
"Van, gue mau ngomong sama lo" ujar Vano masih berusaha membujuk Vanya agar mau berbicara dengannya.
"..." Vanya masih tidak menanggapi ucapan Vano.
"Van,, gue mohon sama lo. Dengerin gue sekali ini,, aja" mohon Vano.
"Waktu lo cuma 5 menit" balas Vanya.
Vano tersenyum. Akhirnya Vanya mau berbicaa dengannya.
"Lo beri gue kesempatan?" tanya Vano berbinar.
"Waktu lo dimulai dari sekarang. 1,, 2,, 3.." Vanya mulai menghitung.
"Ok,, ok.." balas Vano sedikit panik.
"Gue minta maaf atas apa yang gue lakuin sama lo. Dan juga gue mau minta maaf karna gue udah ngomong gitu sama lo. Harusnya gue gak ngomong gitu. Gue akan bertanggung jawab sama lo" jelas Vano.
Seketika Vanya menatap Vano tidak percaya. Vanya mencari kebenaran atas ucapan Vano.
"Gue serius Van. Gue akan nikahin lo. Tapi dengan sayarat" Vano meyakinkan Vanya.
"Apa syaratnya?" tanya Vanya.
"Pertama, pernikahan kita harus tersembunyi. Gak ada seorang pun yang boleh tau soal pernikahan kita. Kedua, setelah menikah gak ada hubungan suami istri. Maksud gue, kita jalanin hari kita kayak biasa aja. Kayak sahabat biasa. Gak boleh ngungkit hubungan kita. Dan ketiga, setelah 3 bulan, kalo lo gak hamil, hubungan kita berakhir. Gue bakalan cerain lo" Vano menyebutkan syarat.
"Gimana? Lo setuju?" tanya Vano.
"Kalo gitu, itu namanya gue jadi simpenan lo bego" balas Vanya.
"Ya,, anggeplah kayak gitu. Tapi orang lain gak akan ada yang tau kalo simpenan gue"
"Ya iyalah, namanya juga simpenan" geruti Vanya.
Vanya bingung harus bagaimana. Dia tidak mau hidupnya terus seperti ini. Dia juga takut kalo dia akan hamil. Jika dia tidak menerima persyaratan dari Vano, anaknya tidak akan mempunyai nama ayah. Tapi dia juga gak mau jadi wanita simpanan. Emang dia wanita apaan?
"Van, gimana?" tanya Vano.
"Oke. Gue setuju" setuju Vanya.
"Ingat, jangan sampai orang lain tau. Apalagi Helen. Gue gak mau nyakitin perasaan dia. Gue gak bisa bayangin gimana reaksi dia kalo tau gue nikah sama lo"
"Sebenernya gue juga gak mau nikah sama lo. Lo egois Van. Lo cuma mikirin Helen. Lo belum tau gimana sifat asli Helen"
"Van,, gak usah mulai lagi deh. Helen itu wanita baik-baik"
"Iya, terserah lo aja" Vanya sudah jengah.
"Lo makan dulu ya, gue udah bawain makanan buat lo" Vano berusaha mengubah topik pembicaraan.
"Lo gak perlu perhatian sama gue. Lo lupa ya, apa yang lo sebutin tadi? Syarat yang lo ajuin, itu berlaku dari sekarang. Jadi jangan so perhatian sama gue"
"Van,, gue perhatian sebagai sahabat lo" Vano meraik kotak makan yang berisi makanan rumah sakit.
"Gak perlu. Gue bisa makan sendiri. Sekarang lo mending pergi" usir Vanya.
"Lo mau lindungin gue dari siapa? Siapa yang bakalan nyakitin gue? Gak ada yang akan nyakitin gue Van. Karna yang udah nyakitin gue tu elo. Dengan elo di sini lebih lama lagi, itu makin gue menderita"
Perkataan Vanya sangat menusuk dihati Vano. Dia merada Vanya masih marah padanya.
"Van,, gue.."
"Pergi. Helen bisa nangis kalo lo masih ada di sini. Kasian Helen, dia itu cengeng. Jangan sampe dia nangis-nangis ke elo karna lo kelamaan di sini"
Vano tidak memiliki pilihan lain selain pergi dari sana.
"Ya udah, gue pergi. Tapi nanti gue ke sini lagi"
"Gak usah. Gue juga gak akan kesepian cuma karna gak ada elo" tolak Vanya.
Lagi-lagi Vano tersayat mendengar perkataan Vanya.
Vano melangkahkan kakinya pergi dari ruangan Vanya. Dia tidak ingin membuat perdebatan lagi. Sudah cukup. Hanya membujuk Vanya berbicara saja sudah sangat sulit. Apalagi jika harus membuat Vanya memaafkannya sepenuhnya. Rasanya itu akan sangat,, sangat,, sangat,, sulit.
Seperginya Vano, Vanya meneteskan air matanya. Perlu keberanian besar mengatakan semua itu. Vanya melakukan itu karna dia tidak ingin Vano menganggapnya lemah. Dia tidak ingin Vano bersimpati padanya.
Vanya menghapus air matanya. Dia melihat ke seluruh ruangan yang cukup besar. Vanya turun dari ranjangnya dan berjalan menuju sofa yang ada di ruangannya. Vanya mulai membersihkan sofa itu dengan menepuk-nepukkan tanganya pada permukaan sofa.
Sambil melakukan itu, air mata Vanya terus mengalir. Dia tak kuasa menahan tangis. Dia tidak bisa menangis di depan Vano.
Dari luar, Vano dapat melihat apa yang dilakukan oleh Vanya lewat jendela. Vano merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Vanya saat ini. Dia pun tidak ingin berada di situasi yang seperti ini. Namun apalah daya, Vano bersikap egois hanya demi Helen, wanita yang dia cintai.
Vano menyuruh suster untuk menghentikan Vanya. Jika Vanya terus dibiarkan, bisa-bisa dia akan tambah sakit.
"Eh,,, mbak, lagi ngapain?" tanya suster masuk ke dalam kamar Vanya.
"Em,, saya cuma beresin sofa aja kok sus" jawab Vanya segera menghapus air matanya.
"Gak usah mbak, kalo fasilitas rumah sakit ada yang kotor atau berantakan, mbak bisa panggil perawat. Mbak tidak boleh banyak bergerak. Mbak kan lagi sakit" ucap suster.
"Iya sus" balas Vanya.
Suster memapah Vanya untuk kembali ke atas ranjangnya. Vanya dibantu oleh suster. Suster menutupi tubuh Vanya dengan selimut.
"Mbak, mbak tuh ke rumah sakit untuk sembuh, bukan untuk tambah sakit. Kalo mbak di sini bersih-bersih, bukan sehat yang mbak dapet. Yang ada mbak makin sakit" suster itu menasihati Vanya panjang lebar.
"Iya sus" balas Vanya.
"Kalo mbak ada masalah, lebih baik cerita aja sama seseorang. Jangan dipendam. Kalo dipendam bisa jadi penyakit"
"Iya sus"
"Kalo butuh sesuatu panggil saya aja ya mbak. Jangan lupa, makanannya dimakan ya mbak"
"Iya sus"
Setelah menasihati Vanya, suster itu pergi dari kamar Vanya.
Setelah kepergian suster, Vanya memutuskan untuk makan. Apa yang dikatakan oleh suster itu ada benarnya. Vanya tidak mau terus berada di rumah sakit. Dia ingin cepat pulang ke rumahnya.