VANYA'S LOVE CHOICE

VANYA'S LOVE CHOICE
Membujuk



"Ada apa bi" Zain berbicara dengan bi Lusi.


"Tuan, cepat ke sini" ucap bi Lusi yang terdengar panik.


"Apa apa bi? Kenapa kau terdengar sangat panik"


"Tuan, cepat ke sini"


"Iya kenapa?"


"Nyonya Natali tuan"


"Natali kenapa bi?"


"Nyonya Natali ingin segera kau ke sini. Jika tida.."


"Jika tidak apa?"


"Jika tidak dia akan memotong tangannya sendiri menggunakan gunting rumput"


Zain terdiam.


"Apa! Hentikan dia bi"


"Bibi sudah berusaha menghentikannya tuan. Tapi nona Natali tidak mau mendengarkan"


"Nyalakan pengeras suaranya"


"Baik tuan"


Bi Lusi menyalakan pengeras suara.


"Natali apa yang kau lakukan? Cepat singkirkan gunting itu " panggil Zain.


"Aku tidak akan menyingkirkan gunting ini"


"Nat ada apa denganmu?"


"Kau yang ada apa Zain. Cepat ke sini atau kau akan melihat jasadku"


"..." Zain terdiam. Dia tidak mau meninggalkan Rose dan menghentikan penghakimannya.


"Zain.." panggil Natali dengan berteriak.


"Baiklah. Aku akan ke sana" ucap Zain.


Panggilan pun berakhir.


Zain terpaksa mematuhi ucapan Natali.


"Ck,, kenapa harus begini" decak Zain.


Zain pergi dari ruang bawah dan menuju pada Natali.


"Natali.." panggil Zain.


Natali dan bi Lusi melihat ke arah Zain.


"Natali taruh gunting itu" ucap Zain.


"Di mana Rose?" tanya Natali.


"Taruh gunting itu"


"Di mana Rose?"


"Rose ada. Dia masih di ruang bawah"


"Keluarkan dia"


"Nat,, kamu ini kenapa?"


"Keluarkan dia Zain.." tekan Natali.


"Baiklah. Paman James, keluarkan wanita itu" titah Zain.


"Baik tuan Zain" patuh James.


"Sekarang taruh gunting itu ke bawah" ucap Zain.


Natali menaruh gunting itu. Setelah gunting itu turun dari tangan Natali, Zain segera menggambil gunting itu dan melemparkannya sejauh mungkin. Zain bergegas melihat kondisi Natali.


"Sayang,, kamu gak papa kan?" tanya Zain khawatir.


Zain melihat pergelangan tangan Natali. Dia takut Natali akan terluka. Natali langsung memeluk Zain. Zain bingung kenapa Natali bersikap seperti ini.


"Aku mohon,, jangan lakukan itu Zain. Hiks.." pinta Natali dengan menangis.


"Jangan sakiti Rose Zain.." ucap Natali.


"Ck,, kenapa kau meminta itu? Dia pantas disakiti. Dia sudah sangat keterlaluan padamu"


"Aku tau,, tapi dia sedang hamil anakmu Zain.."


"Bisa saja itu bukan anakku"


"Tapi bagaimana jika benar dia anakmu? Bagaimana jika dia keguguran? Kau akan menjadi seorang pria yang memb*nuh anakmu sendiri yang belum lahir"


"Aku tidak perduli dengan itu"


"Tapi aku perduli"


Zain memijit pelipisnya.


"Natali.." panggil Harry yang baru datang.


Zain dan Natali melihat ke arah Harry.


"Ada apa ini? Kenapa kau memasukan Rose ke ruang bawah?" tanya Harry.


"Harry, bagaimana kau bisa ke sini?" tanya Zain.


"Natali yang memanggilku" jawab Harry sambil mengatur nafasnya.


"Aku memanggil Harry karna bingung harus meminta bantuan siapa. Aku tidak tau letak ruang bawah di mana. Aku pikir Harry pasti tau"


Zain pergi dari sana. Dia pergi menuju kamar. Zain pergi bukan marah karna Natali memanggil Harry. Tapi dia marah karna Natali melarangnya menghukum orang yang sudah kurang ajar padanya.


"Zain.." panggil Natali. Zain tidak mendengarkan Natali.


"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Zain sangat marah?" tanya Harry yang masih bingung.


"Aku akan menjelaskan semuanya. Tapi sebelum itu kau harus memeriksa kondisi Rose. Dia terluka. Aku akan membujuk dan menenangkan Zain" balas Natali.


"Baiklah" setuju Natali.


Natali masuk ke kamar untuk menemui Zain.


Tok.. tok.. tok..


Natali mengetuk pintu kamar.


"Zain.." panggil Natali masuk ke dalam kamar.


Natali melihat Zain sedang berada di balkon. Natali menghampiri Zain dan memeluknya dari belakang.


"Zain.." lirih Natali.


"Kenapa Nat? Kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa kamu melarangku?" tanya Zain dengan nada rendah.


Natali membalikkan tubuh Zain.


"Zain dengar. Aku tau kamu marah pada Rose. Tapi kamu harus tahan amarah kamu Zain. Rose sedang mengandung anakmu" jelas Natali.


"Aku mohon Nat, jangan bawa-bawa anak. Belum tentu anak yang dikandungnya adalah anakku" balas Zain.


"Iya aku juga tau itu. Tapi kau bilang Rose adalah anak buah Owen kan?"


Zain menganggukkan kepalanya.


"Kita juha tidak tau apakah Rose masih menjadi anak buahnya atau tidak. Bisa sana dia masih menjadi anak buah Owen. Jika dia di sini, mungkin kau akan bisa menemukan Owen" bujuk Natali.


Zain terdiam. Perkataan Natali ada benarnya juga.


"Bagaimana jika dia tidak mengandung anakku? Dan bagaimana jika dia masih anak buah Owen?" tanya Zain.


"Aku tidak akan melarangmu melakukan apa pun pada Rose" jawab Natali.


"Apa kau serius?"


"Ya. Aku serius" jawab Natali.


"Baiklah. Untuk saat ini aku tidak akan menyakitinya. Tapi jika dia bersikap kurang ajar lagi padamu, aku tidak akan tinggal diam"


"Iya, baik" balas Natali.


Natali memeluk Zain dengan erat. Zain membalas pelukan Zain.


Jangan lupa tinggalkan jejak


Terus dukung author