VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Akhir



"Vano.." lirih Natali.


Vano tersenyum pada Natali. "Vanya.." Vano berlari dan langsung memeluk Natali dengan erat. "Vanya,, akhirnya aku menemukanmu. Aku sangat merindukanmu."


Dada Natali bergemuruh. Natali menahan marah.


Vano melepaskan pelukannya. Dia memegang bahu Natali.


"Aku minta maaf. Aku banyak salah sama kamu. Aku menyesali apa yang aku lakukan. Aku menyesal Van." ucap Vano.


"..." Natali tak menggubris perkataan Vano.


"Van, kamu maukan maafin aku?" tanya Vano.


"..." Natali masih tak bersuara.


"Van, jawab aku. Kamu jangan diemin aku."


Natali menatap Vano dengan dingin. Tanpa berucap, Natali membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Vano. Vano terkejut karna Natali meninggalkannya begitu saja. Vano mengejar Natali dan menahan tangan Natali agar tidak pergi.


"Jangan pergi." pinta Vano.


Natali berusaha melepas cekalan tangan Vano. Jika Natali berusaha melepaskan tangannya, maka Vano berusaha mempertahankan tangannya yang memegang tangan Natali.


"Van,, aku udah minta maaf kan. Maafin aku." ucap Vano.


Dengan sekali hentakan, Natali berhasil melepaskan tangan Vano darinya. Tanpa berucap, lagi-lagi Natali berbalik dan lergi meninggakan Vano.


"Vanya, lo harus inget itu gue suami lo. Dan lo istri gue. Lo harus dengerin apa kata suami lo." teriak Vano. Sejak awal Vano sudah berusaha berbicara lemah lembut pada Natali. Namun karna Natali tidak memberikan respon positif, Vano menjadi kesal dan marah.


Natali menghentikan langkahnya. Natali kembali berbalik pada Vano.


"Vanya? Istri? Suami? Hubungan apa itu?" tanya Natali bersuara. Natali menatap mata Vano dengan intens. "Orang yang kau panggil Vanya itu sudah mat1. Yang ada hanya Natali."


"Enggak! Lo Vanya, istri gue. Bukan Natali." bantah Vano.


"Istri? Aku bukan istrimu. Aku istri Zain."


"Gak! Lo istri gue." keukeuh Vano.


"Cukup Vano!" tegas Natali. "Mau apa kau ke sini? Apa tujuanmu ke sini?"


"Gue mau jemput lo. Gue kangen sama lo Van."


"Jemput? Memang kau siapa?"


"Gue suami lo"


"Berhenti bilang kanu suami aku. Aku hanya mempunyai satu suami. Yaitu Zain."


"Berhenti bilang kamu suami aku. Anak yang mana? Aku gak punya anak dari kamu."


" Sekarang lo lagi hamil anak gue kan?"


"Ini anak Zain. Anak kami, buah cinta kami."


"Kenapa lo tega sama gue? Lo biarin orang lain jadi ayah dari anak gue?"


"Ayah kandung dari anak ini adalah Zain. Bukan kamu, Vano." tegas Natali.


"Van, lo pasti masih syok, karna gue tiba-tiba dateng. Kita bicara di rumah yuk." bujuk Vano .


"Rumah apa yang kau maksud? Aku tidak ingin berbasa-basi lagi. Kenapa kamu ke sinj? Buat apa kamu ke sini?"


"Gue mau jemput lo. Gue salah, gue minta maaf. Gue cinta sama lo. Gue terlambat sadar kalo lo itu berarti dalam hidup gue."


"Tapi sayangnya, kamu gak berarti bagi hidup aku. Kau dan keluargamu, tidak pernah menganggapku sebagai keluarga. Kalian hanya bersimpati padaku. Kalian hanya merasa kasihan padaku."


"Gak Van. Mama sama papa sayang sama lo. Kita keluarga lo"


"Yang namanya keluarga itu saling percaya. Kalian gak punya rasa itu. Saat aku mengatakan aku mengandung anakmu, mereka tidak percaya. Mereka lebih percaya pada kebohonganmu."


"Maafin keluarga gue Van. Mereka sayang sama lo. Mereka mau lo kembali."


"Mereka bukan mau aku kembali. Tapu mereka mau cucu mereka. Itukan yang kamu dan orang tua kamu kau?"


Vano tidak bisa menjawab ucapan Vanya.


"Aku kasih tau sekali lagi. Aku tidak mengandunh anakmu. Aku mengandung anak suamiku, Zain. Jadi aku minta kamu pergi dan jangan kembali ke sini. Aku tidak pernah membenci keluargamu. Aku hanya kecewa pada mereka. Tapi aku sangat membencimu. Kebencianku tidak akan bisa hilang begitu saja. Meskipun begitu, aku tetap memaafkan kalian."


"Van, beri aku kesempatan kedua."


"Kesempatanmu sudah habis. Aku tidak punya stok kesempatan lagi untukmu."


"Van, aku mohon." Vano berlutut di depan Natali.


"Sebaiknya kau segera pergi. Jika tidak, suamiku akan menghukummu."


Vano menagis dalam diam.


Natali membalikkan tubuhnya dan berjakan pergi. Dia melihat Zain yang sudah berdiri di belakangnya. Natali tersenyum pada Zain. Zain membalas senyuman Natali.


Natali memeluk Zain. Zain membalas pelukan Natali.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu" ucap Natali.


"Aku lebih mencintaimu sayang." balas Zain.