
Chapter 22
~Raungan Kak Roy~
Aku Ken!
Setelah pertemuan malam kemarin dengan Key, kurasa aku sedikit legah menceritakan bebanku kepada nya. Yah, setidaknya dia tahu kalau aku tidak se bangga itu mempunyai kakak yang jenius. Mungkin teman-temanku juga tidak akan akan pernah tahu bagaimana rasaku memendam tentang kakakku itu.
Di sekolah pagi ini aku sangat tidak bersemangat. Dan teman-temanku semua tahu nanti sepulang sekolah aku harus siap-siap ke bandara untuk menjemput si jenius itu.
Yah, setidaknya aku tidak akan lari kali ini. Akan kuhadapi si jenius itu.
Mungkin Kakak pulang karena sebentar lagi karena dia telah melewatkan ulangtahunku kemarin. Dan dia pasti sudah tahu kalau hadiah terbaik dari keluargaku adalah saham yang sama seperti yang dia pegang.
Entah apa yang dipikirkan oleh Kakek, memberikan saham dengan jumlah yang sama. Aku belum siap untuk menjadi pebisnis di usia semuda ini. Mungkin kakakku takut, aku akan menghilangkan beberapa saham yang telah ku pegang dan itu akan mempengaruhi jalannya bisnis keluarga ini.
Setidaknya aku tidak bodoh, kurasa. Tapi kakak tetap menatapku seperti orang yang butuh pengarahan. Dia benar-benar meremehkan diriku.
......................
Sore hari sepulang sekolah
Tidak terjadi apapun terhadap aku dan Key hari ini. Mungkin aku yang sedikit menghindar karena malu telah menceritakan masalahku kemarin. Tapi mau bagaimana lagi? aku benar-benae sedang tidak mood untuk meneriaki siapapun. Aku lemas sekali, pucat dan enggan melakukan aktifitas.
Mungkin masa remajaku sudah habis nanti sore. Karena kakak akan membenahkanku menjadi pria dewasa seperti dia. Bagaimanapun aku harus menerima kenyataan ini. Bukan saatnya main-main untuk bisa menjadi sukses seperti kakakku.
Sore hari di Bandara...
"Halo adik, kau yakin sudah siap menjadi pebisnis"
"Sapaanmu tidak elegan sekali. seharusnya kau menanyakan kabarku dulu"
"Hahaha, apa yang harus kutanyakan jika kamu saja bisa berdiri tegak memandangku dengan wajah musam mu itu"
"Yah yah, percuma berdebat. Aku tidak akan pernah bisa menang darimu"
"Setidaknya belajarlah agar kau memang dariku Ken"
Terserahlah dia mau mengomel apa juga. Aku tidak akan bisa melawannya. Bagaimana kabar teman-temanku hari ini yah. Aku sangat merindukan basecamp untuk dijadikan sarang berkumpul setiap pulang sekolah. Mungkin tidak lagi. Padahal besok hari libur sekolah. Kenapa juga dia pulang pas hari begitu. Aku jadi tidak bisa kemana-kemana. Dasar Roy menyebalkan sekali....
......................
Di rumah
"Hey sayang, kau sudah pulang. Sini Mama bawakan tas mu ke kamar"
Yah, drama sudah dimulai. Mama pasti sangat senang atas kedatangan anak kebanggaanya itu.
"Papa belum pulang kah Ma? "
"Tentu saja Roy, dia berusaha bekerja keras seperti kamu loh! "
"Yah, setidaknya anak mama yang satu itu tuh, bisa jadi pebisnis hebat nanti"
"Kau menyindirku... "
"Haha, kau merasa. Baguslah! "
Dasar kakak gila. Dia tidak sehausnya menyamakan otakku dengannya. Bagaimana bisa aku dan dia terlahir sama dan sempurna. Pasti ada kekurangan Salah satunya. Tentu saja, lebih tampan aku dan tinggi aku. Kakakku mah, tidak tampan. Hanya berwibawa saja.
"Ken, hasil belajarmu mana? Aku mau lihat. Selama ini aku sibuk sekali. Jadi tidak sempat check "
"Check aja di komputer. Di ruangan kerja sana. Disana sudah tertata rapi data-data nilai semua siswa di angkatanku"
Aku bergegas meninggalkan dia sebelum dia semakin menjadi menyuruhku belajar dan belajar. Membosankan sekali.
......................
Hari Libur telah tiba.
Jam berapa ini, Argh... masih jam 7 pagi. Tidur lagi aja ah. Hari libur kan.
"Ken, kemarilah. Bantu aku membereskan beberapa dokumen ini"
Berisiiikkkk!!!
"Ken, kalau kamu tidak keluar dari kamar. Aku akan menguncinya dan kau akan terkurung seharian"
Arrgh... Psikopat gila kerja memang benar-benar kakakku. Ini kan hari libur. Jam 9 nanti bukannya masih bisa dikerjakan.
Aku dengan malas mengangkat tubuhku dari nyamannya kasur yang empuk ini. Berjalan pontang panting sambil nengusap-usap mata yang berair.
"Mana? " Aku menjulurkan tanganku di depannya.
"Hey, aku di belakangmu bodoh. Buka matamu, cuci muka sana. Gosok gigi. Lalu sarapan. Lekas bantu aku di ruang kerja ini. Banyak dokumen yang harus kukerjakan, sebelum kau benar-benar memegang saham sebesar itu"
Yah yah yah, lagi-lagi yang dibahas tentang bisnis keluarga. Dia benar-benar takut aku akan membangkrutkan group Naritari. Memang dia pikir aku bodoh sekali apa?
"Nih, udah beres nih muka ku"
"Yaps, duduklah. Coba lihat kenaikan signifikan dari proyek yang ku buat dengan partner luar negri ku"
cekluk...
Auugh...
"Kau ketiduraaaan! Dasar bodoh. Ini masih pagi bagaimana bisa kau ketiduran"
"Maaf kak, sepertinya aku butuh olahraga pagi sebelum melakukan aktifitas kerja berat"
"Ini gak berat loh Ken"
"Aku belum terbiasa kak, ayolah... Daripada aku ketiduran lagi. Kan jadi sia-sia kakak menjelaskan segalanya"
"Hem.. Baiklah. 30 menit dengan istirahatnya. Okeh"
Akhirnyaaaa, aku terbebas 30 menit. Lumayan untuk meregangkan otot. Badanku ini gak boleh sampai lemas dan kurus seperti kakak. Aku harus menjaga badanku yang ideal ini bukan. Hehe
Yups... saatnya lari pagi. Semangaaatt