
Suatu pagi, Vanya sedang berada di taman rumah sakit. Dia sedang bersantai sambil mengobrol ringan dengan pasien lainnya. Untuk sejenak, Vanya melupakan masalahnya.
Namun ketenangannya sirna saat Vano datang menghampirinya. Vano duduk di sebelah Vanya.
"Hai Van!" sapa Vano.
Vanya hanya melirik Vano tanpa mau membalas sapaannya.
"Gimana keadaan lo?" tanya Vano berbasa-basi.
"Masih hidup gue" balas Vanya.
"Hem.." Vano menghembuskan nafas panjang mendengar jawaban Vanya.
"Gue bakalan urus pernikahan kita kalo lo udah sembuh" ujar Vano.
"Ok" balas Vanya dengan singkat.
Keduanya terdiam. Tak ada keakraban seperti biasa antara 2 orang itu. Vano tidak tahan dengan semua ini. Dia tidak bisa jika Vanya terus mengacuhkannya.
"Van,, gue mohon sama lo" Vano menatap Vanya.
Vanya menatap Vano dengan bingung.
"Jangan bersikap dingin sama gue. Gue gak mau lo giniin terus" pinta Vano.
"Giniin gimana? Gue itu bersikap biasa aja. Lo nya aja yang lebay" balas Vanya.
Vano terdiam. Kini bahasa Vanya terdengar seperti biasa lagi.
"Lo udah makan?" tanya Vano.
"Udah" balas Vanya.
"Lo mau makan apa lagi?"
"Makan ati"
"Hah! Makan ati?"
"Iya, ati ayam"
"Ok, gue beliin ya"
Vanya menganggukkan kepalanya.
"Atinya digoreng ya. Serundengnya yang banyak. Jangan lupa pake sambel yang pedes" pesan Vanya.
"Ok siap. Pesanan lo akan segera sampai" ujar Vano bersemangat.
Vanya tersenyum kecil pada Vano. Dan Vano membalas senyuman Vanya dengan lebar. Vano pun segera pergi membeli ati ayam pesanan Vanya.
Sebenarnya ati ayam hanya sebuah alasan saja. Vanya ingin Vano segera pergi dari hadapannya. Vanya berusaha bersikap biasa saja pada Vano. Tapi itu rasanya sangat sulit.
3 hari sudah Vanya dirawat di rumah sakit. Kini Vanya sudah boleh pulang ke rumahnya. Dan sekarang, Vanya sudah berada di dalam rumah. Awalnya Julia dan Bram ingin menemani Vanya. Namun Vanya menolak dengan dalih dia sudah sehat sepenuhnya.
Besok adalah hari di mana dia akan menikah dengan Vano. Vanya berharap dia tidak hamil dan kontrak nikah dengan Vano akan berakhir selama 3 bulan.
Selama Vanya sakit, Arsen terus saja menghubungi Vanya. Dia terus menanyakan kabar Vanya. Sebenarnya Arsen sangat ingin menjenguk Vanya. Namun jadwalnya terlalu padat. Orang yang mengatur jadwalnya tidak seperti Vanya yang cekatan.
Keesokan harinya.
Vanya dan Vano sudah berada di kantor catatan sipil. Mereka akan menikah di sana. Hanya butuh beberapa syarat, kemudian mereka akan resmi menjadi suami istri.
"Van, lo ingetkan syarat dari gue?" tanya Vano.
"Iya, gue inget kok" balas Vanya.
Vano menganggukkan kepalanya.
1 jam kemudian mereka sudah resmi menjadi suami istri. Vanya menyandang startus baru menjadi nyonya Vano Permana Bazla. Namun hanya mereka berdua yang tau akan status itu.
Kini keduanya sama-sama berada di depan kantor catatan sipil.
"Habis ini lo mau ke mana?" tanya Vano.
"Kerja" jawab Vanya.
"Lo gak usah kerja. Mulai sekarang gue yang akan tanggung jawab soal biaya hidup lo" cegah Vano.
Vanya menatap Vano.
"Tapi sekarang gue suami lo"
"Heheh.." Vanya tertawa kecil. "Lo lupa ya, bukannya lo bilang jangan ngungkit status. Jalanin hidup kayak sahabat biasa, tidak ada hubungan suami istri yang sesungguhnya. Hubungan suami istri hanya ada di atas kertas aja. Dan sekarang? Lo mau nafkahin gue? Gak salah nih? Lo yang ngajuin syata, lo juga yang ngelanggar syarat lo sendiri" jelas Vanya.
Vano bungkam. Dia tidak bisa menjawab ucapan Vanya.
Vanya tersenyum melihat kebungkaman Vano. Vanya melangkah pergi meninggalkan Vano sendiri.
"Tunggu" cegah Vano.
"Apa lagi?"
"Lo mau ke tempat kerjakan?"
"Iya"
"Gue anterin ya"
"Ya ampun,, lo itu bodoh banget ya Van. Baru aja gue jelasin sama lo. Air liur gue aja belum sempet kering di bibir gue. Dan lo udah lupa aja"
Vano terdiam.
"Gak usah perduliin gue. Gue bisa sendiri. Mending, lo sama Helen aja. Dia pasti nungguin lo"
Vanya berjalan meniggalkan Vano. Dia akan kembali bekerja sebagai manager Arsen.
Singkat cerita, kini Vanya sudah berada di tempat Arsen berada. Kali ini Arsen dengan menghadiri podcast dengan youtuber ternama. Vanya bisa melihat Arsen yang sedang menghadap kamera.
Saat melihat Vanya, mata Arsen membulat. Dia tidak menyangka Vanya akan datang hari ini. Rasaya Arsen ingin segera mengakhiri syutingnya kali ini. Tapi dia harus tetap propesional.
Setelah 1 jam mengobrol, akhirnya Arsen selesai juga. Arsen langsung menghampiri Vanya.
"Hai,, maaf bos, gue bolosnya lama" sapa Vanya.
Arsen menatap Vanya dan langsung memeluknya. Vanya terkejut dengan pelukan Arsen.
"Gue seneng banget lo udah sembuh" ucap Arsen.
"Lebai lo mah" balas Vanya.
Arsen melepaskan pelukannya.
"Lo beneran udah sembuh?"
"Iya, gue udah sembuh total kok"
"Huh,, untung aja lo cepet sembuh. Kalo lo gak cepet sembuh, gue bisa pusing karna si Gave" Vano melirik Gave.
"Hahah.." Vanya tertawa mendengar ucapan Arsen.
"Gue laper nih, kita makan yu" ajak Arsen.
"Boleh" setuju Vanya.
Vanya dan Arsen pergi makan siang. Mereka pergi bersama dengan tim Arsen. Mereka pergi ke sebuah restoran andalan Arsen. Mereka makan bersama. Namun Arsen dan Vanya beda tempat. Arsen sengaja memesan ruangan hanya untuk berdua, yaitu untuknya dan untuk Vanya.
Kini Vanya dan Arsen sedang duduk bersama dan di meja yang sama.
"Jadi lo ke mana aja selama ini?" tanya Arsen.
"Gue sakit Sen" jawab Vanya.
"Bener lo sakit?"
"Iya"
"Ah,, apa karna lo selalu kerja sama gue, lo jadi sakit ya? Maksud gue, gue terlalu keras sama lo ya?" tebak Arsen.
"Enggak kok. Emang udah waktunya gue sakit"
"Ah,, gue jadi gak enak nih.."
"Gak enak gimana? Udah gak usah pake gak enak segala. Kalo mau gue enak, lo jangan potong gajih gue selama gue sakit. Itu baru enak"
"Gimana mau potong? Semua gajih gue ada di elo"
"Ahahah,, iya juga ya" Vanya terbahak bahak.
Untuk saat ini Vanya merasa bahagia karna dengan adanya Arsen membuat dia melupakan Vano.