Who Am I ?

Who Am I ?
Key menghilang dari pandanganku



Chapter 48


~Key menghilang dari pandanganku~


Selama di kuil, aku belajar banyak tentang agama Budha.


Kok jadi belajar agama?


Karena aku menceritakan sedikit kisah tentang temanku yang hilang. Dia sangat bersimpati padaku. Meskipun bahasanya kocak dan tidak karuan. Tapi aku dan biksu ini saling mengerti. Kami seperti memiliki chemistry untuk saling bercakap. Yah, seperti pasangan sejoli yang berjodoh.


Tapiiii.... Jangan sampai lah aku berjodoh dengan biksi gundul ini. Aduh.. Key masih cantik kenapa harus biksu ini?


"Setelah mensuci kan diri, kau bisa berdoa dengan tenang"


Biksu itu telah mengajariku begitu banyak cara untuk berdoa. Tunggu-tunggu, sebenarnya agama ku ini apa sih? Hahahaa.. Kenapa jadi ikut si biksu ini?


Gak apa, adanya disini kuil untuk berdoa. Yang penting aku di beri petunjuk. Bukankah Tuhan kita semua sama.


......................


"Bagaimana Nak? "


Biksu itu bertanya setelah aku menyelesaikan ritual berdoaku.


"Lebih tenang biksu. Hatiku jadi jernih. Tapi aku tidak menemukan petunjuk untuk mencari temanku"


Aku menghela napas berat.


"Tenanglah, saat ini petunjuk untukmu belum datang. Kau bisa tinggal disini untuk beberapa waktu. Bertapa lah, nanti kau akan menemukan petunjuk itu"


Biksu itu memberiku saran untuk berfikir lebih tenang dengan bertapa. Memang ide yang bagus, tapi itu terlalu membuang-buang waktu ku.


Semenjak keluar dari sauna pagi-pagi, aku sudah seperti orang bingung. Tidak bisa berbicara bahasa lokal negara ini dan menjadi bisu untuk beberapa saat. Setelah siang hari aku menemukan kuil besar dan ramai pengunjung ini, aku telah menjadi diriku sendiri. Seperti kembali dan merasa lebih tenang.


Bagaimana bisa tenang? kalau bicara saja bingung mau bicara bagaimana? Orang-orang tidak mengerti bahasaku, dan aku tidak mengerti sama sekali bahasa mereka. Terkadang mereka mengangguk, tapi saat mereka menjelaskan maksud mereka justru aku yang garuk-garuk kepala. Ngomong apaaaaa dia?


Biksu begitu baik, yah kalau tidak baik mungkin bukan biksu namanya. Hahaha...


Biksu memperlakukan ku seperti anak didiknya. Dia tidak pernah tanya aku beragama atau tidak?! Dia juga tidak bertanya asalku dari mana?


Yang dia tanya siapa namaku? Untuk apa kamu kesini?


Tentu saja aku menceritakan apa yang sedang aku alami sebelum berangkat kesini. Katanya aku kurang berdoa?


Ia menyuruhku beristirahat, sedangkan biksu menyapu halaman dan menyiram tanaman. Aku tidak bisa berdiam diri dan memandang beliau bmelakukannya


"Hey, duduklah Nak. Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk membantu si tua ini"


Biksu itu melarangku saat aku mengambil sapu. Tentu saja aku tidak mau mendengarkannya. Aku tetap mau menyapu halaman kuil ini.


Setelah beberapa Jam.


Ugh.... Aku menyesaaalllll membantu biksu ini. Ternyata halaman kuil tidak sekecil yang ku pikirkan. Ini sangat luas sekali. Biksu mengatakan "Jangan berhenti di tengah jalan saat kamu sudah melakukannya "


Yaaaaaa, memang biksu itu benar. Sekalipun aku sedang melakukan hal dewasa begituan juga aku tidak mau berhenti di tengah jalan. Hahahaha...


Aku melanjutkan menyapu halaman kuil. Memang halaman depan tampak biasa saja. Ternyata halaman belakang begitu megah. Banyak patung dan tempat suci. Tempat merendam untuk mensuci kan diri. Pohon-pohon bambu yang begitu cantik membuat suara yang gemerisik merdu saat tertiup angin. Aku nyaman sekali.


"Hey nak. Jangan melamun. Lekas selesaikan lalu masuk lah ke dalam. Kita makan malam"


Biksu itu melambaikan tangannya dan mengajakku masuk ke dalam. Aku menyapu dengan kilat. Cyaaat cyattt cyaattt... Fuh. Bersih


Aku langsung berlari menyusul Biksu itu untuk santapan makan malam. Tentu saja aku lapar sekaliii....


"Biksu, aku ingin membeli makan sendiri. Tapi aku bingung menggunakan mata uang ini dan aku tidak tahu berapa harga dari setiap mata uang ini? "


Aku menceritakan keluh kesahku saat membeli ayam goreng tadi siang.


"Nak, uang ini memang tidaklah kecil. Uang paling kecil adalah koin. Tapi lembaran yang kamu pegang juga tidak cukup besar. Coba lihat yang lain"


Biksu itu memintaku lebih menunjukkan beberapa uang yang ku bawa.


"Biksu, aku membeli ayam goreng menggunakan uang ini. Aku menunggu beberapa saat untuk uang kembalian. Tapi dia malah memberiku ayam lagi"


Biksu itu mendengarkanku dengan serius. Lalu dia tertawa terbahak-bahak.


Aku merasa bingung.


"Uang itu memang cukup untuk membeli satu potongan saja. 100 yen itu! Mungkin ia merasa kasihan denganmu Nak"


Hahaha


Biksu tua itu meneruskan tawanya. Menyebalkan sekali...


Aku dan dia semakin mendapat chemistry. Dia lucu sekali, aku jadi nyaman dan menikmati hari ku tanpa terlalu memikirkan hal rumit sementara.


"Kau tidak punya teman selain gadis itu nak?


Biksu itu menanyaiku. Mungkin maksudnya seperti Shin atau yang lainnya.


"Tentu saja punya biksu, tapi mereka tidak disini"


Jawabku sedikit murung.


"Coba hubungi salah satu temanmu. Mungkin temanmu bisa membantu"


Biksu itu berkata dengan begitu tenang. Apa aku coba saja yah.


"Baik biksu. Aku menuruti perkataan mu"


Aku teringat Shin kan orang Jepang. Mungkin dia mau menyusulku ke Jepang. Masalah biaya aku masih bisa menanggunggnya.


Beberapa saat setelah makan bersama biksu, malam ini aku berencana meninggalkan kuil dan menginap ke hotel. Setelah Biksu itu menjelaskan kegunakan beberapa uang, aku sedikit mengerti seberapa harga uang yang aku pegang.


"Biksu, aku pamit dulu. Aku akan menginap di hotel saja. Biksu, ini uang untuk membantu kuil ini. Aku sangat berterimaksih karena menenangkan diriku seharian ini"


"Amitaba... "


Tangannya di angkat dan di tepukkan bersama. Sedang apaaaaa biksu itu?


Ah aku jadi ikutan..


"Amitaba... Daaa biksu. Sampai jumpa lain waktu, aku pasti mengunjungi mu"


Aku melambaikan tangan dan meninggalkan dia yang masih tersenyum ke arahku.


......................


Akhirnyaaaa, aku bisa tidur di kasur yang empuk. Aku jadi menyesal kemarin tidur di tempat sauna yang kering begitu. Ugh.... Dan tadi tidur di lantai nya kuil. Ugh... Uangku sebanyak ini seperti tidak berguna saja.


Setelah membersihkan diriku, merapikan tas koper kecilku. Aku menelpon temanku, Shin.


Tuuut.... Tuuutt....


"Haloooo, ada apa Ken? aku sedang berkencan! "


Suara Shin dari ponsel.


"Belum juga bilang, sudah begitu. Aku persingkat saja. Aku tersesat di Jepang. Tepatnya sih di Tateyama. Yah, kalau kau sedang berkencan. Aku tidak akan mengganggumu"


Aku pasrah saja lah.. Yang penting biksu itu sudah menyuruhku.


"Jadi kau di Jepang! kau gila ya? Orang Jepang tidak banyak yang menggunakan bahasa asing. Mereka lebih mendalami bahasa lokal mereka"


Shin menjelaskan dengan berteriak-teriak.


"Kalau itu aku juga tahu bodoh, lalu bagaimana ini? "


Aku bingung...


"Coba kirim alamat hotelmu, aku akan kesana! "


Shin tampak khawatir padaku.


"Apaaaa?! Jadiiii kau akan datang menjemputku. Shinnnnnn... Aku bahagia sekali"


Aku tidak menyangka dia merelakan kebahagiaannya dengan Eiry demi membantu temannya yang tersesat. Ku tunggu ke datanganmu Shin.. Oh sahabatku...