VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Emosi



"Eh,, lo ngomong apa sih! Denger ya, Vano itu pacar gue. Lagian Vano cuma rugi 5 M doang. Vano gak akan rugi kehilangan 5 M" sargah Helen.


"Cuma,, 5 M lo bilang cuma. Eh,, ulet kekek matre, ini 5 M nolnya ada 9 bukan 5 ribu yang nolnya 3. Butuh waktu seumur hidup buat lo, ngumpulin 5 M itu. Bahkan seumur hidup pun lo gak akan bisa gumpulin 1 M. Lo itu sekolah gak sih?" Vanya mulai naik pitam.


Helen semakin marah pada Vanya. Helen berbalik pada Vano.


"Sayang,, lihatlah. Sahabatmu ini mempermalukanku di depan semua orang" adu Helen.


Vanya tertawa melihat Helen yang mengadu pada Vano.


"Sayang,, udah ya. Sekarang aku sibuk. Nanti kita belanja" balas Vano.


"Kamu dukung Vanya?" tanya Helen tak terima.


"Enggak,, bukan gitu. Aku cuma-"


"Ah,, kamu udah gak cinta lagi sama aku"


"Sayang,, kami harus ngerti dong"


"Pokoknya sekarang aku mau belanja. Titik" kekeh Helen.


Helen menarik tangan Vano untuk masuk ke dalam mobil. Namun Vanya mengehentikannya dengan menarik tangan Vano yang satunya. Helen merasa tarikannya sangat berat, rupanya Vanya yang membuat tarikannya berat.


"Heh, lepasin gak tangan pacar gue" titah Helen.


"Gak. Gue gak akan lepasin. Lo yang harus lepasin tangan lo"


"Gak akan" tolak Helen.


Vanya sudah sangat geram pada Helen. Dengan sekali tarikan, Vanya menarik tangan Vano agar terlepas dari Helen. Dan hasilnya, Vano berhasil terlepas dari Helen.


"Sekarang dengerin gue. Lo milih pergi sama pacar matre lo, atau pergi sama gue ke perusahaan lo? Kalo lo milih pergi sama pacar matre lo, gue bakalan pergi sama Dion. Gue gak akan bantuin lo lagi. Dion juga sama. So, jadi lo pilih siapa?"


Vano menatap Vanya dan Helen secara bergantian.


"Sayang, kalo kamu pilih Vanya, hubungan kita putus sampai di sini. Inget, sebentar lagi kita mau nikah" ucap Helen.


Vano sangat gusar. Dia bingung harus memilih siapa. Vano tidak bisa memilih antara keduanya.


"Van,, jangan ginilah.." mohon Vano pada Vanya.


"Loh,, terus harus gimana? Gue dan Dion harus ke perusahaan buat urusin masalah lo, dan lo enak-enakan belanja sama pacar matre lo? Oh,, no. Enak banget lo. Perusahaan-perusahaan lo, masa yang harus ngurus orang lain. G*la, bego banget sih lo" balas Vanya.


"Dion, bantuin gue dong" pinta Vano.


"Maaf kak, gue gak bisa bantu apa pun. Gue sependapat sama Vanya. Sekarang lo cepet putusin keputusan lo. Yang punya masalah bukan lo doang kak, gue juga punya urusan. Kalo lo pilih pacar lo, gue balik. Gue gak mau urusin perusahaan lo" balas Dion.


Vano tambah bingung. Seketika dia teringat pada kejadia semalam. Saat Arsen datang ke rumah Vanya dan mengatakan kalo Vanya adalah pacarnya. Hal itu membuat Vano kesal . Vano pun mengambil keputusan dengan emosi.


"Maaf, gue gak bisa ikut kalian. Sayang, ayo kita belanja" ucap Vano.


"Oh,, ok fine. Kalo emang itu keputusan lo. Gue gak akan halangin lo. Tapi lo harus inget ini. Lo lebih mentingin pacar matre lo itu, dari pada kita, itu artinya lo udah gak butuh kita lagi. Lo jangan pernah dateng sama gue lagi, kalo lo ada masalah, gue gak mau bantu lo lagi. Dan lo, jangan pernah hubungin gue lagi" ucap Vanya.


Vanya menatap Vano dengan sorot mata kecewa.


"Dion, ayo. Dia gak butuh kita lagi" ajak Vanya.


Vanya berjalan menuju mobil Dion.


Dion melajukan mobilnya meninggalkan TKP.


"Dasar Vano g*blok. Dia itu gak bisa bedain mana cewek bener sama gak bener. Kayaknya dia udah buta deh. Heran gue. Dia mau aja dikibulin sama tu ulet keket matre" Vanya mengutarakan kekesalahnya di dalam mobil.


Dion hanya diam saja mendengar ocehan Vanya.


"Eh, lo gak boleh bodoh kayak kakak lo ya. Kakak lo itu udah bodoh, g*blok, tolol, idup lagi" umpat Vanya.


"Eh, kok lo malah diem aja?" tanya Vanya heran.


"Gue harus ngomong apa? Kan lo udah ngewakilin gue" balas Dion.


Vanya mendengus sebal mendengar jawaban Dion.


"Sekarang lo mau gue anterin ke mana?"


"Anterin gue ke rumahnya kerjanya Arsen"


"Buat apa?"


"Buat kerja lah"


"Kok kerja di rumah sih? Dia kan artis terkenal"


"Udah lah,, kalo dia gak ada di rumah, lo harus anterin gue ke studio y"


"Kenapa gak langsung ke studio y aja. Kenapa harus ke rumah dia dulu?"


"Ih,, lo itu banyak nanya ya. Gue masih kesel ya sama kakak lo. Lo jangan buat gue tambah kesel lagi dong. Udah, sekarang, lo anterin gue ke rumah gue"


"Kenapa ke rumah? Tadi katanya mau ke rumah Arsen"


"Gue mau ambil motor gue. Gue bakalan ke rumah Arsen sama ke studio y sendiri"


"Jangan gitu dong. Tanggung nih, udah setengah jalan mau ke rumah Arsen"


"Bodo amat. Cepet anterin gue ke rumah gue"


"Hm,, iya-iya.." balas Dion "dasar cewek emosian" gumam Dion tapi masih bisa terdengar oleh Vanya.


"Apa lo bilang! Cewek emosian?"


"Enggak kok. Gue gak ngomong apa-apa" sangkal Dion.


Vanya meminta Dion mengantarnya ke tempat Arsen berada. Daripada pusing memikirkan Vano, lebih baik dia pusing memikirkan pekerjaan.


Sepanjang perjalanan, Vanya hanya diam. Dia sudah tidak mood lagi untuk berbicara.


Setelah sampai di rumah Vanya, Vanya langsung turun dan hanya mengucapkan terima kasih saja. Setelah mengucapkan terima kasih, Vanya turun dan masuk ke dalam rumahnya.


Vanya langsung ke dapur untuk mengambil air. Dia merasa kepanasan, dia butuh asupan air yang banyak.


"Dasar ulet keket matre" dengus Vanya.


Vanya masih belum bisa melupakan kejadian tadi. Bukan karna Vanya perduli pada Vano. Tapi karna Vanya bingung apa yang harus dia katakan pada Julia dan Bram.