VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Berkunjung



Vanya ketiduran di dalam kamar. Saat dia bangun, ternyata keadaan sudah menjadi gelap. Vanya mengecek hpnya untuk melihat jam. Jam di hp menunjukan pukul 18.25.


Kepala Vanya terasa berat, tubuhnya juga lemah. Mungkin ini karna dia belum makan apa pun dari pagi. Vanya memutuskan untuk turun ke dapur dan membuat makanan untuknya.


Setelah sampai di dapur, Vanya bingung harus memakan apa. Nasi tak ada, sayuran tak ada, telur tak ada. Yang ada hanya mie instan saja. Vanya belum sempat berbelanja kebutuhan dapur. Vanya memilih untuk merebus mie saja. Daripada dia harus pergi ke mini market untuk berbelanja, lebih baik Vanya memakan mie.


Tak lama mie yang Vanya masak pun jadi. Vanya membawa semangkuk mie itu ke ruang keluarga, di mana dia selalu makan sambil menonton tv.


Vanya menyalakan tv dan mulai menyuapkan mie itu. Baru satu suapan, selera makan Vanya menghilang saat tv menayangkan berita perusahaan yang Vano pimpin.


Nafas Vanya bergemuruh. Dadanya terasa sesak. Untuk kesekian kalinya, Vanya teringat pada malam di mana Vano merampas kesuciannya. Darah Vanya menjadi mendidih.


Prang..


Vanya melemparkan mangkuk berisi mie itu ke lantai. Dia tak bisa menahan rasa amarah, kecewa, sedih dan gelisahnya. Dia mengingat setiap kata yang dilontarkan Vanya padanya. Vanya segera mematikan tv yang menyala.


Vanya menutup kedua telinganya dengan tangannya sendiri.


"Cukup, hentikan. Gue mohon berhenti.." gumam Vanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Vanya membuka matanya dan mulai sadar kembali. Dia melihat kekacauan yang dia lakukan. Vanya beranjak dari duduknya. Dia berniat untuk membersihkan lantai yang kotor akivat mie yang tumpah.


Selain memberihkan lantai yang kotor, Vanya juga membersihkan seisi rumahnya. Itu lah kebiasaan Vanya jika dia sedang merasa sedih dan marah. Dia akan melampiaskannya dengan cara membereskan dan membersihkan barang-barang yang meskipun tidak kotor dan tidak berantakan. Selain hal itu, Vanya juga akan memasak makanan banyak. Meskipun Vanya tidak menghabiskan makanannya, tapi Vanya berikan pada orang lain.


Acara makan malam Vanya berantakan. Dia sudah tidak mood lagi untuk makan. Pukul 22.30 Vanya baru selesai membereskan seluruh rumah, termasuk menyapu dan mengepel. Vanya merasa lelah, dia berjalan ke dapur dan meminum banyak air. Setelah itu Vanya kembali ke kamar dan berniat untuk tidur.


Keesokan harinya, lebih tepatnya pukul 07.30, Vanya terbangun dari tidurnya. Dia merasa kepalanya semakin berat saja. Seperti ada batu besar yang menimpa kepalanya.


Vanya meraih hpnya untuk memesan makanan secara online. Tapi hphya mati karna kehabisan daya. Vanya meletakan hpnya kembali tanpa mau mengisi daya di hpnya.


Vanya berjalan ke luar rumah sambil membawa mangkuk kosong. Dia akan menunggu tukang bubur lewat ke depan rumahnya. 30 menit menunggu, akhirnya tukang bubur yang ditunggu pun tiba. Tukang bubur itu sudah menjadi langganan Vanya.


"Mang, bubur" panggil Vanya.


"Eh,, neng Vanya. Kayak biasa?" sapa serta tanya tukang bubur itu yang bernama Usep.


"Iya mang" jawab Vanya.


"Siap" Usep mengacungkan jempol pada Vanya. "Neng sakit? Kok pucet gitu sih?" tanya Usep.


"Cuma kecapean aja mang" jawab Vanya seadanya.


"Hm.." Usep menganggukkan kepalanya.


Setelah membayar bubur, Vanya masuk kembali ke dalam rumahnya. Suapan demi suapan bubur dimasukan ke dalam mulut. Tapi hanya 3 suapa yang mampu lolos. Masih banyak bubur yang tersisa. Vanya tidak punya selera untuk makan. Vanya kembali ke kamarnya untuk tidur dan melupakan semua yang sudah terjadi.


Selama 3 hari berturut-turut Vanya hanya melakukan aktivitas seperti hari ini dan hari sebelumnya. Vanya hanya makan sedikit, kemudian dia akan beres-beres setelah itu dia tidur dan seperti itu lagi. Kondidi Vanya kian hari semakin memburuk. Hp Vanya sudah tidak aktif. Vanya masih belum memiliki keinginan untuk mengisi daya hpnya.


Suatu pagi, Vanya tidak ada keinginan untuk membeli bubur atau memasak makanan. Vanya hanya ingin diam saja. Vanya sedang berada di kamarnya sambil menatap foto keluarganya.


"Ma,, pah,, maaf. Vanya gak bisa jaga diri Vanya. Vanya udah gagal" gumam Vanya menyesali semuanya.


Vanya mulai menitikan air mata.


Ting,, tong..


Tangisan Vanya terhenti saat mendengar suara bel pintu rumahnya berbunyi. Vanya segera menghapus air matanya dan di sekuat tenaga bangkit untuk membuka pintu. Dia ingin melihat siapa yang datang ke rumahnya. Vanya harap itu bukan Vano.


Vanya membuka pintu rumahnya.


"Vanya.." ujar Julia yang langsung memeluk Vanya saat melihat Vanya.


"Tante.." gumam Vanya.


"Vanya ada kok tan" jawab Vanya tersenyum kaku.


"Terus kenapa tante gak bisa hubungin kamu? Tante telpon kamu berkali-kali gak bisa.Tante bingung harus cari kamu ke mana"


"Iya Van, anak buah om nemuin motor kamu di club. Katanya udah 4 hari ada di sana dan gak dibawa-bawa"


Bram juga datang sambil membawa motor Vanya.


"Oh,, iya. Vanya lupa kalo motor Vanya ketinggalan om" cengir Vanya.


"Van, sebenernya kamu ke mana? Kamu kenapa? Tante tanya sama Vano, tapi dia juga gak tau kamu ke mana. Katanya kalian udah gak kominikasi sejak 4 hari yang lalu. Tante juga udah datengin bos kamu si Arsen. Tante takut kamu pergi keluar kota dan gak bilang-bilang lagi. Tapi dia bilang kamu sakit dan ada di rumah"


"Jadi kami datang ke sini, buat mastiin keadaan kamu" timpal Bram.


"Maaf om,, tante,, Vanya udah bikin kalian khawatir" sesal Vanya.


"Udah lah,, sayang. Gak papa. Yang penting kamu ada di sini" balas Julia mengelus rambut Vanya.


Julia tidak sengaja menyentuh dari Vanya.


"Ah.." pekik Julia.


Vanya dan Bram menatap Julia dengan khawatir.


"Van, kamu sakit?" tanya Julia.


"Enggak kok tan" bohong Vanya.


"Enggak gimana? Kamu pucet gini Van" sela Bram.


"Kamu juga kurusan sayang" timpal Julia.


"Vanya cuma kecapean aja tan,, om,, besok juga sembuh" balas Vanya.


"Kamu ini. Selalu nyelepein kesehatan" gerutu Julia. "Kamu udah makan?"


"Belum tan" jawab Vanya.


Julia memincingkan matanya menatap Vanya.


"Ini udah jam berapa Van, kenapa kamu masih belum makan? Ini, Vanya baru mau cari makan"


"Alah,, bohong. Sekarang ayo kita makan. Tante sengaja bawain kamu makanan. Karna tante yakin kamu pasti belum makan. Dan benar saja, kamu belum makan."


Vanya hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Julia.


"Van, tolong ambil rantang yang ada di kursi belakang" titah Julia pada Vano.


"Vano ada di sini?" tanya Vanya dalam hati.


Vano muncul sambil membawa rantang ditangannya.


Deg.


Hati Vanya menjadi bergemuruh. Dia masih belum siap untuk bertemu dengan Vano. Tapi kenapa Vano harus ikut ke sini juga?


Vanya, Vano, Julia dan Bram masuk ke dalam rumah Vanya. Vano, Julia dan Bram memperhatikan seisi rumah Vanya. Bersih dan rapih. Itulah yang mereka lihat. Vanya seperti bukan orang sakit yang malas-malasan. Buktinya rumahnya masih sangat bersih dan rapih.


"Ternyata lo se-sedih ini Van? Maafin gue Van. Gue udah nyakitin perasaan lo" bisik Vano dalam hati.


Vano tau jelas apa yang akan Vanya lakukan jika dia merasa sedih dan marah.