VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Memarahi



Vanya masuk ke dalam rumah Vano. Vanya melihat Julia dan Bram sedang berada di ruang keluarga.


"Tante.." ujar Vanya menghampiri Julia.


Julia dan Bram menoleh pada Vanya.


"Vanya.." Julia merentangkan tangannya meminta dipeluk oleh Vanya.


Vanya pun memeluk Julia dengan tulus.


"Tan,, yang sabar ya"


"Iya Van. Makasih ya kamu udah ke sini" balas Julia melepaskan pelukannya.


"Om yakin, pasti ada orang yang segaja ngebakar gudang kita" ujar Bram.


"Tapi om, kata polisi penyebabnya karna kosleting listik"


"Itu hanya dugaan saja Van. Penyebab sebenarnya masih belum diketahui" sangkal Bram.


"Vano sama Dion di mana tante?" tanya Vanya.


"Mereka lagi ngurusin kasus ini" jawab Julia.


Vanya menganggukkan kepalanya.


Tiba-tiba Bram bangkit dari duduknya.


"Aku tidak bisa hanya diam saja" ujar Bram.


"Pah,, papa mau ke mana?" tanya Julia.


"Papa mau ke tempat Vano dan Dion. Mereka pasti ada di gudang"


"Jangan pah,, mereka akan mengurus semuanya. Mereka akan baik-baik saja" cegah Julia.


"Tapi mah,, papa gak bisa diem aja"


"Pah,, kalo papa ke sana nanti papa kecapean. Dokter bilang papa gak boleh kecapean" tutur Julia.


Bram terdiam.


"Bagaimana kalo Vanya saja yang ke sana. Bisakan Van?" usul Bram.


"Kamu maukan, bantu Vano nyelidiki kasus ini?" timpal Julia.


Julia dan Bram menatap Vanya dengan penuh damba. Vanya tidak kuasa jika harus menolak permintaan Julia dan Bram.


"Ya, biar Vanya aja yang ke sana" setuju Vanya.


Julia dan Bram tersenyum senang.


"Kamu dianterin supir om ya" ucap Bram.


"Iya om" balas Vanya.


Vanya pun berpamian kemudian dia pergi ke luar rumah. Mobil Bram sudah siap untuk mengantar Vanya. Saat Vanya hendak menaiki mobil, tiba-tiba sejumlah wartawan menghentikan Vanya. Para wartawan itu bisa masuk karna pagar rumah Bram dibuka.


"Hallo kak Vanya,, gimana kabarnya kak?"


"Boleh minta waktunya sebentar gak.."


"Kak, bagaimana tanggapan anda mengenai hal ini?"


"Apakah benar ada seseorang yang membakar gudang itu?"


"Apa keluarga Bazla memiliki musuh?"


"Apa hubungan kak Vanya dengan tuan Vano? Apa kak Vanya pacarnya tuan Vano?"


Banyak wartawan yang bertanya pada Vanya. Tapi pertanyaan tentang hubungannya dengan Vano membuat dia geram. Entah kenapa, hatinya merasa sakit mendengar nama Vano.


"Maaf ya kakak-kakak semua,, kami dan polisi masih menyelidiki kasus ini. Kita tunggu hasilnya saja ya. Dan untuk pertanyaan apa hubungan saya dengan Vano, saya bukan pacarnya. kami hanya sebatas sahabat saja. Tidak lebih dari itu" jawab Vanya.


Setelah mengatakan itu, Vanya menerobos dari kerumunan dan masuk ke dalam mobil.


"Baik non"


Mobil melaju meninggalkan kediaman Bazla. 20 menit kemudian, Vanya sudah sampai di gudang. Dia melihat ada Vano, Dion dan para polisi yang menyelidiki TKP.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Vanya yang baru bergabung.


Vano menatap Vanya. Namun Vanya tidak menatapnya. Vanya malah menatap Dion.


"Van, lo di sini?" tanya Dion.


"Iya. Gue disuruh sama tante julia sama om Bram" jawab Vanya.


"Oh.."


"Gimana hasilnya?" Vanya mengulangi pertanyaannya.


"Penyebabnya karna kosleting listrik" jawab Dion.


"Hm,, baiklah. Tapi gak ada korban jiwakan?"


"Gak ada. Gudang ini terbakar waktu gak ada orang di dalamnya. Dan security yang berjagapun selamat"


"Huh,, syukurlah.." ujar Vanya.


"Van, makasih ya lo udah mau datang ke sini" ucap Vano menghampiri Vanya yang sedang bersama Dion.


"Ya, sama-sama" jawab Vanya seadanya.


"Kak, sebaiknya kita ke perusahaan lo sekarang. Kita gak boleh diem aja cuma karna gudang kebakar. Kita harus cari jalan keluar, supaya produksi perusahaan lo gak terhenti" usul Dion.


"Ya, lo bener" setuju Vano.


"Van, lo ikut ya ke perusahaan" pintaa Vano.


Vanya menganggukkan kepalanya.


Saat mereka hendak pergi, tiba-tiba Helen datang.


"Sayang.." sapa Helen pada Vano.


"Hai.." balas Vano.


Vanya dan Dion menatap jengah pada Helen. Sebenarnya Dion tidak suka pada Helen. Tapi apalah daya jika kakaknya mencintai Helen. Dia tidak bisa mencampuri urusan percintaan Vano.


"Sayang,, aku mau shopping dong.." pinta Helen menggelayut manja.


Vanya dan Dion membelalakan matanya saat mendengar permintaan Helen. Di saat seperti ini, Helen malah minta shopping? G*la, orang baru kena musibah, ditambahin lagi musibah.


"Nanti aja ya,, kamu gak liat aku lagi sibuk?" tolak Vano.


"Em,, aku maunya sekarang. Aku mau tas yang dipakai artis luar negri. Tas itu anlimited edition sayang,, aku gak mau sampai keduluan sama orang lain" rengek Helen.


"Nanti ya,, aku harus selesai-in urusan dulu" tolak Vano.


"Ah,, tapi aku maunya sekarang" rengek Helen menjadi jadi.


Vanya geram pada Vano yang tidak bisa menolak Helen secara tegas. Akhirnya Vanya harus turun tangan.


Vanya berjalan pada Helen dan menariknya menjauh dari Vano.


"Ih,, apaan sih!" protes Helen.


"Heh, lo waras gak sih? Sekarang Vano lagi kena musibah. Gudang perusahaannya abis kebakar"


"Iya, gue tau kok" balas Helen.


"Itu lo tau. Harus lo bisa mikir tolol,, Vano kehilangan 5 M. Kalo gudang itu gak kebakar, dari gudang itu bisa hasilin 10 M dalam sehari. Dan lo mau shopping? Di mana otak lo Helen,, lo itu jadi cewek matre banget sih. Kalo Vano beliin lo tas yang dipake artis luar negri itu seharga 1 M, mending uang itu dipake buat benerin gudang yang kebakar. Enak aja lo minta shopping pas Vano abis rugi. Mikir pake otak lo. Bukan pake mata kaki"


Vanya memarahi Helen di depan semua orang. Vanya terlalu geram pada Helen.


Helen sangat malu dimarahi oleh Vanya di depan umum. Dia merada marah pada Vanya yang sudah berani mempermalukannya.