Who Am I ?

Who Am I ?
Mati sebelum berpesan



Chapter 70


~Mati sebelum berpesan~


Astagaaa.. Mama tiba-tiba berpesan seperti ini, dan ini seperti sebuah pesan terakhir untukku. Aku harus cepat menghubungi Papa. Daripada harus menunggu dan menunggu, seperti nya Mama dalam bahaya.


"Nenekkk.. Mama dalam bahaya. Mama terperangkap oleh pelaku selama ini. Seperti nya pelaku nya sangat ingin menyingkirkan Mama. Membunuh bukanhal yang sulit untuk dia lakukan"


Aku mengajak para Nenek untuk berdiskusi.


"Astagaaaa.. Apa itu benar Key? Aku tidak akan membiarkan Yoi mati dalam keadaan dimana kita tidak melakukan apapun! "


Nenek Sanc berdiri dengan semangat.


"Sekalipun aku juga sedang membenci nya, tapi bukan saat nya jika dia terbunuh begitu saja. Kita harus lekas menghubungi Hasashi"


Nenek Hasashi menambahi pendapat.


"Ayo Nek, hanya Nenek yang bisa menelpon Papa.. "


Aku rasa, Mama salah saat mengartikan pesan bahwa Nenek setuju untuk membiarkan Papa bertemu dengannya. Dia pikir Papa sudah berangkat dan pergi untuk menemui Mama. Nyata nya Papa belum pergi kesana. Lantas siapa yang ada bersama Mama sekarang.


"Haloooo.. Hasashiii, ini gawaaat... Kau harus lekas datang ke perusahaannya Yoi. Karena ada seseorang yang akan di bunuh. Di ruang kerjamu"


Nenek tidak basa basi, dia langsung berbicara terus terang dimana itu akan membuat Papa kebingungan. Pastiii..


"Ibuuu, kau mengigau? kenapa pagi-pagi begini sudah tidur sih? "


Sudah kuduga, Papa tidak akan percaya dengan mudah. Aku tidak akan membuang waktu, dan membiarkan Nenek menjelaskan dengan bingung. Aku langsung menyahut telepon yang di genggam Nenek. Nenek kaget...


"Papaaa. Ini Keysha.. Aku mohon, tolonglah Mama. Mama sedang berada di perusahaanya untuk mencari berkas kematian orang tua Mama. Tapi dia di halangi oleh seseorang yang katanya itu adalah pelaku nya. Aku mohon, selamatkan Mama. Demi Key paa.. "


Aku tidak berharap banyak, yang ku harapkan cuma Papa mempercayai perkataanku kali ini.


"Keyshaa.. Ini sungguh kau? "


Papa tetap kebingungan.


"Papaaa, ku mohon lekaslah kesanaaa.... "


Aku membentaknya.


"Ah. Baik... Baik. Papa berangkat sekarang. Kamu berhutang cerita pada Papa ya Key"


terdengar suara mobil menyala, seperti nya Papa akan pergi sekarang.


"Pasti. Key Janji... "


Aku telah berjanji dan menutup telepon Papa. Semoga Mama baik-baik sajaa.. Aku mohon, Tuhan. Selamatkan Mama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Amenda Yoi...


Baiklaaah, ku harap keberuntungan berada di pihakku saat ini.


"Hey, jawab! Siapa Kau? "


Suara langkah kaki yang semakin mendekat.


Aku harus mengatur nafas untuk menjawab pria brengsek itu. Dengan suara ku yang sedikit bergetar, ku harap aku bisa menutupi nya.


"Aku? Kau yakin kau ingin tahu siapa aku? Maka jangan mendekat. Karena ada sesuatu yang akan kau injak dengan tidak sengaja"


Aku berbohong. Iyah, aku berbohong. Semoga dia percaya.


"Jadi, kau siap mati Nona"


Dia sudah tahu bahwa aku adalah seorang wanita, melalui suara ku dia mengenali nya. Ku harap dia lupa dengan suara Yoi di masalalu.


"Tentu saja. Kematian bersama bukanlah sesuatu hal yang buruk bukan? "


Aku berpura-pura sok kuat.


"Oh, siapa orang yang menyuruhmu? Sepertinya kau cukup professional"


Dia tidak berjalan, suara langkah kaki juga telah terhenti. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan sekarang. Menghadap ke arahku? membalikkan badan dan menjauh dariku? duduk di sofa? entahlaaah, aku tidak tahuuu...


Aku hanya berani menggertak, tapi aku sangat takut untuk hanya berpapasan wajah dengan dia.


Entahlah, harus berapa lama lagi aku mengulur waktu ku hanya demi pertolongan yang bahkan tidak ku ketahui akan datang dan tidaknya.


Hatiku terasa sakit dan teriris-iris.. Membayangkan kematianku sebentar lagi. Aku juga tidak yakin, kematianku nanti akan terungkap atau tidak oleh si pelaku ini.


Sudah sekitar 30 menit aku bermain petak umpet dengan pelaku ini. Seperti nya dia sudah tidak sesabar tadi.


"Aku yakin kau sedang membohongi ku Nona, tidak semudah itu kau menyelipkan bom ke dalam perusahaan yang Tuan Hasashi pegang"


Suara langkah kaki mulai terdengar kembali.


Jedag.. Jedug.. Jedag.. Jedug..


Astaga, suara jantungku sudah mirip sekali dengan suara sepatu pelaku yang mulai berjalan ke arahku.


Sret ...


Kursi kerja yang berputar telah ia pegang dengan kepalan tangan itu. Mengerikan sekali jika tahu bahwa dia melakukan hal-hal keji demi kepuasan tersendiri.


Dia memutar kursi nya dan membuat tubuhku berhadapan dengan dia.


"Hai, Nonaa... "


Senyum sinis dari wajah pelaku itu menatap diriku. Dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Aku tetap diam dan tak menjawab sepatah kata pun.


"Sungguh kau tidak akan berkata dengan sendirinya, siapa kah dirimu? Maka aku akan membuka siapa kamu di balik topeng wajah itu?! "


Tangan pelaku itu mulai bergerak dengan perlahan untuk membuka topengku. Aku harus ada perlawanan.


Tubuhku sigap berdiri dan menghindari tangan pelaku yang hampir menyentuh topeng mata di wajahku. Keringat dingin mengucur di seluruh pelipis wajahku. Tanganku yang mulai bergemetaran tak terkendali.


"Ouch.. Kau berani melawan ternyata. Baiklah, bagaimana kalau kita lihat siapa dirimu saat kau sudah menjadi mayat Nona? "


Pelaku itu mengeluarkan pistol yang tersimpan rapi sejak tadi di dalam kemeja nya. Dia menodongkan pistol itu ke arahku.


"Ha! hanya mayat yang tak bisa bicara jelas tidak akan memberi mu petunjuk sama sekali"


Aku berharap dia menjatuhkan pistol itu.


"DIIAAAMMM KAUUU.. "


Aku yakin, pelaku itu sedang berfikir keras dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Jika dia membunuhku, dia tidak akan dapat informasi apapun selain hanya melihat wajahku yang bahkan mungkin dia tidak mengenali. Tapi aku yakin, dia pasti mengenali wajah ini. Aku juga sudah yakin, dia menguntit ku meskipun aku telah jauh dari Negara asalku ini.


"Setidaknya kau bisa menangkapku hidup-hidup.. "


Aku menggertaknya sekali lagi. Lebih baik aku tertangkap tapi aku masih bernyawa bukan?!


"Kau pintar juga yaa.. Kau lumayan siap untuk di siksa dan memberikan segala informasi yang kau ketahui tentang kebusukanku" (suara tertawa dari pelaku)


Dia mendekat.


Tap.. Tap..


Kaki nya bergerak perlahan menderap mendekatiku. Aku cukup tangguh untuk menangkis, tapi tidak ada tenaga untuk melawan.


"Aarrrgghhhh... "


Dia menangkapku dan kali ini aku tidak bisa melawan sama sekali. Dia mencekik leherku.


"Ayo Nona, seberapa tangguh dirimu melawanku? "


(suara tertawa kembali terdengar)


Dia tidak mencekik ku dengan erat. Namun ini cukup sakit jika aku masih mengulur waktu ku, aku yang akan mati.


"Le.. pas. ka. nn.. "


Suaraku tidak bisa keluar seperti biasanya..


Uhukk...


Aku terbatuk. Aku sudah tidak tahan lagi.. Sekalipun tangannya mencekikku dengan tidak erat, namun aku bisa kehabisan napas beberapa menit lagi.