
Chapter 52
~Si Ken dan Si Key~
"Nek, aku sangat ingin tahu bagaimana cerita tentang masa lalu Key"
Aku mengatakan pada Shin. Ku harap Shin menerjemahkannya dengan benar dan tidak membohongi ku.
Nenek menundukkan kepala. Nenek yang begitu galak ternyata sangat lemah saat kami menyebut cucu Nenek.
"Hasashi adalah anak kesayanganku. Dia sangat mencintai keluarga nya. Termasuk anak dan istrinya. Sayang istri nya membuat kesalahan yang membuat dirinya marah"
Nenek semakin menundukkan kepalanya.
Eiry mendekat dan mendekap Nenek. Eiry begitu tanggap dan benar-benar wanita ke ibuan. Dia sangat mengerti bagaimana perasaan orang lain dan bagaimana dia bersikap.
"Apa benar nek, nama ibu Key adalah Amenda Yoi? "
Shin bertanya sendiri tanpa aba-aba dariku. Seperti nya Shin mulai penasaran dengan cerita Nenek.
"Benar, akte itu benar sekali. Aku tidak tahu kalau Yoi masih menyimpan akte itu. Ku pikir dia sudah marah besar kepada Hasashi"
Nenek meneteskan air mata nya.
"Anakku bukanlah pria yang buruk. Tapi dia pria yang di hianati oleh wanita nya. Anak yang mereka lahirkan dulu sangat cerdas di usia kecil. Aku sangat merindukannya"
Nenek semakin terisak.
"Nek, aku tahu ini bukan saat yang tepat. Tapi apa boleh tuan Hasashi datang untuk menyelamatkan anaknya"
Shin berterus terang. Astaga, padahal aku tidak berani ingin memberi tahu Nenek. Takut jantungnya kaget nanti. Kan sudah tua dia. Kalau tiba-tiba pingsan malah gak dapat nomer untuk menghubungi Hasashi.
"Astagaaa, cucu ku kenapa? "
Nenek terlihat panik.
"Dia tidak apa-apa Nek. Hanya saja ia sangat merindukan ayahnya. Bolehkah kami menelponnya"
Shin menjelaskan dengan sedikit kebohongan.
"Tentu tentuu Nak. Pembantu, bawa dia ke ruang telepon di ruang kerja"
Nenek menunjuk ruangan kecil di sebelah ruang tamu.
"Baik Nenek"
Pembantu itu patuh dan mengantar kami bertiga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu...
...Beberapa hari sebelum Key mendapat telepon dari keluarga Hasashi. ...
"Tidaaaaaakkk! Ku mohon hentikan.... "
Suara teriakanku sudah begitu keras. Tidakkah ada orang yang mendengarku. Ku mohon.
"Hahaha, gadis kecil. Seperti nya dia gadis yang manis. Tenanglaaah, kami hanya ingin bermain dengan mu sebentar"
"Selama si ketua tidak disini, dia tidak akan tahu kan. Kita bisa memakaikan pakaiannya kembali"
Orang-orang yang menjagaku mulai menggila.
Apakah aku telah salah memakai baju yang cantik untuk mempercantik diriku di depan Ken?!
Hatiku sangat sakit saat ini. Aku tidak mau ternodai oleh pria-pria dewasa berhidung belang ini. Aku merindukan Ken. Aku hanya mau melakukannya dengan Ken. Hanya Ken!!
Aku menutup mataku... Aku tidak tahu lagi apa yang harus ku lakukan.
BRAAKKK!
"Tangkap mereka semua, bawa gadis itu keluar dengan lembut. Jangan sampai terluka".
Aku mendengar suara Pria berteriak dan aku membuka mata. Beberapa orang berpakaian body guard datang menolongku. Pertolongan dari siapa ini?
Yang penting aku bisa keluar dari sini dan tidak di jaga oleh pria-pria mesum ini.
Aku di masukkan ke dalam mobil mewah. Yang hanya ada aku dan Paman berbaju coklat itu. Dia menyetir sendirian. Aku sangat ingin bertanya, siapa dia? Tapi aku takut. Lebih baik aku diam saja.
Perjalanan demi perjalanan sudah aku lewati bersama Paman. Anak buah nya mengikuti di belakang. Paman ini tidak terlalu tua, kisaran umur nya masih 30tahun. Tapi dia terlihat eperti seorang pengusaha muda.
Aku masuk tanpa di ikat dan di biarkan saja berjalan mengikuti mereka. Memasuki rumah, aku di sambut beberapa pelayan. Mereka menyambutku dengan sopan dan mengajakku ke dalam kamar.
"Nona, silahkan berganti pakaian dan beristirahatlah. Nanti kami akan memanggilmu saat makanan siap"
Pembantu itu berbicara bahasa international. Lancar sekali.
"Baik"
Ku jawab sambil masuk ke dalam kamar.
Setelah apa yang terjadi di sauna kemarin. Lalu hari ini aku di bawa gadis kacamata. Dan sore ini aku di selamatkan oleh Paman muda tadi. Hari-hari yang sangat padat dan membuatku lelah. Sangat lelah. Selama bersama pria penjaga sebelumnya, aku sangat takut memejamkan mataku. Sekarang, mungkin aku bisa tidur.
Tok tok
"Nona, sudah saatnya makan malam. Turunlah ke bawah. Kami semua menunggumu"
Pelayan wanita itu membangunkan dari tidurku. Lumayan untuk tidur beberapa jam, mengistirahatkan tubuhku.
Aku keluar dengan segar, karena sudah sempat mandi dan berganti pakaian. Malu kalau keluar masih kotor dan bau ingus bangun tidur.
Aku melihat ke arah meja makan, tertata rapi. Hanya ada Paman yang duduk di kursi paling ujung menghadap ke semua kursi. Aku di persilahkan duduk di dekat Paman.
"Makanlah dengan lahap. Jangan sungkan-sungkan yah"
Paman itu berbicara menggunakan bahasa lokal.
"Terimakasih banyak Paman. Telah menyelamatkanku"
Aku memegang sendok dan garpu.
"Aku akan mengembalikan pada Ayahmu. Karena kamu jauh-jauh kesini untuk mencari Ayahmu. Jadi, kamu harus tetap disini. Karena hanya disini tempat aman bagimu"
Paman itu entah menahanku agar tidak kabur, atau memang melindungiku. Aku tidak tahu. Aku cukup percaya saja sementara ini.
"Paman ini siapa? "
Setelah makan, aku berani menanyakan siapa dirinya.
"Hahaha, nanti kau akan tahu Adik kecil. Jangan takut, aku tidak akan melakukan apapun"
Paman itu tertawa
"Ku harap kamu bisa menepati janji Paman"
Jawabku sambil mengangkat gelas untuk ku minum.
"Nona, setalah makan siang. Silahkan kembali ke kamar. Dan beristrahatlah. Besok pagi Tuan akan mengantarkan anda ke Ayahanda Nona"
Pelayan itu benar-benar lembut. Aku bisa percaya sedikit. Setidaknya mereka memperlakukanku dengan sangat baik disini.
Aku mengikuti pelayan itu dan pergi ke kamar untuk merebahkan tubuh.
"Bibi, aku ingin merendam tubuhku. Apa ada air panas?"
Aku ingin menghangatkan tubuhku malam ini.
"Baik nona, saya siapkan dulu. Nanti akan saya panggil kembali"
Pelayan itu pergi meninggalkanku. Aku meregangkan tubuhku. Aaahhh, legahnyaaaa bisa sedikit terbebas dari pria-pria bermuka mesum. Ugh
"Nona, silahkan ikut denganku. "
Pelayan itu mengajakku untuk pergi mengikuti nya.
Setelah sampai, Uwaaah.... Aku tertegun melihat pemandian pribadi ini. Sangat indah. Dengan pemandangan alam di belakang rumah dan pancuran air hangat. Entah ini alami atau bukan, yang penting ini sangat membuatku merileks kan tubuh dan pikiran.
"Sangat indah. Terimakasih banyak"
Aku membungkukkan tubuhku.
"Selamat menikmati Nona. Saya permisi. Jika butuh apa-apa, Nona tinggal memanggilku saja"
Pelayan itu pergi meninggalkanku.
Aaahhhh, segarnya.. Akhirnya aku bisa menikmati masa-masa liburan. Entah aku ini sedang di sekap atau tidak. Aku harus menikmati nya. Jangan terlaku nemikirkan hal bodoh. Sebelum semua terbukti aku sedang di sekap. Aku hanya merasa aku sedang di lindungi oleha Paman.
Ahhh.. hangat nyaaa...