedas, sayur tumis lobak dan wortel, sup kerang kesukaan Nona Key, udang goreng, kentang tumbuk dengan susu sebagai penutup"


Bibi pergi lagi dan mengambil beberapa.


"Asik, ada sup kerang... "


Aku berteriak gembira.


"Asik, ada kentang tumbuk jugaaa"


Nenek ikut bergembira.


"Baiklah, kalian nikmati makan malam ini. Ayo"


Ucap Mama. Aku sudah segera menyeruput sup kerang ku bersama sayur tumis lobak yang rasanya menurutku agak aneh ya.


Setelah kami menyantap begitu banyak makanan berat, akhirnya kami semua mulai mengantuk.


"Mama pergi ke kamar duluan ya, Mama capek sekali.. Hooaaaaammm"


Mama sampai menguap. Seperti nya pekerjaan Mama hari ini begitu banyak.


"Mama tunggu... Key mau ngajak Mama bercerita tentang liburan Key kemarin"


Bujukku pada Mama.


"Tumben sekali kamu mau bercerita. Tapi maaf ya Key, Mama hari ini sangat lelah. Besok saja ya, atau tunggu waktu luang Mama"


Mama langsung berdiri dari meja makan, dan pergi meninggalkan aku dan juga Nenek yang masih bingung harus bagaimana?


"Neeekk.. "


Rengekku pada Nenek.


"Sudah, kita lakukan pelan-pelan saja. Nanti pasti ada saat nya untuk bicara dengan Mama mu"


Nenek mengelus-elus rambutku.


...----------------...


Dua hari lagi aku akan pergi ke sekolah, aku harap masalah ini lekas selesai sebelum kembali ke sekolah. Aku tidak mau beban ini malah semakin membuatku kepikiran.


Pagi ini, aku menyapa Mama saat bersiap kerja.


"Ma, pulang cepat ya.. Key kangen Mama.."


"Iya sayang. Mama usahakan.. "


Mama menyantap roti dengan begitu cepat dan minum setengah gelas susu lalu pergi.


...----------------...


Pukul 17:00


Aku sudah bosan menanti Mama, pasti Mama pulang malam lagi. Sekitar jam 20:00 biasanya Mama pulang. Kenapa Mama tidak pernah ada waktu untuk anaknya. Sekarang aku baru sadar, kenapa aku sering berada di kamar tidur?! Karena Mama juga tidak dirumah.


Ting tong...


Astagaa, bel rumah berbunyi. Ku harap Mama datang.


"Hay sayaang... "


Saat pintu terbuka Mama berteriak padaku. Aku, segera memeluk Mama yang datang.


Astagaaa, aku baru sadar. Setelah sekian lama aku tumbuh remaja, baru ini aku memeluk Mama lagi. Mungkin terakhir kali aku memeluk Mama saat usiaku 10 tahun. Memalukan sih...


"Mama tahu, mungkin ini saatnya Mama ada waktu bersama kamu"


Mama mengelus rambutku dan tersenyum. Ternyata Mama juga baru menyadari bahwa selama ini kami begitu jauh dan jarang sekali mengobrol.


"Masuk yuk Ma. Aku ambilkan buah dan cemilan yaaa"


Jawabku antusias.


"Baiklah, siapkan cemilan yang enak. Dan coba kamu pesan makanan antar juga. Mama mau mandi sebentar"


Mama langsung pergi ke kamarnya.


Setelah menunggu Mama selesai, aku sudah membawa bingkai foto namun ku sembunyikan di balik bantal kursi.


"Wah, makanannya banyak. Mama ingin meneguk alkohol kaleng ini. Boleh ya? "


Mama mengambil Kaleng soda beralkohol dari lemari es.


"Baiklaaah, tapi jangan terlalu mabuk"


Jawabku kesal.


Akhirnya aku mulai bercerita dengan di temani Nenek di sampingku. Nenek khawatir, jika terjadi sesuatu padaku, atau Mama tiba-tiba menjadi HULK Nenek akan sigap melindungiku.


Mulai kuceritakan saat aku bertemu Ken dan dia mengajakku liburan. Mama meneguk minumannya sedikit demi sedikit. Saat aku menyinggung kata Jepang, Mama sedikit kaget. Namun dia tetap meneruskan minum nya. Aku juga bercerita sempat bertemu Eiry, justru Mama tersenyum gembira.


"Eiry juga ke Jepang. Mungkin akhir-akhir ini banyak yang suka berlibur kesana. Mama jadi rindu.. "


Mama menjawab seakan-akan benar memang Mama ku adalah Amenda Yoi yang berasal dari Jepang.


Aku tahu, Mama sedikit mabuk. Mungkin ini bisa ku manfaatkan agar Mama mau bercerita yang sebenarnya. Karena aku yakin, Mama akan menutup-nutupi nya lagi.


Aku semakin memancing menceritakan keseruan ki di Jepang bersama Ken, Eiry dan Shin. Bahwa aku kesana demi mendapat Festival Hanami. Mata Mama tiba-tiba berkaca-kaca.


"Mama? Kenapa Mama bersedih? Bukankah cerita Key bahagia?"


Aku mendekati Mama.


"Mama hanya mengingat serpihan-serpihan kenangan tentang festival Hanami dengan Papamu"


Kan, benar.. Mama akan jujur padaku saat mabuk begini. Lagian, dulu kalaupun Mama sedang mabuk, bagaimana aku bisa tahu kalau memancing nya dengan Negara asalnya yaitu Jepang?! Gak apa-apa lah, terlambat asalkan semua nya berjalan dengan baik.


"Ma, aku ke Jepang bertemu seseorang bernama Hasashi. Dia menolongku saat aku di culik orang. Dan Ken bertemu dengannya. Lalu saat kami selamat, dia lah orang yang menyelamatkanku"


Cerita ku tidak sepenuhnya bohong, tapi aku tidak mau Mama tahu aku kesana karena mencari Papa. Aku takut Mama akan marah sebelum aku tahu cerita sesungguhnya.


"Hasashi? "


Mata Mama terbelalak. Lalu menangis tersedu-sedu. Dengan tiba-tiba.. Nenek yang sedari tadi melihat pun ikut mendekati Mama. Dan membisikkan Mama sepotong kata.


"Sesuatu yang di pendam terlalu lama itu tidak baik. Kau bisa mengungkapkanya kapan saja. Namun, jika terlalu lama hati mu lah yang sakit memendam begitu banyak luka"


Mama semakin terisak. Seperti nya Nenek tahu segala nya tentang Mama. Dan mungkin, Nenek tahu karena Mama dulu bercerita pada Nenek. Ku harap Nenek mebantu ku untuk mengetahui segala nya tentang kejadian dimana Mama dan Papa ku berpisah.