
Menjelang siang, Natali mengajak Rose ke mall. Mereka ingin memebeli perlengkapan untuk bayi mereka yang akan lahir. Mereka membeli berbagai pakaian bayi dengan berbagai warna. Mereka juga membeli peralatan makan, mandi, dan tempat tidur. Meski pun di mansion sudah ada, tapi mereka tetap ingin membeli sesuai dengan selera mereka.
Setelah puas berbelanja, mereka singgah di sebuah restoran yang ada di mall itu. Mereka makan siang bersama.
"Menurutmu, bayiku laki-laki atau perempuan?" tanya Rose tiba-tiba.
"Menurutku laki-laki." jawab Natali.
"Tapi menurutku perempuan."
"Lalu kenapa kau bertanya?"
"Aku hanya ingin tau pendapatmu saja."
"Kenapa kau tidak melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin bayimu?" tanya Natali.
"Aku ingin saat kelahirannya di dunia, menjadi kejutan untukku. Aku tidak masalah bayiku ini perempuan atau laki-laki. Yang jelas aku akan menerimanya dengan segenap hatiku." ungkap Rose.
Natali tersenyum.
"Kau sendiri kenapa tidak melakukan USG?" Rose balik bertanya.
"Tidak. Jika aku melakukan itu, mungkin aku akan kecewa."
"Kecewa kenapa?" bingung Rose.
"Aku menginginkan bayi laki-laki. Dan jika saat di USG ternyata bayi perempuan, aku takut akan kecewa."
"Bukankah sama saja. Jika akhirnya kau melahirkan bayi perempuan, kau juga akan kecewa."
"Kau benar. Tapi aku akan lebih senang jika kekecewaanku terhapus oleh rasa bahagiaku."
Makanan yang mereka pesan sudah datang. Mereka memakan makana itu dengan nikmat. Setelah makan, mereka melanjutkan percakapan mereka yang tertunda.
"Natali, boleh aku meminta sesuatu?" tanya Rose.
"Katakan saja kau mau apa." balas Natali.
"Aku ingin kau merawat bayiku seperti bayimu sendiri." pinta Rose.
Natali terdiam menatap Rose.
"Kenapa kau meminta itu?"
"Aku bukanlah ibu yang baik untuknya. Aku tidak mau dia memiliki ibu seperti aku."
"Jangan berbicara seperti itu. Setiap ibu itu manusia terbaik bagi anaknya."
"Aku ingin nama ibu dari bayiku adalah namamu."
"Ck.. Kenapa kau bicara seoerti itu? Kau masih berniat meninggalkan bayimu?"
"Tidak lagi. Hanya saja aku merasa akan pergi jauh. Aku tidak akan bisa bersama bayiku."
"Aku akan mencegahmu pergi. Kau tidak akan pergi ke manapun."
Rose tersenyum kendengar ucapan Natali. Setelah pembicaraan berakhir, mereka memutuskan untuk pulang. Saat berada di luar restoran, tiba-tiba terjadi keributan.
"Akh.." teriak semua orang.
Natali dan Rose bingung melihat orang-orang berlari dan berteriak.
"Ada apa ini?" tanya Natali.
"Aku tidak tau. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi." balas Rose.
"Iya, ayo." setuju Rose.
Natali dan Rose hendak pergi, namun mereka dihadang oleh sekelompok orang bertopeng. Mereka membawa senjata tajam dan juga senjata api. Natali dan Rose ketakutan.
"Siapa kalian?" tanya Natali.
"Kau tidak perlu tau siapa kami. Kau harus ikut bersma kami."
"Tidak. Aku tidak akan ikut bersama kalian."
"Jadi kau memilih jalan kekerasan?"
"Jika kau sedikit saja menyentuhku, kau akan habis di tangan suamiku."
"Maksudmu Zain?"
Natali membulatkan matanya. Dia kenal pada Zain? Natali tau ini bukan masalah biasa.
Natali menggerakkan kepalanya ke sana ke mari. Dia mencari anak buah Zain yang selalu mengawalnya. Namun dia tak kunjung menemukannya.
"Kau mencari dia?" orang berbaju hitam itu menyeret sebuah mayat yang kepalanya sudah ditembak.
"Akh.." pekim Natali. Mayat itu adalah anak buah Zain yang selalu mengawasinya. Tapi dia dihabisi oleh sekelompok orang ini.
"Cepat bawa dia!" titah ketua kelompok ini.
"Jangan mendekat. Jangan sentuh aku." garang Natali."
Dengan cepat tangan Natali dipegangi oleh orang-orang itu.
"Lepaskan aku. Tolong.. Zain.. Tolong aku.." teriak Natali.
Rose mencoba mengahalangi, namun dia tidak bisa. Natali dibawa secara paksa oleh mereka. Rose tidak bisa berbuat apa-apa.
"Natali.." teriak Rose meratapi Natali yang dibawa oleh orang-orang itu.
Rose segera merogoh ponselnya dan menghubungi Zain.
"Ada apa!" sewot Zain.
"Tuan Zain.. Natali.." ucap Rose dengan bibir bergetar.
"Ada apa dengan Natali?" tanya Zain.
"Natali diculik."
"Apa! Bagaimana bisa? Ke mana anak buahku yang mengawal kalian?"
"Dia dihabisi. Cepat selamatkan Natali. Aku sangat takut terjadi sesuatu padanya." pinta Rose sambil menangis.
"Baiklah. Kau pulang dan jelaskan padaku secara rinci."
"Iya."
Zain sangat marah mendengar berita dari Rose. Dia segera pulang dan meninggalkan pekerjaannya.
Rose menjelaskan semua pada Zain. Rose juga mengatakan orang-orang yang sudah menculik Natali adalah anak buah Owen. Darah Zain mendidih mengetahui Owen yang sudah menculik istrinya.
Leo dan James segera bergerak mencari keberadaan Leo. Saat ini Rose sangat takut. Dia takut pada Zain. Dan juga takut terjadi sesuatu pada Natali.
Setelah mendapat lokasi Owen, Zain dan pasukannya segera menuju lokasi. Mereka akan menyelamatkan Natali selaligus menghabisi Owen.
"Lihat saja Owen. Aku akan menghabisimu. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Berani sekali kau menculik istriku." geram Zain.