Who Am I ?

Who Am I ?
Kehidupan putri yang malang



Chapter 26


~Kehidupan putri yang malang~


Aku malu harus mengakui bahwa aku adalah anak dari keluarga kurang mampu. Tapi aku tetap harus menerimanya bagaimanapun keadaan orangtua ku. Setidaknya aku bahagia karena Mama dan Papa sangat menyayangiku dan memberikan begitu banyak kasih sayang.


Sekalipun Papa pemilik travel, tapi itu tidak bisa dikatakan banyak uang karena banyak nya keluargaku yang masih butuh untuk di biayai termasuk aku.


"Ry, kau sudah pulang nak"


"Iya ma, aku harus mandi dan bersiap untuk kerja part time ku"


"Kau jangan terlalu memaksakan diri"


"Ma, biaya ekstrakulikuler di sekolah tidak murah Ma. Dan itu wajib! Mama tahu kan, aku bukan anak yang mendapat beasiswa. Jadi aku harus tetap membayar dengan harga yang sama"


Mama sepertinya malu saat aku bicara dengan begitu lantang dan jujur.


"Gak apa-apa Ma, aku masih mampu. Dan ini demi ijasah yang akan aku dapatkan nanti kan. Ini akan berguna untuk travel ayah sebagai promosi dan juga aku bisa lekas bekerja saat lulus nanti"


Mama hanya mengangguk pasrah dan tidak melarangku berangkat kerja.


Aku hanya kerja part time di hari-hari tertentu. Yang artinya tidak setiap hari aku melakukan kegiatan ini. Tidak ada yang tahu selain keluargaku, apalagi Keysha sahabatku, maupun Shin yang sudah berpacaran denganku. Ini terlalu kejam jika mereka tahu aku bekerja.


Tidak jajan pun tidak apa, aku juga tidak terlalu mengharapkan belas kasihan pada Keysha. Yang ada malah dia setiap hari mentraktirku. Aku tidak mau itu.


"Maa, aku berangkat dulu"


Setelah mandi dan makan sedikit untuk mengganjal perutku. Aku langsung berlari menuju tempatku bekerja.


Aku bekerja di salon sebagai pembantu atau lebih di kenal dengan asisten. Yah, karena aku masih sekolah dan tidak punya sertifikat mengenai fashion. Setidaknya aku bisa dan berpengalaman tentang nama-nama asing dalam dunia fashion.


Aku bekerja 1 minggu 3 kali. Dan itu waktunya selalu dipisah jarak 1 hari. Sudah ketentuan dari pihak salon nya.


"Ry, tolong ambilkan alat cutter dan dryer yah"


"Baik sis... "


Yah, sepertinya tidak di sekolah tidak di luar rumah aku tetap saja menjadi jongos orang-orang. Apa aku memang di takdirkan menjadi pembantu seumur hidup?.


"Ry, kau bisa mencuci rambut pria itu. Aku masih melayani cat kuku. Nanti setelah kau mencuci rambutnya panggil aku"


"Oh baik sis, pria berbaju putih itu kah?"


"Yes, lekas lah jangan lelet"


Aku bergegas menghampiri pria yang menggunakan kemeja berwarna putih itu. Dia seperti orang kaya, tampilannya juga keren dan menawan.Tapi, kok kelihatannya gak asing yah.


"Permisi, silahkan masuk ke ruangan cuci rambut. Saya akan melayani anda"


Sret...


Saat dia menoleh dan menatap wajahku. Aku tidak salah kan, itu Shin!


"Eiry"


"Esssshiin!"


Aku tertegun dan sedikit kaku untuk berbicara mengucapkan namanya. Rasanya gugup sekali. Dan aku melirik manajerku sedang mengawasi ku. Aku gak mau sampai berbicara terlalu banyak disini dengan pelanggan.


"Eh, silahkan masuk dulu kak ke ruangan cuci rambut"


Aku menatap wajahnya yang mengisyaratkan tanda tanya?


Yah aku tahu, dia pasti bingung dan penasaran. Kenapa aku bisa ada di tempat seperti ini dan melayaninya pula.


Oh Tuhan, mungkin ini sudah saatnya aku jujur kepada semua orang tentang diriku ini. Yah, setidaknya aku juga harus jujur kepada Shin kekasihku sendiri.


Saat memasuki ruangan pencucian rambut.


Aku mulai berani untuk sedikit berbicara karena ini ruangan khusus untuk pelanggan dan karyawan.


"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau membantu usaha orangtuamu Ry"


"Orangtua ku? "


"Iyah, karena aku juga begitu. Kau benar-benar anak yang rajin Ry. Aku baru tahu kalau orangtua mu pemilik Salon Spa ini "


"Emm, sejujurnya aku bukanlah anak dari pemilik Spa ini"


"Shin, aku tidak sekaya yang kau bayangkan. Ingat aku anak kasta 3"


Aku sedikit kesal, bagaimana bisa Shin tidak sadar aku ini bukan kasta 1. Dan harta warisanku juga bukan milikku seutuhnya. Harta apa? Mobil yang di sewakan itu kah?


"Tidak apa sayang. Lantas kamu kenapa disini? "


"Aku bekerja! "


"Untuk apa? Biaya sekolah kamu kurang? "


"Enggak kok Shin, aku cuma ingin mencukupi diriku sendiri"


Yah, aku harus berbohong lagi. Baru juga jujur, sudah berbohong lagi. Apa hidupku ini penuh dengan kebohongan yah. Menyedihkan sekali.


"Hem, kenapa tidak pernah bercerita selama ini? "


"Aku tidak mau membebani mu Shin. Aku tidak mau terlihat aku butuh pengasihan. "


"Baiklah, lakukan tugasmu ini"


Aku menyelesaikan pencucian rambut Shin, lalu meninggalkan dia pergi. Karena memang selanjutnya bukanlah tugas anak amatiran sepertiku. Bisa-bisa rambutnya Shin terpangkas semua jadi gundul.


Setelah bekerja beberapa jam, ini saatnya aku mengistirahatkan jemariku 15 menit.


Aku jadi kepikiran dengan Keysha. Seharusnya aku jujur sejak dulu, dan aku gak boleh memakan kan sahabatku sendiri demi ke egoisanku begini. Bagaimana pun, Keysha adalah anak yang benar-benar polos. Dia langsung jatuh cinta saat Shin menggoda nya. Aku wanita yang jahat sekali.


Hiks... Perih rasanya hatiku, memang benar kata pepatah.


..."sekali kamu berani berbohong, selamanya kamu akan terus mengucapkan kata kebohongan"...


Yah. Benar sekali, karena seperti sudah terlanjur masuk dalam jurang kebohongan. Jadi mau tak mau aku harus terus berbohong. Kalaupun mau jujur, pasti ada hal yang di tutupi lagi. Uh, kapan yah waktu yang tepat untuk mengakui segalanya?


Beep


"Ku tunggu kau pulang kerja part time mu. Aku perlu bicara"


Pesan masuk dari Shin. Sepertinya dia masih tidak puas dengan jawaban-jawaban yang telah aku berikan.


"Baik, tunggu 30 menit lagi"


Aku harus menyelasaikan pekerjaan ku dan lekas pergi menemui Shin.


"Hei, kau mau kemana? "


Duh, siapa sih yang menarik tas ku begini. Eh! ternyata si Alice. Si judes ini mau ngapain lagi. Apes banget hari ini.


"Kau belum boleh pulang yah? sekarang kau harus bantu aku beresin ruangan sebelah! "


"Kak Alice, saya sudah bersihkan ruangan A. Saya sedang buru-buru"


"Ruangan sebelahnya juga! sebagai junior kn memang harus begitu. Jangan seenaknya pergi duluan. Yang senior aja masih beres-beres"


Uh... Sebel banget! Siapa suruh dia dari tadi mainin ponselnya mulu. Sekarang giliran ada yang kelar duluan jadi iri. Aku mana bisa berani ngelawan si nenek lampir ini. Kalau Keysha pasti sudah di bentak tuh. Lagian kasar banget, duh.. Tas murahan ku jadi mau copot gini deh tali nya.


"Ry, sudah beres. Ayo"


Shin datang menjemputku ke dalam dan menyeretku secara tiba-tiba. Ih, ini anak kelakuannya lama-lama mirip si Ken deh. Sok jagoan!


Aku malah takut Shin kenapa-kenapa nantinya.


"Shin, apa yang kamu lakukan? "


"Kau jangan mau di tindas! "


"Tapi Shin, aku hanya pegawai part time disana, dan dia pegawai lama Shin".


Shin memegang wajahku, ia menatap mataku dengan rasa iba. Aku tahu Shin ingin mengasihaniku, tapi dia takut aku akan marah dan menjauhi dia.


"Shin, aku memang lemah. Tapi hatiku sekuat baja. Percayalah, aku tidak pernah ada perasaan dendam atau benci. Sekalipun aku memang gadis yang sering di tindas"


Shin mendekapku dengan begitu erat. Sepertinya dia sedikit terisak. Apa aku ada salah kata barusan?


Shin mengelus rambut ku dan mengecup keningku.


"Ayo, aku antarkan kamu pulang"


Aku cukup menggangguk karena ini tetap kebahagiaan yang sederhana bagiku. Yah, begini saja aku sudah senang kok! Memiliki kekasih yang tampan dan bisa di andalkan.