
Chapter 24
~Ciuman pertama?
Aku keysha!
Aku berdiam diri dan canggung sekali dengan Ken. Setelah apa yang aku lakukan untuknya, mungkin ciuman adalah tanda terimakasih sesama teman. Tapi kenapa harus mendekat ke bibirku. Atau aku yang ke GR an aja yah. Sebenarnya dia mau mencium pipiku, cipika cipiki gitu. Tapi, aku yang merespon berlebihan dan berfikir dia akan mencium bibirku.
Aku sadar, aku sudah melakukan banyak hal hari ini. Mungkin dia mulai menganggapku sebagai teman, bukan musuh, bebuyutan. Saat itu, Shin menelpon ku dan meminta tolong. Kalau bukan Shin, mungkin aku tidak akan mau.
"Key, aku boleh meminta bantuanmu? "
"Oh tentu Shin, bantuan apa? "
Shin...
Setelah dia meninggalkanku saat kencan makan malam, tapi aku tetap tidak bisa membahasnya. Atau sekedar bertanya kemana kamu kemarin? Karena sejujurnya, aku bukan siapa-siapa dia. Jadi aku benar-benar harus menjaga harga diriku. Kalaupun dia membatalkannya aku juga tidak akan menolak.
"Tolong telfon rumah Ken, Halo.. Key.. kau masih disana kan"
"Aah, iya. Masih.. Kau biacara apa tadi? aku hanya dengar telfon rumah Ken. Ken kenapa?
Aku tadi melamun, dan membayangkan yang kemarin-kemarin.
"Ken sedang di sekap kakaknya, jadi cuma kamu yang bisa menelponnya"
"Hah, bukannya justru kalian lah temannya"
"Yah karena itu, si Roy tau kalau kami akan membohonginya. Jadi, kalau itu kau dia pasti percaya"
"Kau yakin?
Aku ragu, kenapa pula harus aku. Tidak kah ada wanitanya Ken. Shevy mungkin.
"Karena kau peringkat pertama, Roy sangat menyukai gadis pintar. Itu intinya"
"Ouh, jadi aku yang kau suruh mengelabuhi kakaknya. Oke, aku siap!"
Yah, karena aku tahu semenjak Ken cerita kemarin. Kalau Ken tak pernah menceritakan masalahnya dengan kak Roy, mungkin aku masih bingung dengan tanpa adanya penjelasan dari Shin.
Aku sadar, ternyata apa yang aku lakukan sebenarnya bukan untuk Ken. Melainkan untuk Shin.
Tapi Ken yang merasa sangat terbantu olehku. Dan dia sampai mau memberikan segalany untukku. Termasuk ciuman tadi.
Eitss, itu kan hanya cipika cipiki. Aku terlalu lebay ah. Lagian ini kan di Eropa. Apa yang salah dengan cipika cipiki sebagai tanda terimakasih. Ya kan!
Aku mulai merasa benar-benar canggung. Apa aku mengajaknya bicara saja yah? Ku lirik sebentar ah...
Ehhh!
Duh, kaget aku! Ternyata dia juga menoleh ke arahku. Sampai kaget banget. Seperti tidak sengaja saling berpandangan.
Oke, sekarang aku menoleh sambil bicara.
1,2,3...
"Ken"
"Key"
Duh, kok bebarengan begini....
"Kau dulu deh"
"Emm.. kenapa gak kamu aja"
"Lady's First kan"
Yah yah, biar aku saja yang memulai. Lagian aku kan yang ke GR an disini.
"Aku tidak bermaksud apa-apa Ken, tapi rencana ini Shin yang merancangnya. Jadi aku hanya.."
"Yah, kau melakukan demi Shin kan. Aku tahu kok! Oh ya.. Sebenranya aku juga mau membicarakan hal kemarin yang belum sempat ku sampaikan"
beberapa menit lagi akan sampai rumahku, tapi dia ada hal yang mau dia sampaikan.
"Oh ya? Lekaslah. Rumahku sudah beberapa meter lagi"
"Em, aku ngomong depan rumahmu aja sekalian"
"Oke, mampir sekalian"
"Tidak, di dalam mobilku saja"
Sesampainya di depan rumah.
"Em, begini. Shin juga minta tolong padaku. Karena dia membatalkan janjinya dan menyuruhku menggantikannya, itu untuk menggantikan dia jujur tentang perasaannya"
"Maksud kamu? "
"Iyah, dia tidak menyukaimu. Emm, maksudku dia tidak ingin memiliki perasaan lebih terhadap pertemanan dia. Yah, dia hanya ingin memiliki teman se Asia aja. Tapi, dia takut kalau harus mengatakannya sendiri. Emmm, jadi aku.. "
Apa?
Kok aku terdiam!
Kenapa aku tidak bisa bicara kepada Ken. Rasanya aku membeku bersama hatiku. Apa yang aku duga ternyata benar kan! Shin sebenarnya tidak menyukai ku. Dia hanya menganggap ku sebatas temannya saja.
"Em Key, sorry yah!
Hem, sebenarnya apa sih cinta itu? Aku menundukkan kepalaku. Malu rasanya menatap Ken sebagai temannya Shin. Selama ini, dia tahu kalau aku suka dengannya. Bagaiamana bisa, cinta pertama ku di tolak tanpa adanya perjuangan. Shin sepertinya tahu kalau aku menyukainya.
Cup.
Aku kaget!
Ku dongakkan kepalaku, sudah ku dapati Ken yang tiba-tiba mencium keningku.
"Ken?! "
"Akhirnya kau bisa bicara juga. Ku kira kau tiba-tiba jadi bisu"
Ken selalu berengsek. Bagaimana bisa dia mengataiku bisu. Aku hanya terdiam dan berfikir sejenak. Apa yang harus kukatakan.
Aku malu. Aku langsung keluar saja.
"Aku keluar Ken. Makasih tumpangannya. Daa"
Aku melambaikan tanganku dan lekas meninggalkan dia yang berada di dalam mobil. Ku cepatkan gerakan kakiku agar lekas sampai di rumah dan melenyapkan bayangan Ken.
Kenapa jadi terpikir Ken yah. Dia itu berani sekali menciumku. Padahal, selain Mama tidak ada yang mencium ku. Duh, jantungku dag dig dug begini. Rasanya persis saat Shin menelpon ku dulu.
Tunggu-tunggu, ini kan sakit jantung yang pernah ku rasakan. Apa ini yang namanya jatuh cinta?
Eh, kok malah sama Ken. Yaaah, jangan donk. Kenapa harus sama musuh bebuyutan sih?
Ah, aku Tanya Eiry saja. Ku telfon saja dia. Kan dia pakar cinta. Pasti lebih tahu daripada aku yang masih baru kenalan sama cinta. Memalukan sekali yah.
Tuutttt.... Tuuuttt...
"Halo Key... Kau sudah pulang?"
Ah iya, aku sampai lupa Eiry pulang bareng si Harith dan kawan-kawan tadi.
"Eh, udah. Kamu sama siapa tadi Ry"
"Oh aku, bareng temen-temennya Ken kok. Di antar sampai rumah pula. Jangan khawatirkan aku. Ohya, ada apa Key? "
"Eh iya, aku mau tanya nih. Jatuh cinta itu seperti apa sih rasanya? "
"Hahahahaha... Kamu lucu banget sih Key. Okeh, dengerin aku yah. Aku bakal ngasih kamu bocoran"
Beberapa detik setelah keheningan...
"Jadi gini, perasaan itu muncul tiba-tiba Key. Saat kamu melihatnya, jantungmu berdegup kencang seperti orang sakit jantung. Saat dia menyentuh tubuhmu, wajahmu memerah dan memanas. Tubuh mu seperti tiba-tiba berendam di air panas. Dan saat ia sudah tidak bersamamu, kau akan memikirkannya. Dan itu yang namanya rindu. eeaa"
Hemm... Sepertinya, saat bersama Shin memang jantungku berdegup kencang. Tapi kenapa cepat sekali berpindah orang yah. Apa cinta semudah itu untuk berubah.
"Em, Ry.. Apa cinta itu bisa dengan mudah berpindah kelain hati? "
"Hahahaha.. Kau memang sangat lucu Key. Yah, jujur saja. Ternyata kamu sepolos itu yah. Ku kira kau hanya pura-pura polos saja. Hahaha"
"Hey, kau gila yah. Bahkan aku belum pernah ciuman"
"Hahahahahaha.. Geli aku"
Hem, menyebalkan sekali si Eiry. Bukannya ngasih penjelasan malah ngetawain aku. Mau bagaimana lagi, aku ini terlalu fokus sama masalah kehidupan ku. Tentang bagaimana menjadi orang yang rendah hati.
"Jadi begini, cinta itu kadang di artikan sama dengan perasaan suka. Contoh nih, Kau suka yogurt kan. Saat kamu melihat yogurt, apalagi yang rasa strawberry jantungmu langsung berdegup kencang. Seperti sedang semangat dan sangat menginginkannya"
"Eits tunggu, kok jadi yogurt sih? "
"Yaelah Key, ini mah perumpamaan. Dengarkan dulu pakar berbicara. Jangan di potong"
"Baik Nyonya... "
"Dengarkan yah, nah kamu gak mungkin kan jatuh cinta sama yogurt. Apalagi menikah dengannya"
"Iiiiyyuh.. Bagaimana mungkin aku menikah dengan yogurt?
"Nah, selanjutnya kalau kamu ingin bersama dengannya selamanya. Menghabiskan waktu dengannya. Dan bayangkan, kau gak mungkin kan sehidup semati dengan yogurt"
"Hahahah, sekarang aku mulai mengerti Ry"
"Yah, gak salah aku menjelaskan pada orang yang cerdas sepertimu. Tapi, sedikit lambat mengetahui tentang perasaan yang kau rasakan"
"Hey, maksudmu apa? "
"Tidak kok. Jadi, kalau kau suka sama seseorang. Dan saat orang itu mengkhianatimu, kau akan dengan mudah melepaskannya"
"Ahaa, benar. Thank you ya Ry. Byeeee"
Yaaah, bener banget. Gak mungkin aku semudah itu jadi playgirl. Iya kan! Eh, aku kayak tahu aja playgirl itu apaan. Padalah suka sama seseorang aja baru ngerasain kemarin-kemarin. Sok-sok an jadi playgirl. Hahaha...
Yang terpenting, apapun yang di katakan Ken tadi. Mau itu benar atau tidak, hatiku sepertinya tidak terlalu hancur melebur. Yah, bahkan aku hanya terdiam sesaat. Dan ketika sedang mencerna, kenapa aku malah memikirkan Ken yah.
Gak mungkin juga aku jatuh cinta sama Ken. Mungkin aku sedang menerima dia seperti aku menerima yogurt. Yah, benar kata Eiry. Semua orang boleh suka sama sesuatu. Tapi tidak selalu menjadikan Cinta adalah patokannya.
Duh, kok dag dig dug begini sih rasanya. Tiap memikirkan Ken, aku jadi keinget saat aku terdiam tadi. Dia tiba-tiba menempelkan keningnya di dahiku. Kaget banget. Mau menghindar pun sepertinya sudah terlanjur di cium. Anehnya, badanku memanas. Dan sekarang aku malah mikirin dia.
Kriingg..
Krinngg..
Ehhh! Ken telfon?
Bukankah beberapa jam lalu sudah ketemu. Di angkat gak ya? duhh.... Jadi dag dig dug begini