
Chapter 27
~Kejujuran~
Setelah kejadian di sekolah tadi, aku jadi kepikiran Eiry. Bagaimana bisa dia menyembunyikan hal begitu padaku? Apa aku sahabat yslang kurang bisa dia percaya? Padahal aku selalu menceritakan apapun itu tentang dia. Sekalipun aku harus mengakui bahwa Shin adalah cinta pertama ku. Aku tetap jujur padanya.
Mungkin Eiry malu karena dia kekurangan biaya, tapi aku juga tidak akan mempermalukan dia. Apa dia gengsi? Ah, Eiry kan bukan tipe orang yang seperti itu.
Atau, masih ada hal lain lagi yang dia sembunyikan yah? Aku jadi penasaran sekali sih. Ternyata, selama ini aku masih belum mengenal Eiry sepenuhnya. Dia terlalu menutup-nutupi masalah kehidupannya. Padahal aku kan bisa bantu dia. Aku telfon aja ah malam ini. Apa dia akan terganggu. Eh, gak donk!
Tuuuttt... Tuuttt...
"Halo Key, ada apa? "
"Kau dimana? "
"Eh, aku di luar nih. hehe"
"Tumben? kau tidak belajar dirumah. Aku kesitu yah, aku bosan nih! "
Yah, setidaknya berbohong sedikit gak masalah kan.
"Emmmm, tapi? ini kn sudah malam"
"Gak apa-apa, daripada aku kepikiran gak bisa tidur begini"
"Kepikiran apa Key, kau ada masalah apa? Baiklah datanglah kemari. Aku akan kirim alamatnya".
Duh ini mulut kenapa gak bisa bohong sih. Kan jadi kelepasan kalau aku ini mikirin dia sampai-sampai gak bisa tidur begini. Yaudahlah, yang penting sekarang bisa ketemu sama dia.
Aku mau cari Mama dulu, pamit keluar sebentar. Lagian jam 8 malam kan tidak terlalu larut. Masih bisa kelayapan. Pakai mobil juga kan jadi lebih safety lah.
Sekalian nanti Eiry aku antar pulang aja dia. Pasti dia naik Bis tadi. Tapi aku kok jadi penasaran banget yah. Eiry itu ngapain diluar begini? Apa dia lagi sama kakak-kakanya itu. Atau ada keperluan lain. Makin penasaran nih.
Laju mobilku harusnya bisa lebih cepat lagi. Lokasi Eiry juga tidak terlalu jauh dengan rumahnya. Sepertinya dia keluar sebentar dari rumahnya. Lokasinya kan taman kota yang dekat perumahan itu. Setahu ku taman itu miliknya perumahan, tapi yang menikmati taman itu warga lokal. Lagian mana ada anak perumahan jalan-jalan di taman, paling juga ke Mall. Setahu ku juga, Shevy dan beberapa anggota keluarganya tinggal disana sih. Memang perumahan elite yang dekat dengan kota.
Jalanan malam begini sedikit sepi kalau keluar dari perumahan. Yah nanti kalau sudah masuk kota nya pasti ramai, gak apa-apa lah aku kan Keysha.
......................
Setelah Key datang di taman tempat Eiry duduk.
Terlihat Eiry yang sedang duduk di bangku taman dekat airmancur itu sendirian. Ternyata dia sendirian yah.
"Ry, kau sendiri? "
"Eh Key, kau sudah sampai? "
"Hehe, apa aku lama? Tadi sudah ngebut kok. Takut kamu nungguinnya lama"
Eiry tersenyum padaku
"Ngapain merasa bersalah begitu, kan aku memang daritadi disini. Jadi meskipun kamu lama gak apa-apa Key"
Tatapan Eiry begitu lembut, tapi wajahnya terlihat lelah. Apa yabg sedang dia fikirkan yah?
"Maaf ya Ry, aku banyak pikiran jadi gak bisa di pendam sendiri"
Yah, aku harus tanya aja deh sekarang. Mungkin sekarang lah waktu yang tepat untuk menanyakan hal apa lagi yang telah dia sembunyikan dariku.
"Yaudah, sekarang kamu bisa ceritakan semuanya"
Eiry menggenggam tanganku dan menatap wajahku dengan begitu antusiasnya. Dia memang pendengar yang baik.
Wajah Eiry memucat. Aku benar kan! Ada yang dia sembunyikan dariku. Sudah terlihat jelas dari ekspresi wajahnya, dimana aku menanyainya secara langsung seperti ini. Heh! Sepertinya aku cocok ambil jurusan psikolog aja deh nanti.
"Baiklah, aku akan jujur. Maafin aku Key, aku ini adalah seorang pekerja part time"
"Apaaa? Jadi selama ini kamu sering menolak keluar karena sibuk bekerja".
Eiry hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya. Aku jadi gak tega mau marah kepada dia. Lagian ini bukan masalah yang harus di besar-besarkan. Hanya saja, aku sedikit kecewa.
"Aku kecewa, sebagai sahabatmu aku tidak pernah kau beri tahu"
"Tidak ada seorang pun yang tahu Key, hanya keluargaku saja. Karena aku rasa, ini masalah keluargaku Key. Maaf, aku tidak akan mengulangi nya lagi".
Aku hanya bisa memeluknya. Seharusnya aku yang minta maaf. Karena aku telah menjadi orang yang asing di lingkungannya. Selama ini dia tidak berani jujur karena takut akan di katai bergantung padaku.
"Baiklah, sekarang kita makan aja yuk. Aku yang traktir. Jangan khawatir, kita nonton bioskop dan jalan-jalan"
"Bener nih, Okeee!"
Syukurlah Eiry mau menyetujui ajakanku untuk jalan-jalan. Aku mana tega marahin kamu Ry, apalagi masalah keluargamu yang memang bukan hak ku untuk memncampuri nya. Mungkin itu juga jadi aib bagi keluarganya. Sehingga dia tidak bisa jujur padaku.
...----------------...
Aku Shin!
Setelah Eiry menerima telpon dari Keysha, aku jadi di campakkan di taman begini. Seharusnya kan aku yang mencampakkan seseorang dan menurunkan di jalan. Kok malah aku yang seperti sedang di turunkan di jalanan. Hahaha
Gak apa-apa lah, lagian demi sahabatnya juga. Bukan pria lainnya kan.
"Shin? kau sendiri"
"Shevy? enggak. Kenapa?
"Tapi kau duduk sendiri disini! "
Ih, ni anak ngapain sih ketemu aku di sini. Lagi gak mood begini malah ketemu si makeup tebal ini.
"Aku tadi melihat Eiry dengan mu di seberang, kemana dia sekarang? "
Apa? dia melihat Eiry denganku. Ini bisa gawat kalau ada yang tahu. Tapi... Apa bagus juga yah? Lagian backstreet terus juga gak ada untungnya. Begini kan Shevy jadi bisa menyerah denganku dan lebih fokus mengejar Ken aja.
"Memangnya kenapa? "
"Jadi kau selama ini beli Eiry"
"Maksud kamu apa? "
"Eh, bukannya kamu menyewa Eiry untuk satu malam. Dan kau menurunkan dia di tengah jalan begini"
Mau ku pukul saja mulutnya si Shevy ini. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu. Bedebah ini kalau di biarkan malah menjadi dan menyebarkan gosip bahwa aku telah membeli Eiry. Darioada gosip itu yang menyebar, dan Eiry akan lebih tertekan di sekolah. Lebih baik aku mengakui saja kalau aku adalah
"Dia pacarku! "
"Hahahah, bercanda mu terlalu garing"
"Iya, karena kami selama ini backstreet. Agar tidak di ganggu oleh serangga sepertimu"
"Apa?! Seranggaaaa... Cantikan aku kali, daripada gadis ingusan itu"
"Cukup, aku sedang badmood. Aku mau pulang"
Kenapa gak terfikirkan dari tadi yah? Bodoh! Kan aku tinggalin dari tadi lebih baik daripada ngladenin dia ngomongin yang gak-gak. Aku kirim pesan aja ke Eiry, nanti biar dia baca. Kalau di telfon pun masih ada Keysha yang bersama dia sekarang. Aku harus kabarin kalau Shevy sudah tau kebenaran tentang aku dan Eiry.