Who Am I ?

Who Am I ?
Selamatkan Aku!



Chapter 71


~Selamatkan Aku!~


"Sekarang, kau akan berkata atau tidak? aku yakin kau sudah tidak bisa mengulur waktu mu lagi. "


Hahahahaha.... (Suara tawa pelaku)


Sial.


Aku tidak bisa menahannya lagi.


"Aku... Orang... Ma. ssaa... La.. lu"


Suaraku terbata-bata saat ingin menjelaskan.


"Ooouuh iyaaa, tentu saja kau tidak bisa menjelaskan lebih jelas karena sekarang lehermu sedang ku cekik. Pita suaramu tentu saja terhenti"


Hahahahaha.... (Dia tertawa lagi)


"Jangan berharap ada yang datang! Kau tahuu.. Aku lah disini yang memegang kendali perusahaan atas nama keluarga Ame. Tuan Hasashi benar-benar mempercayaiku. Aku sudah memberikan 20% untuk Bibi Ame yang selalu mengandalkanku sejak aku menjadi bagian penting di Mafia. Aku di pandang sebelah mata, sesungguhnya akulah yang memiliki pikiran-pikiran licik yang bisa menghancurkan seisi tatanan keluarga maupun anggota sebuah Genk"


Hahahaha...


Aku benar, dugaanku benar. Dia memang dalang di balik semua kejadian yang telah terjadi pada diriku. Dia telah di andalkan oleh Bibiku sejak dia berada di Genk Mafia.


"Kau tahu, Bibi Ame orang pertama yang mempercayai ketangguhan ku. Dan yang kedua adalah Tuan Hasashi dengan penuh hormat aku sangat setia kepada beliau. Bahkan Bibi Ame tak pernah melupakan rasa terimakasih nya dengan apa yang telah ku lakukan pada keluarga Ame. Yaitu Adik dia sendiri"


"Aaa... ku... Taah. uuu.. "


"Yaaa, karena kau tahu semuanya. Kau harus mati bersama suruhan mu itu. Siapa yang menyuruhmu? "


"Aaa....ku.. Sen. di.. rian.. "


Hahahahah


(Dia tertawa dengan sangat keras)


"Sendiriaaaan? Atas dasar apa kau melakukan hal yang tak berguna jika tidak ada dendam kepada keluarga Ame"


Tiba-tiba dia terdiam. Dia seperti sedang menggali sesuatu yang terlupakan.


"Jangan-jangan... Kauuuu adalah wanita pelacur itu"


Suara keras dari mulutnya membuat cengkraman semakin menguat. Dia seperti sedang menahan amarah saat mengingat wanita pelacur. Aku yakin, itu adalah nama yang bagus untuk diriku saat itu.


Dia mulai membuka topengku dengan tangan kirinya.


Aku mulai pasrah dan tidak melawan. Tubuhku sudah mulai melemas seperti udara yang masuk semakin sedikit. Leherku mulai sakit dan punggungku juga sakit karena di hantam ke dinding.


Sreeek...


Topengku terlepas juga. Ini adalah akhir dimana aku memang tidak akan di selamatkan. Baik oleh Paman ku sendiri, atau oleh Hasashi.


"KKKAAAAAUUUUU..... "


Cengkraman ini semakin kuat. Penglihatanku mulai buram dan kabur. Aku.. sudah tidak.. tahan..


DUAAAR...


Suara tembakan. Dan aku terjatuh dari genggaman tangan pelaku dengan keadaan mata buram dan nafas yang tersenggal. Pandanganku mulai berkunang-kunang, tubuhku lemas dan terjatuh ke lantai. Yang kulihat hanya beberapa orang yang tiba-tiba masuk, dan aku mulai menutup mataku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kita harus cepat... Setidaknya saat sampai di perusahaan, aku dan Papa sampai dengan waktu yang sama. Karena kita dari arah yang berlawanan kan Nek"


Aku mengajak para Nenek untuk bergegas menghampiri Mama ke perusahaan. Karena Papa bilang, Papa membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di perusahaan. Itu adalah waktu yang cukup lama menurutku.


"Pak.. Ayo pak... Tancap gas nyaa.. "


Aku terus menerus meneriaki pak sopir yang dari tadi sudah sangat fokus di jalan raya. Mohon maafkan aku ya pak. Nanti ku belikan Mie ramen saat kita sampai tepat waktu. Aku janji dalam hati Pak.


"Rencana kita, menyelamatkan Yoi. Itu prioritas. Entah pelaku kabur atau bagaimana, itu bukan urusan prioritas. Benar! "


Nenek Sanc memberikan ide yang cukup untuk di setujui. Saat ini, seperti apapun pelaku itu. Yang terpenting menarik Mama dan menyelamatkan Mama terlebih dulu.


Setelah 30 menit perjalanan, aku sampai di perusahaan dimana mobil Papa sudah tiba. Entah 1 menit yang lalu atau baru saja tiba.


Kami berlari bersama menuju lantai atas menggunakan lift bawah tanah ini.


Aku yakin, Papa sudah lebih dulu disana. Ku harap, Papa benar-benar menyelamatkan Mama tanpa memikirkan kebencian yang dia pegang selama ini.


Ting..


Lift telah sampai, kami masih harus berjalan ke tempat ruangan kerja dimana Mama berada.


Aku berlari meninggalkan dua Nenekku yang sedikit lamban.


Prioritasku saat ini adalah Mama.


Selang beberapa detik saat aku tiba, aku mendengar suara tembakan.


DUAARRR...


Aku langsung sigap melihat apa yang terjadi.


"Paapaaa.... "


Aku tertegun saat melihat Papa menembak anak buahnya demi Mama. Menembakkan ke arah kaki. Bukan ke organ dalam.


Papa berani menembak anak buahnya yang sangat setia padanya demi Mama yang kata nya tidak setia dan menghancurkan kepercayaan Mama.


Papa memberiku isyarat dengan tangan yang menyuruhku untuk mundur. Tapi aku tidak mau, aku tidak mau melihat Mama tergeletak seperti itu. Apa yang terjadi pada Mama.


Aku berlari.


Iya, aku berlari menghampiri tubuh Mama dan dengan sigap pelaku itu menarik tanganku.


"KEYSHAAA... SUDAH KU BILANG MUNDUR"


Papa berteriak. Aku begitu ceroboh menganggap musuh sudah tidak dapat bergerak. Dia menodongkan pistol ke arah kepalaku dengan kaki yang tidak bisa ia gerakkan.


"Kau mundur, atau anakmu mati"


Pelaku itu menggertak Papa. Aku yakin, dia tidak akan membunuh Papa. Tapi dia bisa membunuh aku dan Mama dengan tanpa rasa penyesalan.


"Jadi, benar itu kau... Nobi"


Papa memegang pistol dengan tangan bergetar.


"Yaaah, itu aku Tuan.. Aku tidak mau wanita pelacur ini mengganggu kententraman kita"


Aku yakin. Papa sedang mencoba untuk berdiskusi dan menenangkan hati Nobi.


"Kau adalah orang kepercayaanku, kau sudah begitu berani menghianatku selama bertahun-tahun... KAAAUUUUUUUU, SAMA SAJA DENGAN WANITA YANG SEDANG KAU CEKIK TADI! "


Papa berteriak.


"Tidaaaak.. Tidak tuanku. Aku berbeda. Aku tetaplah Nobi yang selalu setia bersama Anda Tuanku".


"Lantas ini Apaaaaa? "


Papa begitu marah saat melihat kertas-kertas berserakan yaitu bukti tentang kebusukan Nobi yang selama ini membunuh keluarga Mama.


"Jelaskaaan ini APA!!? "


Papa berteriak.


"Tuaaaan. Maafkan akuu.. Ku mohon"


Nobi memohon ampun pada Papa dengan airmata menetes.


"MAKA LEPASKAN ANAKKU! "


Papa berteriak menyuruh Nobi melepaskan aku.


"Dia bukan wanita pelacur yang seperti kau sebutkan Nobi. Dia adalah Anakku. Darah dagingku. Jangan berani kau sentuh dia, atau kau juga akan mati dalam pengkhianatan dan kebencian pada diriku"


Papa mengacungkan pistol yang di arahkan pada Nobi.


"Baaiikk... Baikk Tuanku. Ku mohon maafkan aku. Beri aku kesempatan agar aku bisa menebus kesalahan masa lalu dan tetap menjadi orang kepercayaanmu Tuan"


Nobi memegang tanganku dengan gemetarr.. Tangannya mulai melepaskan pistol yang menodong pada kepalaku. Cengkraman tangna kanan nya juga mulai merenggang. Dia siap melepaskan demi kesetiaannya pada Papa.


Papa mendekat. Pistolnya tetap menodong ke arah Nobi. Dan semakin dekat, aura Papa begitu menakutkan. Papa menodongkan pistol tepat di kepala Nobi dengan wajah memerah.


"Jelaskan padaku! Kenapa kau mengenal Bibi Ame"


"Aku telah dia percaya untuk membunuh keluarga Ame dengan cara membuat mobil mereka hilang kendali. Bibi Ame adalah orang pertama yang mengakui kehebatanku Tuan. Aku.. "


"Oooohh, jadi selama ini bukan aku orang pertama di hidupmu. Bagusss! cukup normal untuk ukuran laki-laki menyukai wanita tua dan keji seperti Bibi Ame. Pantas kau menyukai dan mengagumi dia"


Papa tetap memasang wajah marah.


"TIDAAAKKK, TIDAAAKKK TUAN.. Kau tetap orang nomer satu yang ku hormati Tuan. Bibi Ame bukanlah siapa-siapa"


Terlihat wajah Nobi sangat tertekan oleh kata-kata yang Papa lontarkan saat itu.


Memang benar, cara terbaik melawan kekerasan adalah dengan omongan.


"Katakan sekali lagi dengan jujur, jadi kau yang menjebak Yoi sehingga dia di perkosa oleh Zeus saat itu"


Kali ini, wajah Papa sedikit murung saat membahas Mama.


"Iya Tuan, tapi Zeus tidak melakukan apapun pada Wanita itu. Kami hanya memotret nya dan mengunggah nya menggunakan tubuh orang lain yang sedikit sama dengan Yoi"


"NOBIIIIII..... KAUUU SELAMA INI MEMUTUS KELUARGA KU, ANAKKU, DAN ISTRIKUUUU"


Papa wajahnya marah lagi.


"Tuaaaaan. Ampuni akuuuu, ampuni akuu... "


Nobi memohon pada Papa dengan bersujud pada Papa dan mencium kaki Papa. Nobi benar-benar gila akan kehormatan dari Papa. Dia sangat menyanjung Papa dan menganggap Papa sebagai Tuhannya.


"Sekarang aku mengerti, kenapa kau begitu tega memisahkan ku dengan anak dan istriku dengan cara memfitnah seperti ini. Ini semua juga karena Bibi Ame. Ini pasti kemauan Bibi Ame. Cukup sudah! Setelah bibi Ame menjual keponakannya ke clubbing, sekarang dia tega mengekspos tubuh keponakannya yang bahkan itu bukan tubuhnya. Aku sudah MUAAAAKKKKKK"


dduuuaarrr....


"Papaaaaa jangaaaaan.... "


Aku berteriak saat Papa melepas tembakan pada Nobi. Yang jelas, aku tidak mau Papa masuk penjara karena membunuh Nobi. Sekalipun Nobi adalah pelaku kejahatan.


"Kaauuu Berengs*k Nobi.... "


Papa meneriaki Nobi.


Ternyata Papa menembak Kaki Nobi yang sebelah kanan. Nobi benar-benar tidak bisa berdiri. Papa menelpon polisi dan ambulance secara bersamaan. Membawa Bibi Ame yang sedang asyik berbelanja dengan putrinya di Mall, langsung di datangi polisi. Mama yang entah meninggal atau masih hidup sedang bertarung menyelamatkan hidupnya sendiri. Berjuang di dalam mobil ambulance.


Mamaaa.... Ini adalah keadilan bagimu. Ku mohon bertahanlah Mama.... Jangan hembuskan nafas terakhirmu sekarang. Ku mohoonnn....