Who Am I ?

Who Am I ?
Kencan Bertiga Part 2



Chapter 51


~Kencan Bertiga Part 2~


Setelah menyusun rencana dengan Shin. Aku dan Shin akan mencari Key besok pagi. Eiry ingin ikut membantu. Aku juga tidak akan melarangnya.


Shin menyuruhku untuk ke rumah dimana Hasashi tinggal. Ini satu-satu nya cara untuk meminta bantuan mencari Key dimana.


Untungnya Shin tahu dimana rumah Hasashi dulu. Sayang itu rumah lama nya. Semoga saja masih ada orang yang tinggal disana.


...----------------...


Jam menunjukkan pukul 04:00 am.


Masih sangat petang untuk check out dari hotel. Tapi tidak masalah, yang penting bisa segera menemukan gadis ku.


Aku dan Shin sudah bersiap-siap untuk berangkat. Jangan Tanya Eiry tidur dimana? tentu saja dia se room dengan Shin. Aku tidak peduli meskipun ini kencan bertiga ku yang pertama kali. Hufth... Aku jadi pengawal mereka pacaran selama perjalanan nanti.


Ada kereta jam 05:00 am menuju desa di dekat rumah Hasashi tinggal. Nanti perlu berjalan kaki untuk masuk ke dalam desa dimana rumah Hasashi berada.


"Ayo Shin... Aku sudah siap dari tadi"


Aku sudah tidak sabar untuk lekas berangkat.


Aku tidak membawa koper, karena aku tahu aku kesini bukan untuk travelling. Aku hanya membawa back pack atau tas kecil khusus untuk berlibur.


"Sabarlah sebentar, Eiry sedang bersiap-siap"


Shin menunjuk room dimana Eiry masih berada di dalam.


Setelah persiapan telah siap, kami berangkat naik kereta menuju desa dimana Hasashi tinggal.


Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 06:25 pagi kami sampai di desa. Kami bergegas keluar dari kereta dan pergi berjalan kaki mencari alamat.


"Biar aku yang bertanya ke penduduk sekitar"


Shin mengajukan diri untuk bertanya. Tentu saja! kan aku dan Eiry sedang jadi orang bodoh disini. Hahahah


"Permisi Bibi, apakah benar ini desa Kyou? "


Shin memajukan dirinya untuk lebih dekat dengan Bibi.


"Benar Nak, kau mau kemana? "


Bibi itu bertanya pada Shin. Seperti nya disini ramah-ramah orang nya.


"Bibi, saya keluarga jauh yang ingin mengunjungi keluarga Hasashi. Tapi alamat nya lupa saya Bi. Sudah lama sekali tidak pernah kesini"


Pintar sekali Shin, berpura-pura menjadi anggota keluarga Hasashi demi mendapat alamat rumah nya.


"Sebenarnya Hasashi sudah pindah bertahun-tahun yang lalu. Yang tinggal disini cuma Neneknya saja bersama pembantu nya tuan Hasashi yang mengabdi"


Bibi itu menjelaskan.


"Ohh iya, saya ingat kalau ada pembantu nya. Jadi mohon di tunjukkan alamat rumah nya ya Bi"


Shin menjulurkan kertas dan bulpoin.


"Iya Nak. "


Bibi menuliskan alamat dan gambar peta jalan ke arah rumah Hasashi.


"Hey, memangnya kau kenal dengan pembantu nya"


Bisikku pada Shin.


"Tentu saja aku tidak tahu bodoh. Aku pura-pura saja"


Shin balas membisiku.


"Ayo, lekas kita harus segera menghubungi tuan Hasashi untuk menyelamatkan Keysha"


Eiry yang sejak tadi diam, dia akhirnya bicara juga. Ku kira dia membisu seperti diriku kemarin, karena orang disini menggunakan bahasa lokal.


Perjalanan demi perjalanan kami lewati. Melihat beberapa bukit yang tinggi dan hijau. Benar-benar asri dan terjaga. Beberapa orang berjalan kaki membungkuk kan kepalanya. Kurasa mereka menyapa kami. Mereka benar-benar ramah yah.


"Lihat.. "


"Ku rasa itu rumah Neneknya Keysha. Kita segera kesana"


Shin melanjutkan kata-kata Eiry. Aku hanya mengikuti mereka berdua yang memimpin. Yaaah, anggap saja aku bodyguard nya mereka berdua.


Gerbang kayu yang unik, dengan tombol bel di luar. Sudah tertulis jelas nama marga keluarga Hasashi.


Eiry memencet bel rumah Nenek itu. Sudah terpampang jelas ini memang bukan rumah biasa.



Sangat unik dan berbudaya sekali rumahnya.


Setelah beberapa kali memencet bel, seoarang pembantu pergi keluar dan menanyakan siapa kami?


Shin yang menjawab. Tentu saja! masak duo orang bisu sepertiku dan Eiry yang menjawab, sangat tidak mungkin.


Mereka sedang berbincang. Sedikit lama. Entahlah apa yang mereka bicarakan. Setelah itu kami di perbolehkan masuk. Astagaaaa, mudah sekali.


"Hey, kau bilang apa padanya? "


Ucapku sedikit berbisik dan penasaran.


"Nanti saja, kita masuk dulu"


Shin menjawab sambil melangkah masuk ke dalam.


WHOAAAAA.... Benar-benar rumah yang sangat indah. Rumah Shin juga bermodel nuansa Jepang seperti ini. Tapi ini jauh lebih indah dan bernuansa alami.


Lihat kolam di sebelah sana, bunga teratai dan ikan koi yang besar-besar itu menghiasi kolam bebatuan semakin menarik.


Aku tiba-tiba tertarik dengan budaya negara ini. Jelas-jelas aku dulu sangat membenci nya. Bahkan ke rumah Shin saja aku tidak pernah berfikir bahwa semua ini terlihat begitu indah dan menyegarkan mata.


"Hey, ayooo"


Eiry membentakku. Aku sampai kaget. Saking seru nya melihat-lihat sampai tidak tahu mereka sudah ada di dalam rumah. Aku masih muter-muter di taman. Astagaaa, mirip kena dedemit alias hantu sampai gak tahu arah jalan.


Kami di persilahkan duduk di sofa, dan menunggu Nenek keluar dari ruangan. Kami di sajikan teh hijau dan cemilan pelengkap. Aku dan Eiry sangat haus. Kami langsung menyantap minuman itu.


"Auch auch.. "


Aku dan Eiry serentak menjerit kepanasan. Astaga, panas sekali.


"Kalian ini lihat dulu cara ku minum teh hijau di Jepang"


Shin menyikutku.


Ternyata menyajikan teh hijau ada tata cara nya. Aku baru tahu ini. Ku kira langsung minum saja. Ternyata masih di perlukan tehnik yang begitu sopan dan anggun. Pembantu ini sudah sangat terlatih akan penjamuan tamu. Mungkin tamu yang datang memang bukan sembarang orang.


Beberapa menit kemudian.


"Kabar apa yang kau bawa nak"


Nenek itu muncul ke ruang tamu dimana kami di persilahkan. Dan langsung bicara sambil berjalan.


Astaga, Neneknya menakutkan. Sudah tua begitu masih galak saja.


"Aku tahu siapa cucu mu Nek. Dia adalah teman kami. Dan kami kehilangan dia saat mencari Ayahnya. Dia sangat merindukan Ayahnya"


Shin juga langsung menjelaskan tanpa berbelit-belit. Mungkin Shin sudah mengerti jalan pikiran Nenek itu.


"Apaaa? Cucu ku yang selama ini ku rindukan? Kau tidak membual kan Nak. Aku sama sekali tidak percaya dia kembali ke pelukan Ayahnya"


Nenek itu terseduh dan kakinya seperti tiba-tiba melemas. Eiry tidak menunggu dia terjatuh, langsung pergi menghampiri Nenek dan memapahnya untuk duduk di kursi.


Tentu saja tanpa berbicara, seperti membisu di depan Nenek. Aku tahu, Eiry pasti ingin menanyakan "Apakah Nenek baik-baik saja" Tapi tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Jadi di batin saja.


"Aku baik-baik saja Nak. Terimakasih"


Nenek itu memegang tangan Eiry dan membiarkannya memapah Nenek untuk duduk di kursi berhadapan dengan kami.


Aku dan Shin mulai menceritakan awal mulanya. Aku berbicara dan Shin menerjemahkan nya untuk Nenek. Mulai di saat Key cerita kangen dengan sosok Ayahnya yang sudah dia lupa kan wajahnya. Dia hanya mengingat kenangan-kenangan masa kecil tanpa bisa mengingat raut wajah Ayahnya. Tapi dia sangat jelas mengingat Ayahnya berada dalam ingatan masa kecilnya. Jika memang Ayahnya meninggal, itu tidak masalah asal ia bisa melihat bagaimana wajah ayahnya. Key pernah berkata seperti itu.


Ku rasa ada titik cerah datang ke rumah Nenek. Syukurlah...