Who Am I ?

Who Am I ?
Si Key



Chapter 53


~Si Key~


Setelah menikmati berendam di airpanas. Aku kembali ke kamar untuk mengistirahatkan tubuhku.


Saat pagi hari...


Tok tok tok


"Nona, sarapan telah siap. Silahkan Nona membersihkan diri dan keluar untuk sarapan"


Pelayan itu membangunkan ku tepat pukul 07:00 pagi.


"Baik bibi.. "


Teriakku seakan-akan ini rumahku sendiri. Tapi memang benar, aku merasa seperti rumahku sendiri. Dan Paman muda itu seperti Paman ku sendiri.


Menemaniku makan bersama dan mengajakku mengobrol.


"Paman, terimakasih makanannya hari ini"


Aku membungkukkan badan setelah sarapan.


"Tunggu, berkemaslah key. Kita akan pergi mengunjungi Papamu"


"Benarkaaah? Papaku bernama Hasashi Paman"


Jawabku antusias.


"Iya aku tahu"


Paman itu tersenyum dan melanjutkan meminum kopi dengan membaca koran.


"Baik. Aku segera kembali"


Aku pergi ka atas untuk membereskan pakaianku kemarin. Koperku masih tertinggal di sauna. Entahlah masih ada atau tidak. Tas kecilku dan ponselku juga tidak ada. Mungkin kah masih tertinggal di sauna, atau di sembunyikan oleh gadis kacamata kemarin.


Ah yang penting ketemu Papa dulu.


Setelah berkemas aku turun ke tempat Paman tadi. Paman ternyata sudah siap dan berada di dalam mobil. Kali ini Paman tidak menyetir. Dia bersama sopir nya.


Aku masuk dengan riang dan semangat. Kami berangkat menuju Papa ku berada. Semoga mereka tidak membohongiku.


Selama perjalanan, Paman bertanya padaku.


"Key, apakau hidup nyaman bersama ibumu? "


"Tentu saja Paman, aku bahagia bersama Mama dan Nenek "


"Syukurlah"


"Em, apa Paman mengenalku dan keluargaku"


"Nanti kau akan tahu sendiri"


Ugh, Paman selalu saja misterius. Membuatku semakin penasaran.


Aku berdiam dan menunggu paman membawaku ke kediaman Papa.


Setelah tiba, aku melihat rumah jepang lagi. Tapi lebih modern dan mewah. Aku di bawa masuk bersama Paman.


Bel berbunyi. Aku dan Paman menunggu pintu terbuka.


"Ini aku, Keluarlah Kau kak"


Kakak? Jadi pamanku adalah adiknya Papa.


Cklek. Pintu terbuka.


Tuan sedang di ruangan baca. Duduklah sebentar di ruang tamu.


"Suruh cepat keluar, ini penting sekali"


Paman menyuruh pelayan itu untuk bergegas.


"Baik"


Aku tetap terdiam menunggu Papa. Paman juga hanya terdiam.


"Ada perlu apa lagi kamu kesini? aku sudah katakan aku tidak mau menjadi pemimpin Genk itu lagi! "


Itu suara Papa, ia berjalan menuju kemari.


Paman langsung berdiri menghadap Papa dan membungkukkan badan.


"Aku membawa putri mu yang kau rindukan. Dia telah diculik oleh pesaing bisnis dan hampir di perkosa"


Paman menjelaskan yang sebenarnya.


"Aku tidak percaya! kau selama ini selalu menipu ku. Demi menyuruhku untuk menjadi pemimpin kembali"


"Aku bersungguh-sungguh kak. Aku mendapat kabar setelah gadis kacamata menemukan dia di Sauna dengan cara tidak sengaja"


Paman tahu tentang gadis kacamata? sepertinya dia bukan perempuan biasa.


"Gadis berbahaya itu? "


Sebelum Papa meneruskan pembicaraannya. Suara telepon berdering.


Triiiinnggg....


Triiinnggg...


"Angkat"


Papa menyuruh pelayan untuk mengangkat.


Pelayan itu mengangguk-angguk dan begitu patuh nya padahal hanya berbicara melalui telepon genggam.


"Tuan, ini Ibu anda"


Pelayan menyerahkan ganggan telepon dan Papa meraih nya.


"Iya.. APAAAAA! SUNGGUH??! Baiklah. Aku yang akan kesana. Tunggu disana Bu"


Wajah tuan Hasashi tiba-tiba berubah menjadi acak-acakan. Tadi nya berkarisma sekali, sekarang menjadi Pria yang bingung.


"Siapkan mobil, kita berangkat ke rumah Nenek. Untuk melihat bukti apa yang dikatakan Hamura ini benar tidaknya"


Benar-benar sosok Papa yang keren.


Aku di bawa satu mobil dengan Paman. Papa tetap bersama sopirnya sendiri.


"Paman... "


Aku ingin mengatakan sesuatu.


"Iya, kamu adalah keponakanku. Jadi kamu sangat benar memanggilku seperti itu"


Paman tertawa.


"Aku sangat bahagia... "


Ini pertama kali nya aku melihat ada nya keterikatan keluarga berjenis kelamin laki-laki. Yaitu Paman.


Kami tiba di kediaman rumah Ibu tuan Hasashi, atau lebih tepatnya Nenekku.


Aku sangat tidak sabar melihat Nenek.


Ting tong...


Bel rumah di pencet.


Rumah seperti kuil dengan di hiasi bunga sakura bertebaran dimana-mana. FIX!! ini rumah terbaik dan terunik yang pernah aku kunjungi. Desainnya kuno tapi sangat bersih. Persis rumah di jaman peperangan dahulu.


Setelah gerbang pertama di buka, aku berjalan menuju pintu utama melewati taman dan kolam ikan Koi dan bunga teratai.


Cklek.


pintu terbuka.


HAAAA....!


Orang pertama yang aku lihat adalah wajah cemas teman-temanku. Ken, Eiry, Shin?!


Mereka semua berkumpul menunggu ku disini?


Ken berdiri dan berlari menghampiriku. Sesaat dia akan menghampurkan pelukannya padaku. Dia di hantam oleh Papa.


Bruk!


"Siapa kamu? Bukankah dia putri ku? "


Papa menatap tajam Ken.


Astaga, Papa kuat sekali. Sampai Ken terjatuh padahal cuma di dorong satu tangan. Ken gegabah sekali, mungkin dia terlalu cemas padaku.


"Ini bukti yang anda butuhkan. Tapi mohon maaf, seperti nya dokumen asli nya sedang di pegang orang yang telah menculik Key"


Shin berdiri dan menyambut Papa. Benar-benar dewasa dan berkarisma. Ugh, dasar bicah Kenborg. Memalukan sekali.


"Jadi benar, kau bertemu gadis berkacamata"


Papa menatapku. Diaaa, dia berbicara dengankuu...


"Halo"...


"Oh eh em Iya Tuaaan.. Aku cinta maaf karena semoat ceroboh. Sekarang ponsel dan pasporku juga hilang "


Aku menundukkan kepala. Karena sudah jelas tas kecil ku memang hilang.


"Kemarilah, aku ingin memelukmu"


Papa menyodorkan tangannya.


Rasanya, mataku tiba-tiba panas. Terasa panas sampai tetesan airmata tiba-tiba mencuat keluar dengan sendirinya. Aku terisak.


"Tunggguuu, Aku membawa kesini agar Kakak mau jadi pemimpin lagi. Kalau tidak, aku tidak akan membiarkan Key baik-baik saja lagi"


Paman menghalangi ku yang siap berlari ke Papa.


"Iya iya, terserah kamu. Urus itu untukku. Aku ingin bersama anakku. Kemarilah.. "


Papa membuka tangannya lebar-lebar.


Terdengar isakan dari samping. Itu Nenek. Nenek wajahnya anggun sekali. Dia tiba-tiba terisak melihatku yang siap berlari kepelukan Papa.


Aku berjalan maju untuk memeluk Papa dengan pipi yang basah karena airmataku bersama ingusku di hidung.


Setelah mendaratkan pelukanku pada Papa. Aku mendengar kejanggalan.


DOR!


Suara tembakan. Tidak... Itu tidak mengenai tubuhku. Lantas mengenai siapa? Aku menoleh dan melepaskan pelukanku yang hanya bertahan beberapa detik untuk melihat siapa yang tertembak.


Aku melihat darah mengalir dan tubuh tergeletak tepat di belakangku berdiri. Saat aku menoleh, dia adalah temanku. Ken!


Bukan bukan, dia adalah orang yang aku sukai.


KEEEENNNNN....


Aku berteriak sejadi-jadinya. Beberapa pengawal menghambur keluar dan mencari beberapa titik penyerangan yang secara tiba-tiba datang.


Ini bukan berasal dari tembakan jarak jauh, karena kediaman Nenek begitu jauh dari pemukiman dan sangat terasingkan. Kenapa? tapi kenapa harus Ken yang jatuh tersungkur.


"Pelakunya tertangkap. Kita bawa ke markas untuk melapor pada Ketua"


Paman berlari ke dalam. Melihat wajah Papa yang begitu garang, aku jadi sedikit takut.


"Kurang ajar! Berani menyentuh keluargaku hanya untuk mengancam. Bawa dia ke Markas. Karena aku sudah menjadi bagian dari Genk Mafia Road lagi"


Beberapa orang bergegas membawa pelaku Yang tertangkap itu ke dalam mobil.


Ken di larikan ke Rumah sakit terdekat. Aku ikut naik ambulance. Aku tidak mau sampai Ken kenapa-kenapa?


Papa juga ikut duduk di sampingku.


"Tenanglah, dia tidak akan terluka parah. Berhenti terisak, kau akan terlihat menjadi gadis lemah"


Papa menenangkanku yang sejak tadi menggenggam tangan Ken.


Ku mohon, selamatkan Ken.. Aku belum sempat berbicara dengannya. Aku belum sempat mengungkapkan perasaanku padanya. Airmataku mengalir begitu deras. Isakan ku sudah tak dapat di bendung.


..."Cinta itu benar adanya karena terbiasa. Bukan karena membenci, bukan karena mengasihi. Tapi dia datang karena kita yang selalu bersama dan selalu ada satu sama lain"...


quotes By Ken Ai