
Chapter 34
~Pertemuan Kembali~
Ku sandarkan punggungku di bangku taman sendirian. Ah enaknya... Menikmati angin bertiup-tiup dengan pemandangan yang indah. Musim semi begini memang belum terasa begitu panas. Jadi lebih hangat setelah berdingin-dingin ria. Hehe
"Hey.. "
Shevy bersama genknya menyapa ku dan duduk bersamaku. Tumben sekali, seperti ada maksud mereka sering menyapaku dan mendekatiku begini.
"Apa ?"
Jawabku sedikit enggan dan cuek.
"Ih, jutek banget. Kita kan pengen temenan sama kamu Key"
Salah satu teman Shevy ikut bicara.
"Tapi aku enggak"
Jawabku jutek sekali lagi.
"Eh, daripada duduk sendirian begini kamu kelihatan minta di kasihani. Iya kan genks"
Mulut Shevy emang nyakitin banget yah. Emang bener sih aku duduk sendirian begini seperti anak korban bullying yang gak ada satupun teman.
"Aku kan punya Eiry, satu udah cukup"
Jawabku membela diriku sendiri.
"Sayangnya dia menghianatimu.. Hahahaha"
Genk shevy mulai menertawai ku. Aku kalah telak. Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa atau membela. Karena aku belum mengerti masalah apa yang sedang Eiry hadapi, dan kebohongan apa yang ia tutupi.
"Kalau kamu butuh bantuan, bilang aja ke aku. Atau genk aku boleh kok. Ya kan Genkss... "
"Ya donks.... Kita sesama kasta 1 gak ada yang perlu di jadikan bahan bullying "
Genks nya Shevy sok cantik sekali, tapi emang gak ada yang jelek sih. Hidung-hidung mereka mancung semua dengan bibir sexy menonjol khas eropa. Nah aku, hidung mungil begini. Serba mungil rasanya.
"Eh, liat itu kan Eiry. Asik nya berdua-duan di bawah pohon rindang"
Shevy mulai mencari masalah.
Aku menoleh ke belakang dan sedikit jauh sehingga aku pun tidak bisa tahu persis itu Eiry atau bukan. Aku jadi penasaran dan benar-benar ingin bertanya tentang masalah ini. Berdiam diri dan menghindar rasanya terlalu kekanak-kanakan.
......................
Setelah mendapati Eiry dan aku tidak bisa menahan emosi sehingga masalah ini semakin merumit. Aku berlari meninggalkan Eiry yang bertengkar dengan Shevy. Mereka masih beradu mulut meskipun aku meninggalkannya.
Kulirik dari jauh, Eiry berlari meniggalkan Shin dan juga Shevy and the genk.
Kemana dia pergi?
Aku melihatnya berlari menuju hutan belantara dan aku tidak bisa hanya berdiam diri tanpa mengikuti dia. Aku harus mengikutinya.
Tapi aku harus menjaga jarak dan jangan sampai Eiry tahu kalau aku sedang mengikutinya.
......................
Aku bersembunyi di balik pohon, dan mengambil nafas sebentar. Setelah ku lihat lagi, Eiry sudah menghilang entah kemana?
Apa aku terlalu lama tidak menjaga pandanganku ke dia? Sebegitu cepatnya dia menghilang. Astagaaa...
"Eiry... kau dimana? "
Aku harus mengeraskan suaraku agar dia bisa mendengarkanku.
"EIRYYY.... HALOOOOO.. KAU DIMANAAAAA... "
auh, nafasku tersengal. Untung bawa minum tadi.
Kulihat pohon yang begitu rimbun dan lembat. Semakin takut untuk masuk, tapi ini masih sore. Sepertinya lebih baik sekarang daeipada tidak sama sekali.
Srek... Srek...
Setelah berjalan secara perlahan-lahan, aku melihat wanita bersandar di batu yang sedikit besar. Aku yakin itu Eiry.
"Ry... "
Aku memanggilnya dengan sedikit ragu. Ini kan belum malam, bukan hantu donk pastinya.
Saat dia menoleh, melihat matanya yang hitam dan bibrinya yang memucat.
Aarrghhhh.... Jeritanku sedikit keras tapi aku tidak berlari.
Aarrrggghh..
Ku dengar jeritan balasan.
Eh tunggu.. Hantu nya ikut teriak nih?
Ku buka mataku, ku dekati dia. Ternyata benar itu Eiry. Dengan masa sembab hasil dari menangis dan bibir pucat seperti dia sedang ketakutan.
"Kau baik-baik saja? Aku Keysha"
Aku menjulurkan tanganku mencoba untuk meraih tangannya.
Dia sangat ketakutan. Kasihan sekali Eiry. Dia gadis yang malang. Eh, aku kan sedang marah dengan dia. Aku harus bersikap adil.
"Key? Apa itu kamu? Atau aku hanya halu? "
Eiry menatapku dengan suara bergetar. Aku tidak tega dalam keadaan seperti ini tetap marah pada dia.
Aku mendekatinya tanpa menjawab dia. Eiry menarik tanganku dan aku terjatuh ke tubuhnya. Menjatuhkan tubuhku dan dia mendekapku.
"Aku takut sekaliii Key... Hiks.. Key.."
Eiry suaranya bergetar.
"Tenanglah, sudah ada aku disini"
Aku merangkulnya kembali dan menenangkan dia.
"Ini bukan tentang keadaanku disini Key, tapi aku takut kehilangan teman sepertimu. Aku tidak bisa mendekatimu sama sekali karena Shevy selalu ada di samping kamu Key. Aku seperti orang bodoh dan tak berdaya"
Eiry menangis terisak di pelukanku. Menyandarkan kepalanya di pundakku dan membiarkan airmatanya mengalir begitu saja.
"Kau bisa jelaskan sekarang Ry, ini adalah waktumu"
Aku menenangkan dia. Apapun penjelasan Eiry, aku akan tetap menerimanya dengan lapang dada. Sekalipun gosip yang di besar-besarkan Shevy benar aku juga tetap harus menerimanya. Karena aku juga tidak bisa hidup tanpa Eiry. Rasanya aku begitu kesepian. Sangat tidak enak!
"Benar aku membohongimu Key, itu kesalahan terbesarku. Aku membohongi semua orang. termasuk aku yang menutup-nutupi keadaan keuangan keluarga ku. Aku malu dan takut jika semua orang mengataiku benalu dan parasit kepada kamu. Tapi menjauh darimu pun aku takbisa"
Memang benar, Shevy pernah bilang bahwa Eiry hanya memanfaatkan uangku saja. Tapi, sesungguhnya Eiry bukanlah gadis yang seperti itu. Aku percaya padanya.
"Kau kasta 1, dan aku? jelas sudut pandang orang-orang menilai aku memanfaatkanmu. Tapi aku menjauh pun dan bergaul dengan kasta yang sama. Aku sudah terlanjur nyaman berteman denganmu"
"Aku juga Ry, aku tidak mempermasalahkan itu. Hanya saja, hubungan kamu dan Shin sedikit keterlaluan terhadapku". Bukannya aku cemburu, sunguh... Aku tidak cemburu. Hanya saja, kenapa mereka tidak memberitahu ku sedikit tentang hubungan mereka yang saling kenal sejak lama. Dan pura-pura tidak kenal saat ada aku.
"Baiklah, ini juga tentang kasta Key. Aku dan Shin seperti pembantu dan Raja. Aku gadis biasa yang di cintai Shin. Dulu aku tidak tahu kalau dia pria sesempurna ini. Aku sudah berusaha meninggalkan dia. Tapi dia tidak mau. Aku ingin dia bersamamu? "
"Apa?! Jika dia kekasihmu kenapa harus kau berikan padaku? Aku tidak mau jadi sahabat yang seperti itu Ry". Aku baru menyadari ternyata mereka sepasang kekasih. Dan aku mengatakan bahwa aku menyukai Shin, kekasihnya sahabatku. Dan dia hanya tersenyum lalu membantuku untuk bisa bersama sahabatnya.
"Tidak seperti itu, Aku yang menyuruh Shin untuk juga menyukaimu. Tapi Shin tidak bisa Key. Aku telah jahat membuatmu menyukai Shin"
Hiksss....
Suara tangisan Eiry semakin menjadi, kenapa dia begitu merasa bersalah. Dia tinggal mengatakannya bahwa dia tidak pernah di sewa dan di tiduri.
"Dan aku juga tidak pernah tidur dengan Shin sekalipun dia kekasihku. Aku bukan sahabat yang baik selama ini. Aku ingin menjadi sahabat yang baik dan terbuka tentang masalahku kepada mu"
Aku menangguk dan membalas merangkulnya. Dia semakin menangis dan terisak. Aku tahu, itu berat bagi Eiry. Karena dia bukan gadis kasta 1 yang bisa sembarangan pacaran dengan Shin yang begitu populer.
"Aku maafkan, jangan pernah kamu ulangi lagi. Aku sahabatmu, bukan musuhmu. Aku tidak akan menghianati sahabatku sendiri. Ingat baik-baik itu"
Aku membalas nya merangkul dan kami pun berpelukan. Hehehe...
Eits, ini belum tamat ya...