VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Bertemu



Keesokan harinya Vano pergi ke bandara. Dia akan menanyakan Natali pada resepsionis. Mereka pasti punya biodata Vanya.


"Permisi" ucap Vano.


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu.


"Apa 2 hari lalu ada seorang wanita bernama Vanya yang memesan tiket pesawat ke Indonesia?" tanya Vano.


"Sebentar tuan, saya cek dulu"


Resepsionis itu mengecek.


"Maaf tuan, tidak ada nama yang tuan sebutkan itu" ucapnya.


"Apa! Tidak mungkin. Jelas-jelas dia melakukan penerbangan"


"Maaf tuan, tapi memang tidak ada wanita yang bernama Natali melakukan penerbangan ke Indonesia"


"Lihat. Ini foto wanita itu"


Vano memperlihatkan foto Natali. Resepsionis itu melihat foto yang ditunjukkan Vano. Remang-remang dia mengingat sesuatu.


"Oh,, nona ini.." resepsionis itu mengingat sesuatu.


"Jadi kau mengenalnya?" tanya Vano dengan girang.


"Saya tidak mengenalnya tuan. Saya hanya melihat nona itu" ralat resepsionis.


"Bisa beri aku alamatnya?"


"Maaf tuan. Saya tidak bisa melakukan itu. Itu bertentangan dengan tugas saya"


"Aku mohon,, dia itu istriku. Sudah berbulan-bulan aku mencari istriku. aku sangat merindukannya"


"Maaf tuan. Tetap tidak bisa"


"kenapa kau tidak mengerti? Dia istriku. Dia pergi dariku karna marah. Di rumah ada anakku yang merindukan sosok ibunya" bujuk Vano.


"Apa pun alasannya, tetap saya tidak bisa membantu tuan"


"Aku mohon padamu. Apa aku harus bersujud agar kau mau menolongku?"


Vano hendak bersujud. Namun resepsionis itu segera menghentikan Vano.


"Jangan lalukan itu tuan" cegah resepsionis itu.


"Ada apa ini?" kepala bandara menghampiri Vano dan resepsionis itu.


"Ini Pak, tuan ini meminta alamat penumpang ini" adu resepsionis.


Kepala bandara melihat siapa nama penumpang yang dimaksud. Dia membelalakan matanya saat melihat nama Natali.


"Pak, tolong bantu aku. Dia adalah istriku. Dia sudah pergi dariku selama berbulan-bulan" mohon Vano.


"Dasar pembohong" ucap kepala bandara. "Security!" teriaknya.


Tak lama beberapa petugas keamanan menghampiri.


"Usir dia keluar. Dia adalah orang gila yang berkeliaran" titah kepala bandara.


"Baik pak"


"Pak,, tunggu. Kenapa kau mengusirku? Apa salahku? Aku hanya bertanya tentang istriku." protes Vano.


Seberapa keras Vano memberontak, dia tetap diusir dari bandara. Vano meninggalkan bandara dengan terpaksa.


Setelah kepergian Vano, kepala bandara menelpon Leo. Dia melaporkan apa yang baru saja terjadi di bandara. Leo melaporkan informarsi yang baru saja dia dapatkan pada Zain.


"Aku gak akan biarin Vano merebut apa yang udah jadi milik aku. Kamu hanya milik aku Nat. Gak ada yang boleh milikin kamu selain aku" ucap Zain.


Sudah 1 minggu Vano ada di Italia. Selama itu Zain mencegah Natali untuk keluar rumah. Dia takut Natali akan bertemu dengan Vano. Tapi Zain sadar kalo dia tidak akan bisa mencegah Natali lebih lama lagi. Natali akan curiga dan dia akan terus bertanya.


Zain memutuskan untuk lebih dulu menemui Vano. Zain menyuruh Leo membawa Vano bagaimana pun caranya. Zain tidak perlu meragukan keahlian Leo. Saat ini Leo sudah berhasil membawa Vano secara paks4. Vano didudukkan di atas kursi dengan tangan dan juga kaki yang terikat. Mata Vano juga ditutup menggunakan kain.


"Lepaskan. Siapa kalian? Ke mana kalian membawaku?" tanya Vano sambil berteriak.


"Buka menutup matanya." titah Zain.


"Baik tuan." Leo membuka penutup mata Vano.


Vano menyipitkan matanya yang silau. Vano melihat pada orang yang ada di hadapannya.


"Apa kau menikmati liburanmu di Italia?" tanya Zain.


Vano menelisik Zain. Dia merasa familiar dengan wajah itu.


"Arsen." ucap Vano dengan ragu.


"..." Zain tak memberikan tanggapan.


"Kau Arsen kan?" tanya Vano.


"Dia tuan Zain. Bukan Arsen." ucap Leo.


"Tidak. Aku tidak mungkin salah. Kau pasti Arsen. Aku masih sangat ingat. Kau itu Arsen. Bukan Zain." sangkal Vano.


"Kalo iya kenapa?" tanya Zain.


"Di mana Vanya? Ke mana kau membawa Vanya? Berani sekali kau menculik Vanya." tanya Vano disertai tuduhan.


Bugh..


Leo memvkul wajah Vano dengan keras.


"Berani sekali kau menuduh tuanku." ucap Leo dengan tegas.


"Aku tidak menuduhnya. Dia memang membawa Vanya pergi dariku. Vanya itu istriku. Dan dia, pria yang sudah membawa pergi istri orang lain." ucap Vano.


Bugh..


Leo memvkul Vano untuk yang kedua kalinya, hingga sudut bibir Vano berdarah.


"Pukul aku lagi. Ayo pukul lagi. Berapa kali kau memvkulku, tidak akan mengubah kenyataan.


Leo hendak memvkul Vano lagi. Namun Zain melarangnya.


"Hentikan." titah Zain.


Leo pun mengurungkan niatnya.


"Apa kau bilang? Vanya itu istrimu?" ulang Zain.


"Iya. Vanya itu istriku."


"Hahahah.." Zain tertawa dengan keras. "Apa aku tidak salah dengar? Apa kau lupa, kau sudah bercerai dengannya?" tanya Zain.


"Aku tidak pernah bercerai dengannya." sangkal Vano.


"Oh.. Benarkah? Lalu saat kau mengangkat tanganmu pada Vanya, karna kau marah Vanya menggugat cerai kau. Apa kau lupa? Saat itu aku ada di sana. Apakah aku salah lihat? Apa aku keliru?"


Vano terdiam. Dia tidak bisa menyangkal ucapan Vano.