VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Kemarahan Zain



Selesai mandi, Natali memakai baju dres santai. Natali sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Tiba-tiba Zain berdiri dibelakang Natali. Natali tidak menghadiri keberadaan Zain. Natali sedang melamunkan Rose. Dia masih penasaran dengan siapa Rose berbicara ditelpon.


"Sayang.." panggil Zain.


"Eh,, Zain" Natali tersadar dari lamunannya.


"Kamu mikirin apa?" tanya Zain.


"Enggak kok" jawab Natali.


"Kalo ada masalah cerita sama aku. Jangan kamu pendem"


"Iya. Sebenernya aku lagi mikir nanti malem mau masak apa. Soalnya mau ada tamu"


"Tamu? Siapa dia? Kenapa kamu tidak memberitahuku?"


"Tenang sayang,, tamunya sahabat kamu. Dokter Harry"


"Harry? Kenapa dia mau ke sini?"


"Aku yang mengundangnya. Dia bilang dia ingin merasakan masakan Indonesia. Jadi aku mengundangnya"


"Aku kira kenapa"


"Sekarang kita makan yuk. Aku udah laper nih" ajak Natali.


"Tunggu sebentar. Aku punya sesuatu untuk kamu"


"Apa?"


"Tutup dulu mata kamu"


"Ih,, jangan bikin aku penasaran"


"Supaya kamu gak penasaran, kamu tutup mata kamu"


"Itu mah makin penasaran"


"Ayo tutup dulu"


"Ya udah iya.."


Natali menutup matanya.


Zain mengambil kotak merah kecil dari saku jasnya. Dia mengeluarkan isi kotak itu. Zain mengalungka sesuatu di leher Natali.


"Sekarang buka matamu"


Natali membuka matanya.


"Wah.." Natali menutup mulutnya karna terkejut. "Ini.."


"Ya. Itu untuk kamu" ucap Zain.


"Ini yang kamu maksud kejutan?"


"Iya. Kamu suka?"


"Sangat,,, suka" balas Natali tersenyum senang.


Zain memberi Natali hadiah berupa kalung berlian.


"Tapi Zain, ini pasti sangat mahal" ujar Natali.


"Tidak ada yang lebih mahal selain melihatmu tersenyum bahagia" balas Zain.


"Aku akan menjaga kalung ini dengan baik"


Zain tersenyum.


Natali bangkit dari duduknya dan memeluk Zain dengan erat. Zain membalas pelukan Natali.


"Terima kasih. Aku mencintaimu"


Zain terkejut karna ini kali pertama Natali mengatakan cintanya.


"Aku juga sangat mencintaimu"


Cup..


Natali menc*um bibirnya sekilas. Setelah kejutan yang romantis, Natali dan Zain turun ke bawah untuk makan siang bersama.


"Huh.." Zain mendengus kesal.


Zain bersiap untuk balik badan dan pergi. Namun Natali mencegah Zain agar tidak pergi. Natali menggelengkan kepala seolah mencegah Zain pergi. Dengan terpaksa Zain menuruti perintah Natali.


Zain duduk di sebelah Natali. Dia tidak mau berdekatan dengan Rose.


"Rose, kamu udah makan?" tanya Natali.


"Apa kau tidak bisa melihat aku sedang apa?" Rose malah balik bertanya dengan sinis pada Natali.


Zain tidak suka dengan nada bicara Rose terhadap Natali.


"Hei, jaga bicaramu. Kau harus tau kau berbicara dengan siapa" ucap Zain dengan tegas.


Rose mendelikkan matanya jengah.


"Ck,, dia ini.." Zain sangat geram pada Rose.


Natali memegang tangan Zain agar Zain menahan amarahnya. Natali menatap Rose.


"Aku bertanya karna piringmu masih kosong dan masih bersih. Hanya ada minuman di depanmu" ucap Natali.


"Aku belum makan" jawab Rose.


"Kalo begitu kau harus makan"


"Selera makanku hilang setelah melihat kau" ucap Rose.


Buk..


Zain bangkit dari duduknya dan melemparkan gelas di depannya pada Rose. Gelas itu mengenai dahi Rose. Dan hasilnya dahi Rose berdarah.


"Akh.." pekik Rose.


Natali sangat terkejut dengan tindakan Zain.


"Zain!" Natali sangat terkejut.


"Dengar, kau harus ingat kau berada dikekuasaan siapa. Saat ini kau berada dikekuasaanku. Kau harus tau kau itu bukan siapa-siapa di sini. Jangan karna kau sedang mengandung anakku, kau bisa bebas sesukamu mengatakan hal apapun pada istriku" ucap Zain yang sudah tidak bisa menahan amarahnya melihat Rose.


"Zain! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan itu?" protes Natali.


"Diam Natali. Ini sudah kelewatan. Dia pikir dia siapa berani berbicara seperti itu? Aku diam bukan berarti aku menerimanya begitu saja"


Rose memegang dahinya yang terluka. Rose sangat takut saat Zain memarahinya. Dia menahan tangisnya di depan Natali. Rose sudah tau bagaimana kemarahan Zain. Namun dia masih tetap saja memancing amarah Zain memuncak.


"Sudah Zain" Natali berusaha melerai agar Zain berhenti memarahi Rose.


"Paman James.." panggil Zain.


Suara Zain menggelegar memenuhi seluruh ruangan mansion.


"Ya tuan Zain" James manghampiri Zain.


"Bawa wanita tidak tahu malu itu ke ruang bawah" titah Zain.


Natali membuka matanya saat Zain menyuruh James membawa Rose. Natali memang tidak tau di mana letak ruang bawah. Tapi yang jelas ruangan itu pasti berbahaya.


Sama halnya dengan Natali, Rose juga sangat terkejut. Rose sudah tau apa itu ruang bawah. Ruang bawah adalah tempat peny*ksaan bagi seorang penghianat, mata-mata dan musuh yang tertangkap.


"Baik tuan" patuh James.


James menyuruh anak buah lain untuk membawa Rose. Rose memberontak. Dia tidak mau dibawa ke ruang bawah.


"Zain, ruang bawah apa? Ke mana kau mengirim Rose?" tanya Natali.


"Kau tidak perlu tau"


"Zain, lepaskan Rose. Jangan sakiti dia.." pinta Natali.


"Maaf Natali, kali ini aku tidak bisa menuruti permintaanmu"


Zain pergi meninggalkan Natali.


"Zain,, Zain.." panggil Natali. Namun Zain tidak mendengarkan panggilan dari Natali.


Jangan lupa tinggalkan jejak


Terus dukung author