Who Am I ?

Who Am I ?
END



Chapter 72


END


Setelah Nobi di tangkap dan Bibi Ame juga di tangkap. Aku bersama Nenek dan juga Papa pergi ke rumah sakit dimana Mama sedang berjuang untuk dirinya.


"Dia kehabisan oksigen saat di cekik. Lehernya juga lecet karena cengkraman. Tapi ini sudah lebih baik karena dia telah melewati masa kritisnya. Sekarang dia perlu di bantu dengan tabung oksigen untuk sementara"


Dokter menjelaskan setelah merawat Mama beberapa jam yang lalu.


"Mamaaaaa... "


Aku menangis saat tahu kondisi Mama saat ini. Mama terbaring tak berdaya. Ini semua karena aku! Aku yang menyuruh Mama untuk mengungkap kejadian bertahun-tahun yang telah Mama kubur dalam-dalam.


"Key, it's okey sayang.. "


Papa menyemangati ku yang terduduk lemas di samping Papa.


"Aku yang membuat kondisi Mama seperti ini. Seandai nya aku tidak mencari Siapa diriku? Mama tidak akan mendapat perlakuan seperti ini, dan terbaring di ruangan itu Pa.. "


Aku menundukkan kepala ku.


"Papa minta maaf.. "


Papa juga menundukkan kepala nya.


"Papa? kenapa? "


Aku bertanya kebingungan.


"Papa telah menutup hati Papa dengan begitu rapat, dan enggan mendengarkan penjelasan dari Yoi. Aku menyesal, aku benar-benar menyesal jika Yoi meninggal sekarang! Aku belum meminta maaf pada nya"


"Papaaaaa.... "


Aku menangis tersedu saat melihat Papa meneteskan air matanya di pipi. Aku benar-benar tidak menyangka Papa akan menangisi Mama. Seperti nya Cinta Papa kepada Mama masih tersimpan dan terkubur rapi di dalam lubuk hatinya.


Dan Mama, adalah wanita setia yang rela menunggu bertahun-tahun demi seorang pria yang bahkan tidak akan menemui nya lagi.


Apakah perbuatanku salah? Apakah aku telah melakukan kesalahan sehingga Mama terbaring tak berdaya di ruangan ICU.


Aku hanya...


Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Menjadi sosok wanita yang tahu akan asal usul kejelasan tentang siapakah diriku?


Mama.. Papa.. Ini juga ku lakukan demi kalian. Aku pun baru tahu tentang mengapa hubungan kalian yang merenggang dan berpisah?!


Apa aku egois?


"Keysha... Berhentilah memasang wajah bersalah"


Nenek Sanc tiba-tiba duduk di sampingku.


Aku mendongakkan kepala ku melihat wajah Nenek yang tersenyum tulus kepadaku.


"Semua ini hanya tentang waktu. Mama mu sudah begitu sabar menanti kamu melakukan semua nya Key. Mama kamu tidak akan memaksa, apapun keputusan kamu. Kamu mau mencari siapa jati diri kamu atau tidak? Itu ada di libuk hati kamu"


Nenek Sanc memberi nasehat bijak untuk menenangkan hati ku yang kacau saat ini.


"Saat itu... Papa mengusir Mama mu dengan kejam. Tapi Mama mu tidak dendam pada Papa dan malah menunggu Papa sampai datang kesana. Yang jelas-jelas Papa tidak datang sampai bertahun-tahun"


Papa menangis, menangis tersedu-sedu.


Mamaaaa.. Dengarkan lah kami disini. Kami menginginkan mu untuk masih hidup dan menikmati perjuangan mu yang selama ini menanti Papa untuk datang pada kita.


Mamaaaa.... Inilah saatnya Mama merasakan bahagia, Papa telah kembali. Tapi Mamaaa... Akankah Mama meninggalkanku untuk selamanya. Mama, dengan di gantikannya Papa disini, aku tidak akan bahagia karena Mama tidak bersama kami.


Mamaaaa... Ku mohoon, bangunlah. Lekas sadarlah Ma...


Ya Tuhan. Aku bukanlah orang yang baik. Aku bukan orang ahli agama yang selalu berdoa. Tapi, aku sangat yakin akan keberadaanmu. Tolong selamatkan lah Mama.. Bangun kan dia. Dan biarkan dia bahagia bersama kami.


"Ayo kita istirahat key, kamu mau pulang ke rumah Nenek apa tidur disini? "


Nenek Hasashi menawari ku dengan sedikit membunguk.


"Tidak Nek, aku akan menunggu Mama sampai membuka mata nya"


Aku bersikeras untuk tetap disini.


"Baiklah ibu, Nenek Sanc. Kalian pulanglah. Kalian pasti sangat lelah. Biar Key bersama ku"


Papa mendorong Nenek untuk segera pulang dan beristirahat. Sudah setengah hari kami disini. Mungkin inilah saatnya kami semua beristirahat dan menunggu kabar baik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Selamat Pagi... Pak, Dek.. Bisakah kalian datang keruangan saya"


Tiba-tiba pak dokter datang menghampiri ku dan Papa yang tertidur di sofa ruangan Mama. Aku juga di panggil ke ruangan pak dokter, bukan hanya Papa. Sesungguhnya ada kabar apa ini?


Papa mengangguk setengah sadar. Dan kami pun berjalan mengikuti dokter.


Memasuki ruangan dokter, jantungku sudah dag dig dug takut akan kabar apa yang akan diberikan pada kami.


"Duduklah.. "


Dokter menawarkan tempat duduk 2 kursi yang berhadapan dengan dia.


"Sebenarnya, saya khawatir Pasien saya ini bertahan karena oksigen saja. Jika oksigen di lepas dia tidak akan bisa bernafas lagi. Jadi, keputusan saya serahkan pada anda. Mau di lepas? atau di biarkan saja. Saya rasa, itu akan menjadi mati suri bagi pasien"


Aku tercengang.


Papa meneteskan airmatanya.


"Biarkan saja"


Papa menjawab singkat tanpa mengangkat kepala nya. Dia teguh dan berwibawa, meskipun airmata nya menetes.


"Kenapa Mama bisa begitu dokter? "


"Tenakan darah Pasien saat di bawah kesini sangat kritis. Setelah usaha yang kami lakukan. Tekanan kembali normal. Tapi tidak dengan jiwa nya. Itu keajaiban dari Tuhan. Terkadang, jiwa nya sudah pergi"


Hatiku sakit. Seperti tersayat pisau yang tajam dan menyayat dalam. Aku tidak akan percaya jika Mama akan meninggalkanku di usia ku yang masih belia.


Dia belum menyaksikan ku memakai toga saat berwisudah nanti. Dia juga belum melihat saat aku sukses seperti Mama. Dia juga belum melihatku bertunangan, saling berjanji, dan berciuman dengan kekasih ku nanti.


Mama... Tidak kah kau penasaran? Siapa pria yang akan berdampingan dengan ku sampai hari tua?


Mama.... Seharusnya kau bertahan, jiwamu yang lepas pasti sedang melihat kami bersedih.


Mamaa....Maka kumohoon, kembali lah... Kembali lah ke dalam raga mu.


Aku berjanji, aku akan menjadi gadis Mama yang penurut. Tidak suka melawan Mama, memarahi Mama, memusuhi Mama. Aku akan selalu menyayangi Mama.


"Yoi...


Aku begitu kejam kepadamu. Di saat aku ingin menebus kesalahanku. Kau tidak menginjinkannya. Apa sebegitu benci nya kau padaku Yoi... Ijinkan aku menebus kesalahan ku. "


Ternyata Papa juga sedang memohon agar Mama lekas membuka mata nya. Papa yang sedari tadi bersikap tenang, kokoh, nyata nya ia rapuh juga.


"Maamaaaa......"


Aku menangis terisak tak tertahan, saat menyadari kata-kata Papa. Bahwa Mama tidak mengijinkan Papa untuk menebus kesalahannya. Mama membiarkan Papa menyesali kesalahannya dan membuat Papa akan semakin frustasi akan kehilangan Mama.


Aku dan Papa terdiam memandangi wajah Mama yang begitu bersih.


Selang oksigen yang masih menancap di tubuhnya tak di ijinkan Papa untuk di lepas.


Dokter juga membiarkan keluarga yang memberi keputusan.


Setidaknya dokter sudah memberi penjelasan bagaimana keadaan Mama yang sesungguhnya. Ketika terjadi apa-apa, dokter sudah lepas tanggung jawab akan keadaan Mama.


Aahh...


Jemari itu, bergerak.


"Papaaa...Jemari Mama bergerak..."


Aku antusias menunjukkan jemari Mama yang tiba-tiba bergerak begitu pelan.


"Dokterr...."


Papa langsung sigap berlari meninggalkan ku yang sedang menggenggam jemari Mama saat ini.


"Maa.. Ini Key, bukalah mata Mama perlahan-lahan.. Aku menunggu mu Ma.."


Aku menyemangati Mama. Entah Mama mendengarkan ku atau tidak.


Astagaaa... Jemari Mama bergerak semakin kuat. Itu sontak membuat tubuhku merinding karena Mama ternyata masih ada di dalam raga nya.


"Maaa..."


Aku memanggil Mama dengan suara lembut.


Beberapa menit kemudian Papa datang bersama dengan Dokter dan beberapa Suster.


Mereka sigap mengecek Mama, mulai dari mata nya, denyut jantungnya, pergelangan tangan dan kaki, dan juga leher yang membiru.


"Semua nya normal, kita tunggu sampai dia membuka mata. Maka dia benar-benar telah melewati masa kritisnya"


Dokter itu menjelaskan dengan singkat, lalu ia meniggalkan kami berdua.


Beberapa jam setelah penantianku untuk Mama membuka mata. Akhirnya datang.


Mama membuka mata nya. Ia mengerjap-ngerjap dengan mulut sedikit terbuka. Tapi dia tidak mwngeluarkan suara nya.


"Maaa.. Jangan bicara apapun. Mama tenang ya"


Aku merespon Mama dengan tingkat kepanikan yang rendah. Aku tidak boleh panik, gegabah, ceroboh, dan benar-benar harus tenang.


Aku melihat Mama meneteskan airmata nya. Dia masih tidak bisa bersuara. Seperti nya itu adalah airmata bahagia.


Papa yang tadi keluar membeli sesuatu, kaget saat melihat Mama membuka mata nya. Papa langsung menjatuhkan barang-barang yang dia tenteng itu ke lantai.


"Astagaaa.. Yoi.. Kau sudah sadar.. "


Papa berlari menghampiri Mama.


"Yoii.... Aku minta maaf. Maafkan lah aku. Maafkan diriku yang begitu egois meninggikan harga diriku sebagai pria. Yang ternyata sangat tidak berguna ini. Pria macam apa yang menelantarkan istri dan anak-anaknya.. Pria macam apa aku inii Yooii.... "


Papa menangis tersedu-sedu. Lihatlah, ingus Papa mulai merosot dari hidung mancungnya. Mata Papa penuh air dan juga kotoran (belek). Iyuh, Papa benar-benar kehilangan wibawa nya saat berhadapan dengan Mama saat ini.


"Paaaa, setidaknya usapi ingus itu... Nanti jatuh menimpa Mama... "


Aku protes.


"Astagaa Key, kau membuat ku malu.... "


Papa menutup mata nya.


Aku melihat ke arah Mama, dia tersenyum lebar. Mata nya mengerjap-ngerjap karena terharu..


Mama seperti nya senang, melihatku dan Papa saling bertukar canda. Mama pernah bilang


...Seburuk apapun pasangan kita, jika pernah melakukan perbuatan baik. Maka dia adalah orang yang baik. Janganlah kau nilai seberapa banyak keburukannya, tapi lihatlah dia pernah berbuat baik sekalipun hanya sekali....


Dan itu adalah Papa.. Dia rela menunggu meskipun Mama pernah di tampar, di usir, di hina dan di asingkan bertahun-tahun. Dia tetap menunggu Papa untuk datang menjemput kami.


Mama... Jiwamu begitu besar. Dalam hal memaafkan, aku akan belajar dari kisah mu. Semoga aku bisa mengambil pelajaran dari ini semua.


...TAMAT...


...****************...


Maafkan Author yang membiarkan novel ini Tamat. Karena takut tidak bisa Up dengan rajin. Setidaknya masih ada next eps sebagai Epilog.


Salam dari Author.


Terimakasih atas dukungan nya selama ini.