
"Nyonya? Apa dia nyonyamu?" tanya pembajak 3.
"Ya. Dia nyonyaku. Jangan berani menyentuhnya sedikit pun" balas Sam.
"memangnya kenapa kalo aku menyentuhnya? Apa ada yang akan marah?"
"Kau akan merasakan kemarahan tuanku"
"Ahahah,, aku tidak takut pada tuanmu itu. Lagipula dia tidak akan bisa masuk ke sini. Semua pintu sudah kami kunci. Semua orang sudah dikumpulkan di sini. Termasuk 2 pilot bod0h pesawat ini. Tuanmu tidak akan bisa masuk ke sini. Kecuali tuanmu itu meledakan pesawat ini. Ahahah.."
Para pembajak itu tertawa dengan keras.
"Lepaskan aku.." Natali memberontak.
"Diam"
Natali berusaha melepaskan cekalan tangan pembajak itu. Namun tenaganya tidak kuat.
"Lepaskan.."
"Diam kau j4lan9!" bent4k pembajak itu.
"Kau.." mata Natali menajam. "Lihat saja. Suamiku akan membuat tanganmu terpisah dari badanmu. Mulutmu akan dirobek hingga kau tidak bisa lagi mengatakan sepatah kata pun dari mulut bvsukmu itu" ucap Natali dengan tegas.
Pembajak itu terdiam. Seketika perkataan Natali terdengar seperti sedang mengutuknya.
"Kau sedang mengutukku? Heheh,, lihat apa yang akanku lakukan padamu. Apa suamimu akan menerimamu kembali, setelah kau bergulat tubuh denganku?" pembajak itu tersenyum smrik.
Natali membulakan matanya.
Plak..
Natali men4mpar wajah pria itu dengan sebelah tangannya.
"Cuih.." lalu Natali melud4hi wajah pembajak itu.
"Jangan harap kau bisa melakukan itu" ucap Natali.
"Kau.." pembajak itu menggeram menahan amarah yang mulai tidak tertahan.
Semua orang hanya bisa terdiam. Mereka salut pada Natali karna berani melawan para pembajak itu.
"Kenapa kalian malah diam saja? Cepat pegangi dia. Aku akan menunjukkan kemarahanku padanya"
"Baik bos"
2 orang pembajak lain mendekat dan memegang kedua tangan Natali.
"Mau apa kalian! Lepaskan!" Natali terus berusaha memberontak.
"Hei, aku bilang lepaskan tanganmu dari nyonyaku" tekan Sam.
"Heh,, habisi dia"
4 orang maju untuk berkel4hi dengan Sam. Sam dengan siap maju dan berkel4hi. satu per satu para pembajak itu dilumpuhkan oleh Sam.
Sam sibuk dengan perkel4hian. Sedangkan Natali sedang dalam bahaya. Pembajak yang Natali tampar sudah siap untuk melampiaskan kemarahannya.
"Kau sudah berani menamparku dan meludah1ku. Nyalimu besar sekali wanita j4lang"
Pembajak itu memegang wajah cantik Natali.
"Tapi jika dilihat-lihat, kau cantik juga. Aku semakin tergoda olehmu"
"Cuih.." untuk kedua kalinya Natali melud4hi pembajak itu.
"Kau.."
Plak..
Pembajak itu men4mpar wajah Natali dengan sangat keras hingga sudut bibir Natali berdarah.
Para penumpang lain tidak ada yang berani maju dan menolong Natali. Mereka terlalu takut pada kelompok pembajak itu.
"Dengar, kemarahanku sudah melebihi batasnya. Aku tak akan ragu untuk menyakitimu"
Tangan pembajak itu terulur ke arah leher Natali. Dia berniat membuka kancing baju Natali.
"Jauhkan tanganmu dariku. Lepaskan aku.." ucap Natali.
"Sam,, tolong aku.." teriak Natali.
Sam geram karna para pembajak yang dilawannya tidak kunjung menyerah. Akhirnya Sam mengeluarkan belati dan menu5uk satu per satu perampok itu.
Setelah selesai, Sam menerjang pembajak itu hingga akhirnya pembajak itu jatuh tersungkur.
"Bos.."
Pembajak lain melepaskan Natali dan membantuk bos yang barus saja tersungkur.
"Sudah ku bilang jangan sentuh nyonyaku. Kau akan menerima akibatnya" ujar Sam.
Natali membenarkan 2 buah kancing baju yang terlepas.
Di sisi Zain.
Zain sudah sampai di bandara. Leo sudah menunggu Zain. Zain dan Leo berjalan cepat menuju pesawat yang ditumpangi Natali.
"Pesawatnya masih di sini?" tanya Zain.
"Ya tuan" jawab Leo.
"Bagus"
"Tapi tuan, ada masalah lain"
"Masalah apa?"
"Sekarang terjadi pembajakan pesawat di pesawat yang nyonya Natali tumpangi"
Zain menghentikan langkahnya.
"Apa kau bilang? Pembajakan pesawat?"
"Iya tuan. Mereka meminta 100.000 dollar"
"Bagaimana kondisi Natali?"
"Entahlah tuan. Sebelun pembajakan, aku mengirim satu anak buah untuk menyelinap masuk sebagai penumpang di pesawat itu"
"Bagus"
"Tapi tuan, anak buah itu mengirimkan sinyal bahaya. Sepertinya nyonya Natali sedang dalam bahaya"
Zain membuka matanya lebar. Seketika dia khawatir pada Natali. Dia takut Natali dan kandungannya kenapa-napa.
Zain dan Leo melanjutkan langkah mereka dengan tergesa-gesa.
"Saya sudah mengumpulkan anak buah lita tuan" ujar Leo.
"Sudah coba masuk ke dalam pesawat itu?"
"Belum tuan. Semua akses masuk dikunci dari dalam. Hanya ada satu cara agar kita bisa masuk"
"Lakukan itu"
"Baik tuan"
Kini di area pesawat sudah di hadang oleh 100 lebih anak buah Zain. Hanya ada anak buah Zain. Tidak ada aparat kepolisian atau pemerintah. Leo memang sengaja melakukan itu. Karna dia tau Zain bisa membereskannya sendiri tanpa campur tangan anggota polisi. Berita pembajakan pesawat pun dirahasiakan.
Di pintu masuk pesawat sudah dipasang alat peledak sederhana. Peledak itu hanya dipasang untuk membuka kunci dan merusak sistem keamanan saja.
Duar..
Ledakan terjadi.
Semua orang yang ada di dalam pesawat sangat terkejut. Sam tersenyum. Dia tau Zain pasti akan segera ke sini dan menyelamatkan Natali.
Zain, Leo dan anak buah yang lainnya masuk ke dalam pesawat.
Semua orang menatap Zain yang masuk dengan wajah dinginnya.
"Si-siapa kau?" tanya pembajak yang masih syok akibat ledakan kecil tadi.
Zain tidak menanggapi pertanyaan pembajak itu. Dia mencari sosok Natali. Akhinya dia mendapati Natali sedang berlindung di belakang Sam sambil menahan tangis. Zain melihat sudut wajah Natali berdarah. Zain segera berjalan menuju Natali. Zain melihat raut ketakutan dari Natali.
Natali langsung menghambur kepelukan Zain. Natali dengan erat.
"Huwah,, hiks,, hiks.." Natali menangis kencang dipelukan Zain.
"Kau jahat,, kau jahat sekali padaku,, hiks,, hiks.." Natali meluapkan kekesalannya sambil memvkvl dada bidang Zain.
Zain hanya bisa diam dan menerima saja. Dia mengelus punggung Natali guna memberi ketenangan pada Natali.