Who Am I ?

Who Am I ?
Shin atau Shining



Chapter 7


~Shin atau Shining 🌟


Gilaaaaaaaaaaa... Gilaaaaa...


Amit-amit rasanya harus berurusan dengan orang gila dan arogan tak tahu pendidikan. cihhh! katanya anak orang konglomerat, tapi dia tidak tahu cara nya berbicara dengan baik dan sopan.


Aku mengumpat dan mengumpat tiap mengingat kejadian pagi hari ini. Siapa suruh dia memulai, kan dia yang suka membully orang. Bahkan orang baik dan diam seperti ku pun masih di recohkin. Gila emang dia ya.


Andai aku yang punya yayasan gila, peraturan-peraturan tak berguna itu bakalan aku hapus semua nya. Menyebalkan sekali.


"Key, kau mengumpat? mulutmu komat kamit tidak ada hentinya". ucap Eiry mengingatkanku bahwa aku sedari tadi komat-kamit tidak berguna.


Hah!! Bener juga kata Eiry. Kenapa pula aku harus menggerutu tentang dia, seharusnya aku melupakan kejadian tadi pagi seperti biasanya. Tidak meladeni nya adalah pilihan yang paling bijaksana untuk melawan si arogan gila itu. Betul bukan? Lantas kenapa aku tadi mendebat dia. Arrrrghh... bodoh bodoh bodoh..


"Aduuh, kepalaku sakit juga rasanya" Ucapku tak sadar telah menepuk-nepuk kepalaku sendiri.


"Kau yang gila, biasanya kamu tak pernah meladeni dia. Kenapa sekarang kamu mulai meladeni dia? " ucap Eiry sedikit memprotes.


"Sejujurnya, bukan aku ingin. Tapi aku tak mau sahabatku di jelek-jelekkan seperti itu" ucapku seraya membela diriku sendiri.


Tapi memang benar kata Eiry, sudah biasanya aku tidak mau menanggapi si Gila itu. Kenapa sekarang malah meladeni dia sih.


"Aku maafkan, tapi jangan kau ulangi lagi. Aku tidak mau menyesalinya karena ini gara-gara diriku". ucapan Eiry sedikit mengancam, tak biasanya dia seperti itu.


Beep...


Suara tanda pesan dari hp ku, mungkin itu pesan dari operator. Bukankah aku tidak punya siapapun untuk menghubungi ku saat-saat sekolah. Mama juga tak pernah mengirim pesan, ia pasti langsung menelponku. Dan yaaaah, siapa lagi kalau bukan Eiry yang sering mengajakku berantem melalui handphone. Namun, saat ini dia juga sedang bersamaku. Jadi, ku bukatkan bahwa itu dari operator.


"Ke kantin? aku haus banget" ucapku membujuk Eiry yang uring-uringan.


"Kau yang bayar" ucap Eiry sedikit masam.


"Iyahhhh, beresss... uang jajanku tak pernah habis. Karena uangku sangat tidak berguna tanpamu" ucapku sedikit memuji nya.


Jujur, memang benar sekali uang ku tidak berguna. Karena aku tidak suka berbelanja, aku juga tidak suka beli kosmetik. Bagaimana bisa aku beli kalau Mamaku seorang pemilik perusahaan kosmetik. Justru aku sering membagikan kosmetik merk perusahaan Mamaku untuk ku berikan pada Eiry. Intinya, uangku hanya untuk beli makan dan makan. Hahahaa, menyenangkan bukan.


"Ry, pinjam ponselmu. Aku mau minta data dari pelajaran kemarin". Eiry suka sekali mengintip data-data yang sudah ku selesaikan, tapi aku pun tak keberatan akan hal itu. Ku serahkan ponselku dengan cuma-cuma. Karena yah, aku tak punya file apapun untuk di rahasiakan. Maupun pesan apapun dari seseorang yang kusembunyikan.


Eh! tunggu-tunggu...


Bukannya aku menyimpan nomor kontak Shin, ah... tak mungkin juga Eiry membuka kontak ku. Besok, namanya akan ku ganti saja. Pakai nama samaran. Untuk jaga-jaga saja sih. Maaf Eiry, aku belum siap mengatakannya.


"Sudaaaah.. Thanks ya cintaku" Eiry mengembalikan ponselku dan tersenyum riang. Ahhh, lega nya.. Persis seperti saat-saat telah mampu mengeluarkan harta karun terberat dari dalam tubuh.


Sepertinya wajah Eiry biasa saja tuh. Dia tidak menemukan Yang mencurigakan dari ponselku kan. Aman-aman...


......................


🕓


"Yoo, jangan lupa nanti telfon aku". Kulambaikan tanganku saat dia mulai memasuki mobil jemputan dari kakaknya. Dan aku juga menaiki mobil jemputan dari Mama yang masih terburu untuk menjemputku lalu kembali lagi ke perusahaan. Yah biarkan saja, asal Mama bisa jemput. Daripada di jemput pak sopir, aku gak mau terlihat mencolok seperti anak orang kaya saja. Padahal kan memang orang kaya, hem... Gimana sih aku ini?


Sampai di rumah aku berlari meletakkan tasku yang berat seperti hidupku di sekolah. Berat sekali sehari-harinya. Hufh, rebahan di kamar sepertinya enak. Tapi aku harus membasuh tubuhku yang bau kena virus si gila itu. Biar emosi nya gak menular dan membuatku emosi juga. Menyebalkan sekali dia. Mengingat saja sudah membuatku ingin meninju wajahnya itu.


Ahhhh.... Akhirnya, aku bisa bersantai di kamar dengan memandangi ponselku yang kosong. Aku cek data dulu ah. Apa dataku tadi sudah valid belum yah. Nanti kasihan Eiry ikut salah juga. Kalau di pikir-pikir, aku ini gadis yang baik yah. Hahahah. Masih aja mikirin nilai orang lain sudah mencontek kerjaan kita. Lagian dia juga sahabatku, aku cuma bisa bantu dia ini kan. Dia sudah melakukan segalanya termasuk menemaniku sekalipun aku di bully karena aku asli orang Asia.


Oh ya, tadi kan ada pesan masuk. Apa benar tadi operator yah? Aku cek aja ah, barangkali itu bukan.


"kī, temui aku di taman belakang sepulang sekolah nanti. Aku perlu bicara" Pesan masuk dari Shin. Ha! Sssssshhhin. Eh kok jadi gagap begini. Aku harus lekas membalasnya. Atau, aku telfon saja. OKe, aku telfon saja. Semoga dia tidak menungguku, dan mungkin tidak akan. Untuk apa menunggu orang lalai sepertiku.


Tuuuuttt... Tuuuuttt...


"halo, Kī... Kenapa tidak muncul juga hidungmu" suara tenang itu dari Shin.


"Emm, aku jarang mengecek ponsel. Dan aku langsung pulang. Akuu.. emm akuu benar-benar tidak tahu Shin. Ku mohon, maafkan aku" semoga Shin tidak marah dan memutus hubungan ini. Ku mohoonnnn!


"emm... Begitu ya. Sepertinya, aku salah menilaimu"


"Apa maksudmu Shin, katakan dengan baik" ucapku tergesa-gesa.


"Key, tenanglah. Aku sedang berbicara dan kamu memotong pembicaraanku"


"Ohh, emmm.. Sorry "


"Aku salah menilaimu wanita yang punya seribu teman laki-laki. Dan aku sekarang yakin, hanya aku kan teman laki-lakimu saat ini"


Sialll... Shin membuatku malu dan mengakui akan hal itu. Shin benar, aku wanita kesepian. Dan aku sepertinya menikmati selama ini.


"yah, karena aku cukup malas berhubungan dengan laki-laki"


"ppfftttt... Hahahahahaha.. Aku benar, kamu memang polos dan mengemaskan. Sungguh! Terimakasih ya key. sudah menerimaku menjadi bagian dari kontak di ponselmu. jangan lupa istirahat Bye.. "


Omegod omegod omegod. Jantungku kenapa? Eh, kenapa. Kok dag dig dug ser begini.


......................


"Maaaa, Mamaaa.. Tolong anakmu sakit Ma. Kemarilaaah kumohon" tidak, tidak.. wajahku memerah. Badanku memanas. "Mamaaaaaaaa aku takut...... "


▶Hallo, salam dari Author. Terimakasih sudah membaca beberapa chapter sebelumnya. Jangan lupa like dan comment yah. Itu adalah bentuk dukungan kalian terhadap Author baru seperti saya.


Terimakasih 💐