
Chapter 20
~Pertemuan Dua Sejoli~
Aku kenborg!
Menunggu makanan datang, aku mengecek isi tas ku. Ku cari-cari sampai tanganku benar-benar mengacak-acak isi tasku ini. Gak ketemu juga sama hadiah yang kupersiapkan tadi siang. Duh! kemana yah hadiah itu. Apa di mobil yah? dasar ceroboh sekali... Kok bisa ketinggalan di mobil. Yasudah nanti saja kalau pulang aku kasihkan di parkiran mobil.
Tapi, setidaknya aku harus mengatakan kalau Shin tidak menyukai dia. Itu yang terpenting sekarang.
"Ken, kau kenapa? makananmu tidak enak? atau kau alergi seafood yah?"
"Enak aja, ini restoran favorit aku tahu! " Aku tanpa sadar memasang muka masam yang membuat dia tertawa geli melihatku. Bagaimana bisa dia mengejekku alergi, orang bangsawan begini alergi seafood. Memalukan!
"Ayooo, kita habiskan makanan di meja ini"
"Siapa takut! "
Hah, dasar gadis bodoh. Menantang ku makan makanan sebanyak ini. Siapa takut, orang ini makanan enak semua kok.
heeeekkk...
Argh, kenyang sekali...
Hebat juga dia bisa habisin makanan ini semua. Dan kurasa dia makannya seperti babi, tidak ada malu-malunya. Gak seperti gadis-gadis yang sering ku ajak makan. Selalu menyisahkan makanan dan enggan memakan dengan lahap seperti dia. Mungkin takut bibirnya berubah jadi kulit badak kali yah.
Hem, dia wajahnya natural juga. Bibirnya juga tidak berubah jadi tebal tuh. Berarti bukan efek make up donk yah. Lumayan lah buat kasta 1 tidak terlalu memalukan untuk dijadikan gandengan baru.
"Kau menatapku? "
"Enak saja, lihat tuh bibirmu. Belepotan kenapa saus kerang"
Ih, pakai ketahuan segala lagi. Duh Ken, memalukan sekali ketahuan menatap gadis bodoh itu.
"Eh, ada yang mau aku bicarakan denganmu. Mengenai Shin"
"Eh, apaa apaaa? "
Hem, lihatlah wajah bodoh itu. Kenapa dia bisa seceria itu saat aku menyebutkan nama Shin. Seharusnya aku tetep memberitahukannya, tapi rasanya tidak tega juga melihat wajah gadis bodoh ini kalau menangis.
Hah! kenapa juga harus kasihan. Bodo amat!
"Kau tahu, aku sahabatnya Shin. Dia menceritakan segalanya padaku. Termasuk dirimu"
"Waaah, apa yang dia ceritakan tentangku? apa aku cantik dimata nya? "
Duh, semakin tidak tega saja menyakiti dia. Seperti sedang menjungkir balikkan kesenangan hatinya hari ini.
Triiinnggg.... Triinngg....
"Sebentar Key, ada telfon"
Hah! Kak Roy? Menelfonku. Untuk apaaaa?
"Halo. Tunggu kepulanganku besok! Jemput aku di bandara jam sekian"
"Kenapa kau pulang? "
"Tentu saja untuk menemui mu bodoh! Kau mau aku apa? "
Aku terdiam. Aku sedikit membencinya. Tapi bukan berarti aku dendam padanya. Nyatanya aku juga merindukan kedatangannya yang selama ini berbisnis jauh dari rumah.
Aku seperti sedang galau, entah aku harus bahagia atau menderita karena kakak akan pulang untuk menyiksaku mulai besok. Hem, aku jadi kenak bom nya hari ini. Bagaimana bisa aku menenangkan Key yang nantinya akan menangis karena Shin. Bahkan aku juga sedang butuh pelukan.
"wajahmu pucat sekali? apa kau dapat telfon dari rumahsakit Ken?"
"Kakakku pulang"
"Bukankah justru bahagia, karena kakak mu pulang. Atau pulang dengan tidak selamat"
"Sekalipun aku berharap begitu, tapi aku juga menyayanginya".
Rasanya ingin kabur saja dari rumah, aku tidak mau menatap kakakku yang sombong itu. Dan Mama pasti membandingkanku lagi, apalagi Papa. Aku tidak suka dengan keadaan dimana kakakku menjadi pahlawan bangsa keluargaku. Itu membuatku tertekan sekali.
"Kakakku orang jenius, dia yang dulu memajukan sekolah Naritari. Tentu saja dengan prestasi-prestasi nya yang gila itu"
"Ohhhhh, Jadi Kakakmu itu yang bernama Royborg kan. Dia seorang pemenang Olimpiade proyek bisnis teknologi 10 tahun yang lalu...? "
Lihatlah wajah bodohnya, dia semakin terkagum-kagum dengan kakakku. Sedangkan aku, si bodoh dari keluarga Naritari yang jenius itu. Persis anak pungut saja aku ini.
"Kau pun juga menyukai kakakku kan. Siapa pula yan gak tahu kakakku".
Dia seperti pahlawan di sekolahku yang namanya gak akan pernah padam. Karena setiap perkenalan siswa pasti akan di perkenalkan sejarah siswa yang pernah memenangkan kejuaraan dunia itu.
"Hey hey, aku tidak bilang begitu. Kau juga hebat. Bukankah kau pemenang juara dunia pemain kartu tahun kemarin"
"Itu hanya permainan, bukan tatanan bisnis. Bagaimana bisa dikatakan hebat"
"Menurutku sih, hebat itu bukan tentang gelar apa yang dia dapat. Karena penulis naskah film pun, sama hebatnya dengan sang sutradara. Mereka hebat di bidang mereka masing-masing"
"Tapi tidak di bidangku Key, kau tahu aku dari keluarga pebisnis. Bukan keluarga yang bermain kartu sehari-harinya"
Key mendekatkan tubuhnya dan menepuk pundakku. Aku kaget hingga tersentak mundur. Kenapa dia tiba-tiba begini? jadi kayak macan betina yang sedang mengelus rajanya.
"Aku baik-baik saja Key, jangan khawatirkan aku. Aku ingin pulang saja. Sebelum kakakku besok datang dan merampas seluruh kegiatanku"
"Hem, baiklah.. Setidaknya aku kan sudah berusaha menghiburmu. Hubungi aku kalau kamu butuh hiburan. Aku punya banyak segudang lelucon." Sambil memasang senyum konyol di bibirnya, memang seperti sedang menghiburku.
Dia ternyata perhatian juga, bagaimana bisa aku menyakitinya dengan keras. Uh, Sorry Shin. Mungkin tidak hari ini. Lagian Key juga tidak bertanya kemana Shin sampai aku harus menggantikannya. Dasar Key bodoh!
Bodoh bodoh bodoh...