
Chapter 62
~BERPULANG~
Festival Hanami adalah liburan terbaik yang pernah aku dapatkan. Bersama Nenek, Papa, dan Pria yang aku cinta. Aku bahagia sampai lupa aku punya Mama dan Nenek yang menunggu kepulanganku.
Liburan sekolah musim panas juga akan segera berakhir. Sudah seminggu aku di Jepang. Mungkin Shin dan Eiry sudah kembali ke rumah. Dan inilah waktu yang tepat untuk ku berpulang juga kerumah.
Pagi ini, Nenek memberiku banyak sekali oleh-oleh. Dia juga memberiku foto berserta bingkai nya. Itu adalah foto kecilku bersama Papa dan Mama. Ini hadiah terbaik yang ingin aku dapatkan selama ini.
"Neneeeekkkk... Aku sangat bahagia memiliki foto ini. Aku akan menyimpannya dengan baik"
Aku memeluk Nenek ketika akan berangkat.
Aku juga memeluk Papa yang menahan air mata nya. Astagaaa, seorang pemimpin kenapa begitu cengeeeng??
Aku menciumi Papaku. Dia sangat gemas dan menggendongku. Astagaa, aku kan sudah besar. Biarkan Ken saja yang menggendongku nanti.
Aku dan Ken sudah mendapat begitu banyak oleh-oleh, dan menitipkan oleh-oleh untuk Eiry dan juga Shin. Mereka juga sudah membantu begitu banyak tentang masalahku ini.
Kami berpamitan dan Yaaah, Nenek menangisi Ken.
"Nak Keenn... Sesekali telepon lah Nenek mu ini ya Nak... Nenek akan merindukan mu"
Nenek lebay sekali.
Dia melambaikan tangannya sambil terisak.
Neneekk... Nenek.. Cucumu kan aku, bukan Ken!
Kami di antar Kak Nobi menuju bandara. Menunggu sampai kami benar-benar naik pesawat dengan aman. Karena takut terjadi apa-apa.
Kak Nobi beserta Bodyguard lainnya tampak sedang mengawal anak presidan mereka. Lebay sekali.. Sampai-sampai semua orang memperhatikan langkahku.
Cduk..
Astagaaa.. Aku terjatuh. Aku gugup sekali. Ken tertawa kecil dan membantu ku berdiri.
"Kau bodoh sekali, tidak cocok jadi artis"
Ken mengangkat ku dan sekaligus mengejekku.
Mungkin orang-orang melihat kami dan berfikir "Siapa mereka? sampai harus di kawal? "
Ah jangan di fikirkan. Kami bukan siapa-siapa? Papa ku aja yang memang terlalu khawatir kepada kami.
Akhirnyaaa, setelah tiba di kursi penumpang. Aku merenggangkan tubuhku yang selama ini tegak dan gugup karena di perhatikan orang-orang.
Ken tertawa geli melihatku. Dia seperti nya sangat percaya diri dan malah menyombongkan dirinya dengan berjalan tegak mebgangkat kepalanya. Dengan tangan di masukkan ke dalam saku. Menggunakan kemeja pendek tapi longgar dan besar, dengan perpaduan celana pendek dan sepatu baru yang dia beli disini. Sok keren! Dia memakaikan kacama hitam seakan dia memang artis. Tapi yah, kau tahu lah. Beberapa orang memotret dirinya.
Astagaaaa... Jiwa narsis nya keluar.
"Aku kan sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Jadi, saat kau menjadi gadisku. Kau akan menjadi pusat perhatian juga sepertiku. Ingat, di sekolah nanti kita harus mempublikasi kan bahwa kita pasangan kekasih. Hahahahahaha"
Astagaaaa... Aku menepuk jidatku. Dasar tidak tahu malu. Memang benar, tingkat kenarsis annya melebihi Harith yang suka jahil itu.
Pesawat pun melepaskan dirinya dan terbang ke udara.
...----------------...
Kami telah sampai di negara kami tinggal. Ken terlihat lelah dan pucat. Padahal sebelumnya dia sangat bersemangat. Kenapa dia?
"Kau kenapaaa? bukannya kau masih sehat sebelum pesawat lepas landas tadi"
Aku menggosok-gosokkan punggungnya dengan perlahan.
Ken hanya menggelengkan kepalanya. Kami menelpon taxi dan ku biarkan taxi mengantarkan Ken pulang terlebih dahulu.
Aku melambaikan tanganku dan dia langsung berlari ke dalam rumah tanpa menoleh.
Astagaaaa... Apa benar kita sepasang kekasih? Dasar Ken menyebalkan.
Aku pun tiba di rumah dengan selamat. Nenek menyambutku dengan antusias...
"Keyshaaaa.... Nenek sangat merindukanmu.. Mana oleh-oleh untuk Nenek? "
Hem.
Nenek sebenarnya tidak merindukanku. Dia hanya ingin oleh-oleh yang ku bawa. Dasar...
Aku beberes di kamar dan memindahkan beberapa barangku dan juga oleh-oleh ku yang siap ku bagikan saat sekolah nanti. Nenek datang ke kamarku ikut membantu.
Astaga... Nenek menemukan bingkai foto yang terdapat foto ku bersama Papa dan Mama.
Nenek dengan cepat membalikkan bingkai itu sebelum aku menyahut nya.
"Key... ini...? Jadii benar firasat Nenek Nak? "
Nenek memasang wajah serius untuk pertama kali bagiku.
Nenek tidak pernah menanyakan hal-hal seserius ini. Karena yang ku tahu, Nenek selalu membelaku benar atau tidak nya aku. Nenek selalu memberi dukungan untukku. Kali ini, Nenek memasang wajah sedang menginterogasi aku. Aku lebih baik jujur, daripada Nenek kecewa saat tahu aku membohongi Nenek.
"Neneekk.... "
Aku memeluknya terlebih dahulu.
"Nek, aku sudah bertemu Papa"
Aku tetap dalam pelukannya. Aku tidak mau Nenek memarahiku. Aku takut sekali saat-saat seseorang yang tidak pernah memarahiku, tiba-tiba marah karena kecewa telah ku bohongi.
Tak terdengar sautan sedikit pun dari suara Nenek. Detik demi detik terasa lenggang. Nenek kenapa diam? tak lama kemudian terdengar isakan tangis. Aku melepaskan pelukanku dan melihat wajah Nenek.
"Neneek... Kenapa Nenek menangis? Nek, Key minta maaf karena tidak bicara dulu untuk mencari Papa Key. Nek... Jangan menangis, Key mohoonnn.. "
Nenek mengelus-elus rambutku.
"Akhirrnya... yaa.. Nak... Kamu.. bertemu Papa... Kamu.. "
Nenek menjawab dengan senyuman sekaligus isakan nya, membuat ia bicara terbata-bata. Aku memeluknya.
"Nenek tidak marah?"
Tanya ku. Nenek menggelengkan kepala nya. Jelas-jelas semua terjawab, bahwa Nenek yang sedang ku peluk bukanlah Nenek asli ku. Tapi Nenek tidak marah jika aku mengetahui kenyataan itu.
Nenek memperbaiki wajahnya dengan mengusap-usapkan telapak tangannya. Membenahi mata dan hidungnya. Nenek memperbaiki suara serak nya.
"Ehm.. "
"Nenek merasa lebih baik? "
Tanya ku khawatir.
"Yah, setidaknya Nenek tidak terisak"
Nenek tertawa..
"Neneeeeeek... Aku khawatir sekali Nenek akan marah"
Aku memeluk Nenek untuk kesekian kali nya.
"Sekarang kamu tahu kan, aku bukanlah Nenek mu. Dan Mama mu hanya menumpang disini"
Nenek menatap wajahku dengan memelas.
"Apa yang Nenek katakan?. Yang merawatku selama ini adalah Nenek. Bagaimana bisa seorang Nenek yang merawatku sejak kecil dengan penuh kasih sayang? Tidak boleh di anggap Nenek karena bukan Nenek asli ku. Tidak ada yang seperti itu Nenek! "
Aku menjelaskan dengan suara lantang. Aku tidak mau nenek sedih. Nenek malah semakin menangis.
"Astagaaa Nenek... Apa aku membuatmu sedih? "
Nenek lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya.
Yaaah... Beres-beres kali ini penuh drama dan tangisan Nenek. Sampai baju-baju ku basah bercampur ingus Nenek. Astagaa...
Aku menceritakan semua yang terjadi saat aku di Jepang. Tentang aku yang di culik, Ken yang tertembak.
"Astagaaaaaa... Bawa Nenek kerumah nya Key. Nenek khawatir pada nya! "
Nenek menggoyang-goyangkan lenganku.
Ya ampun Kenn... Peletmu masih berfungsi juga. Jelas-jelas aku juga habis di culik. Kenapa Nenek tidak bertanya aku baik-baik saja atau tidak!
"Dia sudah pulih dan sehat kembali Nenek.. Aku yang merawatnya"
Jawabku sombong dan memanas-manasi Nenek.
"Baiklah. Tapi, Nenek akan mengadu pada Mama kalau kamu tidak membawa Nenek ke rumah Ken"
Astagaaaaaaaa....
Ancaman Nenek benar-benar membuatku pusing.... Daripada Nenek mengadu ke Mama sekarang. Lebih baik membawa Nenek saja dulu ke rumah Ken. Urusan Mama biar aku omongkan saat aku sudah siap. Sekarang aku takut sekali Mama jadi tanaman liar yang mencaplok kesana kemari. Tidaaaakkkkk