Who Am I ?

Who Am I ?
Musim dingin yang hangat



Chapter 12


~Musim dingin yang hangat


Aku tidak bisa tidur, membayangkannya saja aku seperti sedang bermimpi. Jadi ini rasanya kasmaran yah. Uh, menyenangkan sekali...


Aku yang biasa saja seperti ini disukai orang tampan seperti Shin adalah hal yang paling menyenangkan selama ini. Ah, apa aku terlalu lebay yah...


Beep


"Semoga tidurmu nyenyak" pesan dari Shin.


Uhhh... Manisnyaa.. Membayangkannya saja seperti aku sedang di kecup melalui ponselku. Aku kecup balik ah ponselku. Mumumumuuuach


Teroret... Teroret...


Ihh, siapa nih yang telfon malem-malem begini? Ouch! ternyata Eiry.


"Halo cintaku, ada apa nih tumben? "


"Hey, sepertinya aku yang harus berkata seperti itu.


Kau kasmaran yah. Sangat tidak biasa kau menyapaku seperti ini. Wah, aku pasti sedang tersenyum-senyum sendirian. Apa yang sedang terjadi ha! ".


Apa Eiry memergoki diriku tanpa harus bertatap muka. Hem, seharusnya aku memang mengatakan sejujurnya sih. Kan dia memang ahlinya dalam urusan hati. Mungkin dia akan kuliah ambil psikolog nantinya.


"Heeeyyy.. Kau tidak bisa membohongi ku yah" Uh, Eiry kencang sekali suaramu.


"Baik-baik... Aku habis menikmati salju pertama kami. Jangan permalukan aku, karena ini hal pertama yang aku lakukan bersama seseorang yang aku sukai. Kau tahu, aku benar-benar baru saja merasakan begitu menyenangkannya bersama orang yang kita sukai"


Yah, lebih baik kuceritakan semuanya. Aku mulai menceritakan awalmula ku bertukar Id kami, lalu saling mengirim SMS dan melakukan kencan pertama.


"Bodoh, apa dia sudah menembakmu!! " Lagi-lagi Eiry membentakku dengan suara yang sangat kencang.


"Tentu saja tidak, dia hanya terkagum saat melihatku di pesta Ken dulu. Bukankah kita harus menunggu? "


Yah, benar... Seharusnya kita menjadi wanita yang baik dan sabar menunggu. Kalau aku terlalu memaksakan, mungkin dia akan takut dan kabur dariku. Bisa-bisa dia mengira ku perempuan gila seperti Ken mengataiku. Oh tidak-tidaaak.. Jangan sampai itu terjadi. Aku harus menjaga image ku.


"Baiklah, aku akan mempercayai cinta pertama mu ini. Aku tidak akan mengganggu kalian. Semoga berhasil"


Lalu Eiry menutup telponnya.


Eh! Bukannya Eiry ada perlu untuk menelpon ku. Kenapa dia mematikan teleponnya sebelum menceritakan apa yang dia ingin beritahukan. Yasudah besok saja di sekolah akan aku tanyakan padanya.


...----------------...


"Hay cantik, sebenarnya apa yang ingin kau katakan kemarin saat menelpon ku" Aku sudah tidak sabar sampai kemarin malam terbawa mimpiku.


"Sebenarnya aku ingin mengajakumu keluar melihat salju pertama. Karena aku tak punya teman selain kamu. Hehe... Ternyata aku keduluan yah". Eiry memasang wajah memelas.


"Jika kamu yang mengajakku dulu, pasti aku lebih pilih kamu Ry. Sayangnya kamu pun tidak membuat janji denganku". Ucapku seraya membela diri


"Bagaimana aku bisa tahu jika ada orang ketiga di antara kita" Eiry menegaskan kalimatnya bahwa persahabatan kami dulu tidak harus ada perjanjian.


"Kau cemburuuu!" Ucapku menggoda.


Aku menundukkan kepalaku. Eiry benar, sebelum Shin masuk ke dalam kehidupanku yang sekarang. Aku jadi lupa dengan Eiry, bahkan aku sudah tega tidak memberitahukannya kebenaran tentang Shin beberapa hari yang lalu. Apa aku pantas dikatakan sahabat sejati ketika aku sudah bertemu sahabat baru aku melupakannya.


"Kau pasti sedang memikirkan hal macam-macam, tenang saja... Aku tidak akan marah. Lagian, apa boleh buat jika sahabatku jatuhcinta"


Eiry merangkulku, dan berjalan bersama ke ruangan kelas.


tong ting tong...


Pelajaran telah selesai, di persilahkan semua murid untuk istirahat selama 1jam kedepan. Terimakasih...


ting tong ting...


"Key, aku harus ke ruang guru, beberapa buku yang ditinggalkan di meja harus ku antarkan. Kau ke kantin saja dulu, OK". Eiry meninggalkanku di kelas, dia sedikit berlari untuk membuntuti bu guru. Dia persis seperti jongos para guru, yah itu kata-kata terburukku sih. Lebih tepatnya dia asisten guru di kelasku.


Terpaksa aku berjalan sendirian ke kantin, aku harap tidak bertemu siapaun. Termasuk Shin. Aku sedang malas karena tadi pagi, aku merasa bersalah dan sedikit menyesal melewatkan salju pertama ku dengan Eiry. Dan aku memilih dengan pria yang baru saja ku sukai.


Dukkk!


"Aduh.... "


Dahiku kepental punggung seseorang.


"Kau cari masalah lagi denganku "


"Eh, kau ini menghalangi jalan saja" Aku tidak mau kalah darinya. Siapa lagi, kalau bukan si Kenborg gila.


"Kau yang harusnya menyingkir dariku, lihatlah. kau menyeleweng berjalan kesamping. Jalan itu kedepan. Lagian ngapain kau jalan sambil menunduk. Cari koin jatuh"


Aku mengedip-kedipkan mataku, Sepertinya kali ini Ken benar. aku yang sedang nyeleweng dan tidak konsentrasi saat berjalan. Apa aku terlalu banyak melamun yah.


"Hey, bukan minta maaf malah melamun. Gila yah kau".


"MAAFFFF! "


Aku langsung berlari pergi meninggalkannya. Memalukan sekali harus mengakui kesalahan dengan orang itu. Hem, bukankah aku harus pemberani. kenapa juga aku harus malu.


Sepertinya Ken masih melongo menatap kepergianku, mungkin dia terkejut saat aku berani minta maaf tadi. Atau dia sekarang sedang menertawakanku bersama teman-temannya.


......................


Eiry?


Bersama Shin.


Apa yang sedang mereka bicarakan, di belakangku?


Sepertinya dia berkesempatan untuk menjauhiku dan menyuruhku pergi ke kantin terlebih dahulu. Justru yang kudapati sekarang mereka sedang mengobrol di dekat pintu ruang guru. Terlihat akrab sekali, kenapa hati ini terasa ngilu yah.


Ah, apa boleh aku berfikir tidak baik seperti ini. Bukankah seharusnya aku menghampiri mereka dan bertanya sedang apa mereka. Kenapa pula aku harus melamun di sini dan menatap mereka dari jauh.


Tapi... Langkahku tiba-tiba terhenti saat ingin menghampiri mereka. Kenapa Eiry tidak memberitahuku bahwa mereka sudah mengenal lebih dekat daripada aku. Jika aku harus berfikir positif, bukankah itu wajar. Karena Shin juga asisten guru dari kelasnya. Kenapa pula aku harus kaget, ini hal yang lumrah karena mereka sering bertemu.


Tunggu, apa ini yang namanya cemburu. Sakit... tapi tak berdarah