Who Am I ?

Who Am I ?
Para Pahlawan Penyelamat



Chapter 35


~Para Pahlawan Penyelamat~


Setelah berdrama ria dengan Eiry, akhirnya kami sadar bahwa kami sedang tersesat di dalam hutan.


"Key, kau tahu jalan keluarnya? "


Eiry bertanya padaku dengan muka sembab sehabis menangis.


"Hehehe, aku hanya fokus mengintai mu Ry tadi. Jadi aku juga asal jalan ke depan saja".


"Key, ini bukan saatnya cengengesan. Kamu ini selalu yaaah"


Eiry mencubit kedua pipiku dengan gemas.


"Aduh aduh aduh, sakittt Eiry.. "


"Saat ini ponsel kita hanua berfungsi sebagai penerang saja. Sinyal tidak ada sama sekali disini. Kita jalan putar balik aja. Ke arah kamu mengikuti ku tadi. Setidaknya kita harus keluar dari pepohonan yang rimbun dan lembab ini"


Eiry memberikan ide kepadaku.


"Ide yang bagus.. Kalau kita melangkah maju sepertinya semakin tersesat. Ya kan! "


Kami berdua berdiri, saling bergandengan tangan dan menggenggam erat menghilangkan rasa takut. Cahaya dalam hutan sangat minim. Maka ponsel kami harus di pergunakan. Jam menunjukkan pukul 04.00pm. Sudah semakin sore dan semakin menghilang teriknya sinar matahari siang.


Bergerak cepat mungkin ide yang bagus dan juga ide yang buruk. Karena kami semakin bingung harus mengarah kemana.


"Key, kemana ini? "


Eiry tampak cemas dan khawatir.


"Sebentar, kalau di fikir nih. Seharusnya ada ranting patah yang ku injak tadi. Atau semak-semak yang rusak karena kau kibas-kibaskan saat lewat kan".


Tapi kenapa ini seperti tumbuhan yang belum terjamah manusia sama sekali. Masih rimbun disini.


"Lebih baik kita putar lagi aja Key. Aku takut kita semakin masuk ke dalam hutan ini. Bagaimana kalau kita mati berdua sebagai sahabat sejati? Aku kan belum pernah tidur dengan Shin. Masa harus mati dulu"


Eiry memegang tubuhnya dan bersenandung dengan mesum. Gila pikiran dia itu. Lagian siapa juga yang mau mati disini. Aku juga sama, dia pikir aku sudah pernah begituan apa! Pacaran aja belum pernah. Uh


"Tenanglah, aku belum pacaran Ry. Justru pengalaman kamu sudah banyak. Aku yang belum apa-apa masa harus mati sekarang! "


Aku membalas senandungan Eiry.


"Hahaha.. Aku bercanda Key. Lebihbaik, jika kita memang bisa keluar hidup-hidup. Berjanjilah untuk menemukan kekasih sejati mu. Jangan main-main mulu". Eiry mencubitku, dalam keadaan begini memang sangat di butuhkan relax sesekali. Biar gak tegang dan semakin berpikiran yang tidak-tidak.


"Okeeee! kalau kita bisa menemukan jalan keluar. Aku akan cari pacar sepertimu"


"Asik, nanti kita double date yah... "


"Ry, kita keluar duluuu dari sini. Ini malah mikirin double date"


Kami berjalan memutar dan menjauh dari tempat yang rimbun tadi. Setelah melihat ranting patah, kami berlari mendekati dan meyakinkan bahwa itu jalan yang telah aku lewati tadi. Berjalan maju kedepan dengan perlahan-lahan karena takut jika kita tiba-tiba berbelok dan tersesat lagi.


Beberapa menit berjalan, nafas terengah karena merinding dan takut. Keringat bercucuran karena tegang.


"Aku ada ide Key, kita teriak. Siapa tahu ini sudah dekat diluar. Dan ada anak-anak di sekitar kita"


"Idemu selalu cemerlang Ry. Oke, laksanakan"


"HALLOOOOOO, ADA YANG MENDENGAR KAMIIIII. KAMI TERSESAT. HALOOOOO ADA YANG DENGAR? "


Suara lantangku lebih berguna daripada Eiry yang terlalu lemah lembut dan gemulay.


"Aku bantu Key, Hallooo... Dengarkan kamiii.... Kami dalam hutaaaannnn"


"Hahaha... Suaramu mungil sekali Ry. Gak salah Shin suka sama kamu. Memang kamu menggemaskan sekaliii..."


Aku mencubit-cubit pipi Eiry yang kenyal itu.


"ihh.. Key.. Lihat mataku"


Eiry tiba-tiba menatap mataku dengan serius.


"Hey hey... Apa yang kau lakukan. Kau mau menghipnotis aku"


"Aku serius, ayolah Key... "


"Yah yah, nih udah ku tatap nih mata kamu"


Aku menuruti kemauan Eiry dengan menatap matanya juga.


"Key, kau yakin membiarkan aku dengan Shin. Aku tidak ingin hubunganku berakhir seperti yang lainnya? Jujur Key, ini antara aku dan kamu. Tidak akan ada yang tahu"


Eiry menatap mataku begitu tajam dengan serius sekali.


"Tentu saja tidak mau. Shin kan punyaku"


"Baiklah Key, lebihbaik aku tidak memilikinya jika memang Shin tidak mau jadi milikmu. Biar kita sama-sama tidak saling memiliki. Adil bukan? "


Eiry memasang wajah sedih dan sedikit senyuman yang sepertinya sih sedikit terpaksa.


"Hahahaha.. Lucu sekali kau ini. Tentu saja aku akan membiarkanmu bersamanya. Asalkaaan... "


Aku akan memberinya syarat.


"Asalkan apaaa Key? katakanlaaah! "


"Asalkan, kamu tidak pernah membohongiku lagi. Sekalipun masalahmu dengan Shin, dan melibatkanku. Jika memang kalian punya masalah sendiri silahkan. Itu privasi hubungan kalian. Tapi kalau menyangkut pautkan aku dan kalian berbohong. Aku akan benar-benar membencimu"


Aku mengancam dia dengan masa tajam. Haha, bagaimana mungkin Eiry sebegitu takutnya. Jelas-jelas mataku ini kecil dan mungil. Lebih besar punya nya dia.


"Baikkk! Aku akan berjanji... "


Eiry langsung melangkah maju dan mendekapku dengan begitu erat. Seperti takut kehilangan sosok sepertiku lagi. Uhhh, senangnyaaa... Hehee


Eits aku bukan *Lesby yah...


Srek srek srek*...


Suara kaki melangkah, apa itu manusia? atau hewan? ataukah hantu? Ah hantu kan tidak punya kaki.. Lebih baik dia melayang daripada berjalan kaki, capek.


Sreekk...


sreekkk..


kretak..


Suara ranting patah, ini pasti manusia. Aku harus berteriak.


"SIAPAPUN YANG ADA DISANA, TOLONG SELAMATKAN KAMI YANG TERSESAT INI. KAMI ADALAH GADIS-GADIS CANTIK YANG MALANG. TOLOONNGG"


jika itu laki-laki, pasti dia akan segera menyelamatkan kami yang cantik-cantik ini. Harus ada embel-embel cantiknya.


"Nyalakan lambu ke atas pohon"


Oh oh, dia menjawab. Itu seperti kode agar mereka bisa menemukan posisiku dan Eiry.


Suara kaki berjalan semakin mendekat. Semak-senak di depanku mulai bergoyang. Saat di sibak, muncul lah 4 orang pria yang datang menyelamatkan kami.


"Dimana gadis cantiknya? Hey, apakau lihat gadis cantiknya. Sebelah mana yah? "


Ken?


"Keeeen..... Ken... jadiii, kau yang datang"


Aku berlari tanpa sadar dan menghamburkan pelukanku kepadanya. Tanpa sadar! iyah... Tanoa sadar pelukan Ken begitu hangat dan menenangkan.


"Shin, terimakasih telah mencari kami"


Eiry diam di tempat, dan Shin melangkah maju untuk memeluk kekasihnya. Memang benar sudah, terlihat jelas bahwa Shin begitu menyayangi Eiry.


"Eh tunggu? kenapa kau datang dan mencari gadis cantik hah! Kau tidak lihat di depanmu ini. Dan gadis yang itu. Kan sama-sama cantik bodooh!! "


Aku jengkel sekali, bagaiamana bisa dia malah mengataiku begitu. Aku tidak terima


"Kau sudah kuselamatkan bukannya terimakasih, kenapa marah-marah"


"Kau keterlaluan, memangnya aku dan Eiry jelek"


"Tidak, Eiry cantik"


Shin menjawab dengan tegas dan menoleh ke arahku.


"Baiklah, jadi hanya aku yang jelek disini"


Semua orang menertawakanku. Menjengkelkan sekalii... Apa benar aku jelek? kan memang belum membersihkan diri setelah berjalan berputar-putar tadi. Siapa juga yang sempat berdandan di tempat seperti ini?


"Diamlah... "


Ken mendekapku dan mengelus rambutku. Dia seperti sedang cemas. Mencemaskanku? Untuk apaaa? Aku bukan gadis cantik di matanya kan!


Tapi aku enggan untuk meronta-ronta, karena saat ini aku membutuhkan pelukan ini, sandaran ini yang begitu hangat dan nyaman. Terimakasih Ken sudah datang dan membiarkanku memeluk tubuhmu.


Hay Hay..


Belum tamat nih yah... Kisah Asmara segera dimulai. Jangan lupa untuk tinggalkan Like kalian dan juga komen kalian. Itu sudah menjadi penyemangat untuk menulis Bab berikutnya. Thankyou..



Bonus visual Keysha...