
Chapter 21
~Masalah~
Tidak kusangka Ken yang se keras itu bisa memasang wajah yang begitu takut dan seperti trauma. Mungkin aku tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi seorang adik atau bahkan kakak seperti Royborg.
Mungkin jika aku sedang menjadi kakak, yang ku lakukan adalah melakukan hal yang sama seperti Royborg itu. Bagaimana mungkin aku memberikan contoh yang buruk dan memalukan. Harusnya aku bangga karena punya kakak sehebat dia.
Tapi sayangnya, keluarga Ken memang keluarga yang lebih di atas daripada keluargaku. Aku bagaikan orang kaya baru, dan Ken seperti pewaris 7 turunan yang uang nya tidak akan pernah surut.
Lihatlah wajah masam nya itu, sungguh kasihan sekali. Rasanya tidak tega juga melihat betapa kerasnya dia selama ini. Dan tiba-tiba menjadi lembek seperti nasi yang sudah menjadi bubur. Baiklah, hanya sekali ini saja aku mengelus-elus pundaknya. Yah, sesama manusia melakukan hal yang wajar begini kan. Dia juga sudah berani menceritakan beberapa masalah keluarganya.
......................
Saat berjalan keluar dari kasir restoran Seafood
"Ken, kenapa kau menceritakan padaku"
Aku penasaran sejak tadi, tapi aku harus menungu moment yang tepat untuk bertanya.
"Setidaknya aku legah karena ada satu orang yang tahu bahwa aku tidak menyukai kakakku".
Dia tetap menundukkan kepalanya, seperti enggan membicarakan masalah keluarganya
"Emm, apa teman-temanmu tidak tahu? "
"Tentu saja mereka tahu, tapi tidak dengan bagaimana perasaanku. Mereka hanya tahu, bahwa kakakku akan memperlakukanku dengan kejam dan menyita waktu bermainku"
"Lalu, kakakmu pulang untuk berapa lama"
"Kemungkinan terburuknya sih selamanya. Tapi itu tidak mungkin juga. Bagaimana bisa dia meninggalkan bisnisnya di luarnegeri. Dan seharusnya kakakku juga sudah waktunya untuk menikah"
"Dan apa lagi yang dia tunggu Key?"
Hemm, benar juga kata Ken. Dia sudah sukses, bahkan benar-benar sukses. Setidaknya jika dia menikah dan memilik seorang anak. Ken tidak akan di ganggu lagi oleh kakaknya. Dia akan fokus untuk membesarkan anaknya menjadi seperti dia.
"Key, aku hanya memperingatkanmu. Shin tidak sebaik itu. Jangan terlalu percaya dengan mulut buayanya. Kau tidak tahu seutuhnya tentang dia. Hem, baiklah.. Selamat tinggal Key. Hati-hati dijalan yah. See you"
Aku tersentak saat dia menutup jendela mobilnya dan meninggalkanku di area parkir mobil. Dia mengatakan apa? Hati-hati dijalan? Hemmmm.. Sepertinya hatinya sedang terketuk saat kakaknya pulang. Yah, keuntungan besar untukku. Karena dia tidak akan mengganggu ku untuk sementara waktu. Hehehe...
......................
Sesampai dirumah
Huft, lelah juga kencan hari ini.
Eh! Kencan? dengan Ken?. Kenapa bisa aku menikmatinya yah. Dan makan dengan lahap seperti itu. Bagaimana bisa nafsu makan ku sebesar itu saat di hadapan musuh bebuyutan. Gilaaaaaa, meskipun aku lapar. Seharusnya aku menjaga image ku kan.
Tunggu-tunggu, lalu Shin kemana yah? Bukannya dia yang sudah berjanji untuk makan seafood favoritnya. Kok jadi Ken yang memberitahukan itu Resto favoritnya. Apa teman-teman Shin semua nya suka makan disana yah.
Yah, masuk akal sih. Kan mereka orang kaya semua. Makan-makan disana setiap hari pun gak akan menguras kantong mereka.
Apa setidaknya aku menghubungi Shin saja yah, dan menanyakan padanya hari ini dia sibuk apa?
Tapi, bukankah itu memalukan. Aku jadi seperti benar-benar mengharapkan dia yang datang. Bahkan sejujurnya aku menikmati makan malam tadi. Tidak adanya pertengkaran ataupun perdebatan. Yah, aku menikmatinya. Hehehe
Aku baru tahu sih, kalau Ken ternyata punya masalah juga. Ku kira hidupnya sempurna. Ternyata semua orang punya masalahnya masing-masing. Termasuk aku yang merindukan seorang Papa. Hemmm...
Sampai kapan aku bisa mencari Papa ku sendiri. Sungguh, aku rindu tanah kelahiranku. Seandainya ada seseorang yang mampu menemaniku mencari Papa. Pasti aku sangat bersyukur akan hal itu.