
Julia, Bram dan Dion sudah sampai di rumah Vanya. Mereka segera turun dan menekan bel rumah Vanya.
"Vanya,, sayang.." Julia menekan bel.
"Van,, kamu di dalam?" panggil Bram.
Mereka tak mendapati hasil.
"Van,, kamu di dalam sayang? Buka pintunya.."
"Vanya.."
"Vanya.." Mereka bertiga terus berusaha memanggil Vanya. Namun usaha mereka sia-sia. Vanya tak keluar dari rumahnya.
Ada seorang tetangga wanita, kita sebut saja A, yang datang menghampiri Julia.
"Bu Julia" panggil A.
"Eh,, bu iya" balas Julia tersenyum.
"Nyari Vanya ya?" tanya A.
"Iya. Kami sedang mencari Vanya"
"Tadi saya liat Vanya pergi bawa koper"
"Pergi?" gumam Julia.
"Pergi ke mana?" tanya Bram.
"Duh,, aaya kurang tau dia pergi ke mana. Yang jelas dia pergi sama bosnya"
"Bosnya?" tanya Julia.
"Iya. Bos yang artis terkenal itu lho.."
"Arsen?" tanya Dion.
"Ah,, iya. Namanya Arsen"
"Mereka bilangga mau pergi ke mana?" tanya Bram.
"Enggak pak. Kalo mereka bilang, saya udah kasih tau kalian" jawab A.
"Terima kasih ya bu" ucap Julia.
"Iya sama-sama" balas A.
A pun pergi. Julia, Bram dan Dion saling tatap. Mereka tidak tau harus mencari Vanya ke mana. Bram berusaha menelpon Arsen. Tapi nomor Arsen tidak aktif dan berada di luar jangkauan.
"Dion, kamu punya nomor timnya Arsen gak?" tanya Bram.
"Enggak pah. Eh,, tapi aku tau satu orang pah"
"Cepet telpon dia, dan tanya di mana Arsen berada" titah Bram.
Dion menelpon seseorang yang bekerja pada Arsen.
"Pah,, dia gak tau Arsen di mana. Dia juga bilang, baru aja berhenti kerja. Semua tim Arsen diberhentiin" lapor Dion.
"Apa! Semuanya?"
"Iya pah. Dan kayaknya Arsen gak akan muncul di tv lagi. Dia udah mundur dari layar hiburan. Bahkan sekarang lagi heboh semua orang gak akan bisa melakukan pencarian atas nama Arsen. Vlog Arsen di hapus, foto yang berkaitan dengannya semua dihapus, termasuk endors" jelas Dion.
"Kok bisa gitu?" tanya Julia.
"Dion juga gak tau mah" balas Dion.
Semua yang Dion katakan adalah kebenaran. Arsen yang membuat semua itu. Dia sudah memutuskan untuk tinggal di negara yang membuatnya besar. Dia akan kembali ke profesi yang sebenarnya. Dia menutup akses pencarian mengenai dirinya. Hal itu agar tidak ada yang bisa menemukannya. Lagi pula, tujuannya sudah tercapai. Dia tidak membutuhkan itu lagi.
Mari kita beralih pada Vanya dan Arsen.
Vanya terbangun dari tidurnya. Dia mendapati dirinya ada di tempat tidur. Dia ingat, saat dia tidur masih ada di kursi pesawat. Tapi sekarang dia sudah ada di tempat tidur.
"Apa udah sampe ya?" gumam Vanya.
Vanya bangun dan berjalan keluar kamar. Ternyata dia masih ada di dalam pesawat. Vanya kagum karna di dalam pesawat zet ada kamar. Vanya melihat Arsen yang sedang tertidur di kursi.
Vanya menghampiri Arsen dan duduk di kursi sebelahnya. Vanya menatap wajah Arsen yang tertidur. Saat tidur pun Arse masih tampan. Arsen memang sangat tampan. Dia lebih tampan dari Vano. Tak heran kenapa dia bisa mempunyai banyak fans.
Vanya teringat saat dia pertama kali bertemu dengan Arsen. Saat itu Vanya sedang mencari pekerjaan. Vanya tak ada niatan untuk melanjutkan sekolahnya. Vanya berpikir, cukup dengan lulus SMK, dia akan mencari pekerjaan. Vanya sudah pusing jika harus belajar lagi.
Akhirnya Vanya mengajukan diri meski dia tidak tau apa tugas seorang manager. Dari situ Vanya menjadi manager sekaligus asisten Arsen, karna Arsen belum cukup uang untuk mempekerjakan seorang asisten. Vanya membuat nama Arsen terkenal. Vanya sangat cekatan dalam bekerja. Dia tidak menyia-nyialan job yang datang pada Arsen.
Arsen sempat mengeluh karna Vanya mengatur banyak sekali jadwal untuknya. Tapi Vanya selalu berkata, jika ingin terkenal, maka harus bekerja keras terlebih dahulu. Jangan ingin terkenal secara instan. Nikmati prosesnya. Dan hasilnya, Arsen menjadi Arstis yang sangat terkenal.
Vanya tersenyum mengingat momen itu.
"Lo lagi mikir apa?" tanya Arsen tiba-tiba.
"Eh, lo udah bangun? Sejak kapan?" tanya Vanya cukup kaget.
"Sejak lo senyum" jawab Arsen.
"Oh.."
"Emang lo mikir apa?"
"Gue kepikiran waktu gue baru kerja sama lo"
"Itu udah lama banget"
"Iya. Tapi gue masih inget. Oh iya, kita mau ke mana?" tanya Vanya.
Vanya memang tidak tau ke mana Arsen akan membawanya. Vanya hanya mengikuti langkah Arsen yang berkata akan membawanya pergi.
"Italia" jawab Arsen.
"Italia? Maksudnya negara Italia?"
Arsen menganggukkan kepalanya.
"Berapa lama kita di sama?"
"Selamanya"
Vanya menganga. Dia tidak menyangka dia akan ke Italia. Tempat yang selama ini dia ingin kunjungi. Bahkan dia akan tinggal di sana.
"Lo gak keberatankan?" tanya Arsen.
"Gak. Gue malah seneng. Italia adalah negara yang ingin gue datengin" balas Vanya antusias.
Arsen menyunggingkan senyum.
"Tapi,, gue gak bisa bahasa Itali. Gimana dong?"
"Gak papa. Lo bisakan, bahasa Inggris?"
"Bisa dong. Tapi cuma sedikit"
"Nanti juga bisa"
Vanya tersenyum.
"Sebentar lagi kita sampe" ujar Arsen.
Prok,, prok,, prok,,
Vanya bertepuk tangan. Dia sangat tidak sabar melihat bagaimana negara Italia.
Singkat cerita, pesawat zet Arsen sudah mendarat dengan selamat. Arsen dan Vanya bersiap untuk turun.
Saat turun dari pesawat, pemandangan takjub terpampang di depan mata Vanya. Ribuan orang datang menyambut Vanya dan Arsen. Lagi-lagi mereka berpakaian serba hitam. Dan Arsen mengubah ekspresinya lagi. Vanya dan Arsen tampak seperti raja dan ratu yang disambut oleh rakyatnya. Vanya menjadi gugup akan hal itu.
Arsen tau kegugupan Vanya. Dia pun menggenggam tangan Vanya dan tersenyum kecil pada Vanya. Vanya membalas senyuman itu.
"Selamat datang kembali tuan Zain" ucap salah seorang anak buah Arsen dalam bahasa Itali.
Arsen hanya menganggukkan kepalanya saja. Setelah itu dia dan Vanya masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan.
"Sen, tadi dia bilang apa?" tanya Vanya penasaran.
"Dia bilang, selamat datang" jawab Arsen.
"Wah,, daebak.." kagum Vanya.
"Daebak?" tanya Arsen.
"Itu bahasa Korea"