Who Am I ?

Who Am I ?
Menemukan Gadisku



Chapter 36


~Menemukan Gadisku~


Saat-saat begini paling enak godain Keysha. Ngerjain dia sampai marah-marah membuatku tertarik. Selama ini gak ada yang berani menyangkalku dan menantangku selain dia. Rasanya hidupku ada pelangi....


Aku berjalan bersama kawan-kawanku mencari Shin. Pasti dia enak-enak pacaran sama Eiry. Dasaarrrr Shin sok romantis dia. Mentang-mentang dia penulis, dia bisa mempraktikan nya kepada Eiry.


"Kau lihat Shin? "


Harith menanyakan pada beberapa teman-teman yang berlalu lalang di taman bunga ini.


"Hey, liat Shin gak? "


Kali ini Gon yang bertanya.


Aku berniat mengajak mereka makan di luar bareng-bareng. Gak enak juga kalau tanpa Shin. Seperti ada yang kurang.


"Duh, Shin asik begituan kali yah"


Luis berbicara.


"Hahaha, kasihan Keysha. Dia jomblo kesepian"


Harith menertawai Keysha. Kenapa? Ada apa dengan Key?


"Hey, hey... Kenapa jadi Keysha sih? Justru mereka yang keterlaluan. Membiarkan Keysha tidak tahu apa-apa. Dia kan polos sekali"


Aku seakan-akan membela Keysha, tapi tidak. Aku hanya membicarakn fakta! ingat, ini fakta!


"Hahaha. Ada yang membela calon kekasih baru nya"


Gon ikut menggodaku. Enak saja, siapa juga yang membela dia. Gila


"Gila. Siapa juga yang membela dia. Gak sudi!"


Iya kan, siapa yang membela dia? Aku? Aku cuma berbicara faktanya aja.


Kami bertengkar sambil berjalan sampai tidak tahu bahwa di depan kami juga ada yang sedang bertengkar.


Harith menyikutku untuk menyadarkanku yang sedari tadi membela diri.


"Itu Shin dengan Shevy bertengkar"


Harith membisikkan di dekat telingaku sambil berjingkit.


"Lekas pisah mereka"


Gon berlari lebih dulu. Aku juga mengikuti langkah Gon yang cepat dan tanggap.


"Kau kenapa Shin? "


Luis menyeletuk dari jauh.


Shin dan Shevy menoleh ke arah kami yang tiba-tiba datang.


"Aku tidak ada waktu menjelaskan, tapi kita harus bergegas pergi menyusul Eiry. Sepertinya Keysha mengikutinya. Dan aku tidak menjamin Keysha juga bisa menemukan Eiry. Atau mereka tersesat terpisah"


Shin mencoba menjelaskan dengan sedikit ter engah-engah.


"Aku tidak bilang apa-apa, Eiry yang tidak terima dan berlari ke hutan"


Shevy membela diri.


"Itu berarti kau mengucapkan sesuatu! "


Aku menunjuk dia dengan tatapan tajamku. Bagaimana bisa dia tidak bilang apa-apa tapi bilang Eiry tidak terima? Aneh sekali penjelasannya. Ketahuan dia berbohong.


"Jangan kau bentak Shevy Ken, Shevy perempuan"


Teman Shevy membelanya.


"Perempuan bermulut racun ini! "


Aku menunjuk Shevy sekali lagi. Dan Luis menepis tanganku menahan amarahku.


"Cukup Ken, sebaiknya tahan emosi mu dari wanita ini. Kita bergegas pergi saja. Sebelum semakin sore dan semakin gelap"


Luis menyadarkanku akan amarahku dan Shevy berhasil mengulur-ngulur waktu. Mungkin itu yang dirasakan Shin sehingga ia sangat ingin terus membalas perkataan Shevy dan membuatnya emosi.


"Kalau kita meladeni dia, gak akan ada habisnya"


Gon bersuara.


"Betul kawan. Kita bergegas menyusul Eiry dan Keysha saja"


Harith mengusulkan idenya.


Sambil berlari kami sedikit berbincang mengenai bagaiman Eiry dan Keysha bisa pergi ke hutan.


"Shin, bagaimana bisa kau tahu Keysha mengikuti Eiry. Seharusnya yang ada dalam hutan sekarang cuma Eiry"


Aku penasaran sejak tadi.


"Aku melihat dia ketika Shevy dan Eiry bertengkar. Keysha tampak peduli dan melirik apa yang sedang terjadi pada Eiry. Key tampak peduli. Dan saat Eiry berlari Key ikut berlari"


Shin menjelaskan kepada kami sambil sedikit tergesa-gesa.


"Oke di mengerti, nanti kita tanyakan pada mereka saja kejelasannya"


Aku menjawab dan mempercepat langkahku.


Memasuki hutan bersama kawan-kawanku bukan hal menakutkan. Apalagi kami para jagoan. Hahaha


Lagian ini masih sore, harusnya lebih mudah menemukan mereka daripada nanti semakin gelap.


Luis mengusulkan idenya.


"Jangan! "


Gon tiba-tiba bersuara.


"Eh, kenapa? "


Harith menimpali.


"Menurutku memang jangan. Aku takut salah satu dari kita malah tersesat. Dan semakin gelap nanti cari mencarinya. Kita fokus aja cari pijakan bekas kaki"


Shin mengusulkan.


"Ide bagus, kalau Key membuntuti Eiry pasti jejak mereka sama"


Aku ikut andil dalam ide nya Shin. Karena itu adalah ide yang paling masuk akal dari pada berpencar.


"Hey, kesini... Disini ada bekas ranting patah"


Harith memang jeli sekali.


"Kau cocok jadi agen mata-mata Harith"


Gon menimpali


"Benarkah?"


Mata Harith berpijar-pijar.


"Kalau tubuhmu bisa lebih gempal dan tinggi sepertiku. Hahahaha"


Gon yang jarang bersuara, kini dia bercanda? Ha?! gak salah nih. Apa dia kena hantu di hutan ini yah?


Bergidik...


"Sekali nya bercanda, langsung menyakitkan. Uugh, menusuk ke dalam hatiku"


Harith menimpali.


Memang benar, Gon jarang bercanda. Bicara saja seperti enggan sekali. Tapi sekali bicara atau bercanda, suka nyakitin perasaan orang lain.


"Sudah-sudah, ayo fokus lagi. Kita ikuti arahan Harith"


Shin mengambil alih.


"Oke, aku yah yang memimpin"


Harith dengan sombongnya berjalan memimpin di depan.


"Haloooo... to long ka mi.. .. "


"Eh, kalian dengar tidak. Ada suara teriakan. Sepertinya itu mereka"


Luis yang mempunyai telinga tajam mendengar suara lirih-lirih teriakan.


"Luis, kau memimpin bersama Harith. Coba dengarkan baik-baik"


Shin mengkoordinir dan mengambil alih. Baiklah aku menurut saja.


"ARAHKAN CAHAYA KE ATAS"


Luis berteriak. Apa? Luissss.. Si letoy itu. Anak-anak ini semakin aneh semua semenjak masuk ke hutan ini. Heran deh.. Gak biasanya Luis mau berteriak sekencang itu. Kalaupun terpaksa kadang dia tetap menolak dan tidak mau.


Beberapa detik setelah Luis berteriak. Cahaya lampu menyinari pepohonan di atas dan itu dapat kami lihat letak mereka dimana. Ini saatnya aku beraksi.


"Biar aku yang mencari jalan ke mereka"


Ucapku yakin dengan berjalan mendahului Harith dan juga Luis.


Srek Srek Srek..


Langkah kakiku menyeret beberapa ranting dan menginjak daun-daun kering. Aku tidak peduli, aku harus bergegas karena langit semakin menggelap.


"Halooo... Tolong selamatkan gadis cantik-cantik ini"


Cantik? genit sekali mereka meminta tolong dengan cara menggoda. Mereka mau di perkosa di tempat apa?!


Itu seperti suara Key, besar juga nyali dia. Benar memang dia polos, tapi gak seharusnya dia menggunakan kata-kata begitu untuk memancing kami agar membantu mereka. Itu justru membuat oranglain berpikiran jahat. Seperti berpikiran mesum mungkin. Beruntung yang menuju mereka itu kami, bukan pria bejat. Yah meskipun hitungannya aku ini termasuk pria bejat juga. Tapi aku tidak akan mencari kesempatan dalam kesempitan seperti ini. Terlalu kotor


"Mana gadis cantiknya? " Ucapku menggoda Keysha.


Bruk.


"Key? "


Jantungku tiba-tiba berdegup kencang saat Keysha menghamburkan tubuhnya pada ku. Aku kaget se kaget-kagetnya. Ini pertama kali dia berinisiatif sendiri untuk datang kepelukanku tanpa aku paksa.


Aku mengelus rambutnya agar dia sedikit tenang. Jantungnya memantul dalam jantungku. Sepertinya dia gugup dan tegang. Syukurlah tidak terlalu larut menemukan mereka dalam hutan ini.


"Ayo, lekas kembali. Bukankah teman-teman sudah menunggu kita untuk kembali pulang"


Harith mengajak kami untuk segera keluar dari hutan ini.


Hutan ini tidak lah berbahaya, karena masih termasuk hutan yang dilindungi dan berada dalam kawasan terlindungi. Jadi masih terhitung aman dan tidak berbahaya. Tapi yang namanya hutan tetaplah sama. Lembat, rimbun, minim cahaya, dan banyak ranting berjatuhan yang bisa menyobek kaki-kaki kita.


"Tenanglah Key, aku bersamamu"


Aku masih merangkul Keysha dan berjalan keluar hutan.


Keysha tidak menjawab. Tapi dia membenamkan dirinya pada tubuhku. Dia sepertinya nyaman sekali denganku. Dia memang gadis polos yang butuh perhatian seorang pria. Manis sekali... Itu membuatku tertarik. Baru kali ini aku benar-benar tertarik pada seorang gadis. Padahal selama ini semua gadis sama saja. Yang mereka mau popularitas karena berhasil mendekatiku, uang karena aku kaya, dan kenikmatan tiada tara karena aku tampan. Hahahaha. Narsis yah