VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Italia 2



Vano kembali duduk di kursi. Dia menunggu sampai pagi menjelang. Vano tertidur di atas kursi.


"Mas,, bangun.." tetangga yang semalam memarahi Vano membangunkan Vano dari tidurnya.


"Em.." Vano mulai bangun.


"Mas dari semalem gak pulang-pulang?"


"Iya.." balas Vano dengan merentangkan kedua tangannya.


"Mas pulang aja. Penghuni rumah ini gak akan pulang"


"Bapak tau dari mana?"


"Ih,, mas gak percaya?"


"Gak"


Ya udah, bodo amat"


Tetangga itu pun pergi.


Tok.. tok.. tok..


Untuk kesekian kalinya Vano mengetuk pintu rumah Natali.


"Van,, lo di rumahkan? Semaleman gue di luar nih. Masa lo tega biarin gue di sini semaleman. Udah pagi lagi" ucap Vano.


"Van.."


Vano sudah putus asa. Sepertinya Natali memang benar tidak pulang. Meski Natali tidak pulang, semangat Vano masih membara. Jika Natali tidak pulang, maka Vano yang akan mendatangi Natali.


Vano segera memesan tiket pesawat ke negara Italia. Dia sudah bertekad akan membawa Natali pulang bagaimana pun caranya.


Vano pulang ke rumah untuk membawa beberapa baju. Setelah itu dia pergi ke bandara untuk melakukan penerbangan karna dia memesan penerbangan pertama.


Kita tinggalkan Vano. Biarlah dia menyusul Natali. Dan biarkan Natali memilih untuk hidup bersama siapa. Entah itu bersama Zain, atau bersana Vano.


Natali dan Zain sedang tiduran di atas tempat tidur sambil memakan cemilan. Tatapan Natali fokus ke depan tv lebar di kamarnya. Dia sedang asik menonton drama Korea kesukaannya. Dia sangat senang melihat biasnya yang lain terjun ke seni peran.


Jika Natali menatap layar tv, lain halnya dengan Zain. Dia malah menatap Natali. Sedari tadi tatapannya tak pernah lepas dari Natali. Sudah 2 jam lebih Zain menatap Natali.


"Yah,, bersambung.." gumam Natali.


"Ish,, kenapa harus bersambung sih? Kan kepala jaksanya belum ditangkep" geram Natali.


Zain tersenyum mendengar geraman Natali. Natali baru sadar kalo dari tadi Zain terus menatapnya. Natali pun menatap Zain. Saat Natali balik menatapnya, Zain tersenyum.


"Aku kira kamu liatin tv" ujar Natali.


"Bidadari ada di depan aku, masa aku harus liat benda mati, kayak tv" celetuk Zain.


"Ih,, gembel.."


"Gombal Nat.." ralat Zain.


"Heheh,, iya.."


Zain mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Natali. Natali bingung pada sikap Zain.


"Nat, jangan pergi lagi ya" pinta Zain.


"Tergantung.." balas Natali.


"Kok tergantung?" desis Zain.


"Tergantung kamu lah. Kalo kamu ngusir aku, ya aku bakalan pergi" balas Natali.


"Aku salah,, maafin aku ya" sesal Zain.


"Iya, aku udah maafin kamu"


"Iya,, kalo aku gak maafin kamu, aku kamu gak akan bisa meluk aku"


Zian semakin mengeratkan pelukannya.


Suasana hening seketika.


"Kenapa kamu mau pergi ke Indonesia?" tanya Zain tiba-tiba.


Natali diam tak menjawab.


"Kenapa harus ke Indonesia? Kenapa gak ke Korea aja? Biar kamu bisa ketemu sama bias kamu di sana" ucap Zain.


"Tadi disuruh jangan pergi. Sekarang malah disuruh pergi ke korea. Gimana sih?" dengus Natali.


"Aku gak mau kamu pergi"


"Ya udah, jangan ngomong kek gitu"


"Iya,, maaf"


Hening lagi.


"Saat itu aku bingung mau ke mana. Aku pikir aku harus pergi darimu. Kamu udah gak cinta lagi sama aku" Natali mencoba menjelaskan.


"Itu gak bener. Aku masih dan akan tetep cinta sama kamu"


"Tapi waktu itu aku gak ada tujuan Zain. Tiba-tiba aku merindukan tanah kelahiranku. Entah bujukan dari mana, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke sana"


Zain diam tak menanggapi.


"Kamu tau, aku rela kamu pergi ke negara mana pun. Tapi aku tidak rela kamu pergi lagi ke sana" ucap Zain.


"Kenapa?" heran Natali.


"Aku takut kamu kembali pada Vano" balas Zain dengan air mata yang sudah menggenang.


"Hah?"


"Aku takut kamu akan balikan sama Vano. Aku gak mau kehilangan kamu"


"Sayang,, aku gak mungkin kembali pada Vano. Kan sudah ada kamu. Untuk apa aku kembali?"


Natali menghapus air mata yang jatuh di wajah tampan suaminya itu.


"Tapi tetap saja aku takut.."


"Gak akan da hal yang seperti itu"


"Janji ya, gak akan pernah tinggalin aku"


"Janji"


"Janji gak akan berpaling"


"Janji"


"Janji gak akan tergoda"


"Eh,, siapa yang akan tergoda?"


"Ih,, janji dulu"


"Iya,, janji"


Zain tersenyum. Dia pun menghujani Natali dengan ciuman di wajahnya.


Vano sudah menginjakan kaki di negara Italia. Dia membawa tekad serta semangat dalam dirinya untuk mecari Natali. Dia tidak akan pulang sebelum bertemu Natali. Sekalian, dia juga akan membawa Natali pulang.


Vano menyewa apartemen. Meski tidak tau di mana keberadaan Natali, dia akan tetap mencarinya sampai ketemu. Vano memilih mengistirahatkan tubuhnya dulu.